Minggu, 19 Februari 2017

0 YANG BERLALU BIAR BERLALU



            Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan indakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
            Bagi orang yang berfikir, berkas-berkasa masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan didalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
            Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau dibawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya. Keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya. Adalah kondisi yang sangat naïf, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.
            Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengencurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Quran, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan. “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan taka da gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.
            Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.
            Syahdan, dan nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian:”janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari dari kuburnya.” Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, “Mengapa engkau tidak menarik gerobak?”
            “Aku benci khayalan ,” Jawab keledai.
            Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk . padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.
            Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berembus ke depan, air akan mengelir ke depan. Maka itu, jangan pernah melawan sunah kehidupan!.
Dikutip Dari : La Tahzan  (Jangan Bersedih) Karya Fenomenal DR. 'Aidh al_Qarni

0 Comments

Bagaimana Pendapat Anda ?