Minggu, 29 Juni 2014

1 Peristiwa Situjuah

Sejarah PDRI Yang Terlupakan

KRONOLOGIS SEJARAH PDRI (19 DESEMBER 1948 – 13 JULI 1949)


peristiwa situjuah adalah Rangkaian Perjuangan PDRI yang dicabik-cabik oleh Belanda”

19 Desember 1948
Yogyakarta dan Bukittinggi diserang oleh Belanda, secara serentak Kabinet Hatta mengeluarkan dua surat mandat tentang pembentukan Pemerintah Darurat untuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi dan Mr. A.A. Maramis di New Delhi. Pada saat yang sama Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengadakan rapat darurat dengan para pemimpin di Bukittinggi dan mengumumkan secara terbatas tentang pembentukan PDRI.

20 Desember 1948
Rapat-rapat dilakukan di Bukittinggi, sementara arus pengungsi keluar kota mulai terjadi. Kepala Staf AURI Komodor H. Soejono memerintahkan penyelamatan dua Stasiun Radio PHB AURI dengan membawanya ke Halaban (Payakumbuh Selatan) dan Piobang, Stasiun Radio tersebut adalah :
a. Stasiun Radio di bawah Opsir Udara III Luhukay.
b. Stasiun Radio di bawah Opsir Udara III M.S. Tamimi.

21 Desember 1948

Rombongan pemerintah sipil, termasuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Teuku Hasan meninggalkan Bukittinggi untuk seterusnya mengungsi ke Halaban. Kepala Kepolisian Sumatera Barat , Komisaris Sulaiman Efendi dan sejumlah pemimpin menyingkir ke Lubuk Sikaping, Pasaman. Stasiun Radio AURI pimpinan Lahukay tiba Halaban, tetapi tidak sempat mengudara, karena dibumihanguskan di Halaban. Stasiun Radio Pemancar pimpinan M. Jacob Loebis sampai di Piobang, Payakumbuh untuk seterusnya dibawa ke Koto Tinggi, tengah malam Kota Bukittinggi dibumihanguskan.


22 Desembar 1948

Pembentukan Kabinet PDRI di Halaban. Stasiun Radio PHB AURI Pimpinan Tamimi diserahkan oleh Komondor H. Soejono Kepala PDRI (Sjafruddin Prawiranegara) untuk melayani komunikasi radio Mr. Sjafruddin Prawiranegara beserta rombongannya. Stasiun Radio itu ikut serta bergerilya hingga ke tempat pengungsian di Bidar Alam.

23 Desembar 1948

Stasiun Radio Tamimi di Halaban untuk pertama kali dapat berhubungan dengan Stasiun Radio AURI yang lain, baik yang berada di Jawa maupun di Sumatera (Ranau, Jambi, Siborong-Borong dan Kotaraja). Sjafruddin Prawiranegara merasa gembira menerima laporan tes kemampuan Stasiun Radio PDRI, dan memngumumkan berdirinya PDRI.

24 Desembar 1948

Menjelang Subuh, rombongan PDRI di bawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Halaban menuju Pekan Baru, melalui Lubuk Bangku dan Bakinang. Stasiun Radio Tamimi dengan semua peralatan pengirim dan penerima ditempatkan pada sebuah Jip, mengikuti rombongan PDRI Awak (Crew) Stasiun Radio tersebut adalah :

1. Opsir Udara M.S. Tamimi sebagai Kepala
2. Sersan Mayor Udara Kusnadi. sebagai Teknisi merangkap Teloegrafis
3. Sersan Mayor Udara R. Oedojo, Telegrafis
4. Kopral Udara Zainal Abidin,Telegrafis Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.
5. Letnan Muda Udara III Umar Said Noor, Bagian Sandi
Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.

Stasiun Radio Tamimi mengunakan kode pangil (Call Sign) “UDO” singkatan dari Oedojo. Sering dipakai juga Call Sign “KND” atau “ZAY” singkatan dari Kusnadi dan Zainal Abidin. Type sender yang digunakan ialah MK III 19 Set.

24 - 26 Desembar 1948

Rombongan Rasjid tiba di Koto Tinggi, dilengkapi dengan beberapa set perlengkapan Stasiun Radio :

a.Stasiun Radio AURI yang melayani Gubernur Sumatera Barat/Tengah di Koto Tinggi adalah Stasiun Radio ZZ di bawah pimpinan Opsir Muda Udara I M. Jacob dengan ahli telegaf antara lain Zainul Aziz, Soesatyo, Soegianto, Soeryo.

b.Stasiun Radio AURI yang bertugas mulai 22 Desember 1948 sampai 11 November 1948 mengikuti Gubernur Sumatera Barat/Tengah Mr. Rasjid dengan type sender : TCS-10

c.Stasiun Radio yang berpindah-pindah tempat, mulai dari Desa Koto Tinggi, Puar Datar (di sini hampir saja Stasiun Radio ini diketahui olah Belanda yang menyerbu Puar Datar, tetapi berkat kesiagaan dan kegesitan para awak pihak Belanda dapat dikelabui), Sungai Dadok sampai Mudik Dadok. Sebelum memasuki Kota via Piobang, pada tanggal 11 November 1948, Stasiun Radio ini beroperasi di Sungai Rimbang, Stasiun Radio AURI ini mampu berhubungan pula dengan Jawa dan Luar Negeri (India).

d.Stasiun Radio AURI yang melayani Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Koto Tinggi, antara 19 Juni 1949 dan 8 Juli 1949, berakhir saat tokoh ini berangkat ke Yogyakarta.

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berada di Bangkinang. Sewaktu rombongan berada di Bangkinang. Belanda yang mengunakan pesawat-pesawat P-51 menyerang dengan bom.
Stasiun Radio mengirim berita ke Pangkalan Udara Jambi, menyampaikan permintaan PDRI agar pesawat RI 005 PBY (AU) diterbangkan kesalah satu sungai di Riau, ternyata kemudian pada tanggal 29 Desember 1948 ketika Belanda menyerbu Kota Jambi, pesawat yang dimaksud tenggelam di Sungai Batang Hari saat berusaha lepas landas.

27 - 28 Desembar 1948

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara segera meninggalkan Bangkinang, menuju Tarakan Buluh dan menyeberangi Sungai Kampar untuk meneruskan perjalanan ke Teluk Kuantan. Beberapa sadan ditinggalkan dan ditenggelamkan ke dalam sungai. Setelah melewati beberapa kampong antara lain Lipat Kain dan Muara Lembu, Jip berisi peralatan Sender terbalik, masuk kubangan lumpur beserta seluruh penumpangnya. Penumpang Jip itu adalah

Sjafruddin Prawiranegara, Tumimi (yang bertindak sebagai sopir), Oedojo dan Kusnadi. Sjafruddin Prawiranegara kehilangan kacamatanya, untunglah jip beserta peralatan pengirim tidak mengalami kerusakan, meskipun memerlukan waktu sehari semalam untuk dibersihkan dan dikeringkan. Sedangkan Sjafruddin Prawiranegaraberuntung mendapatkan kacamata “baru” dari seorang Dokter yang bertugas di wilayahn itu.

29 Desembar 1948

Perjalanan diteruskan ke Teluk Kuantan, ditepi Sungai Kuantan mereka menginap. Sementara itu Panglima Kol. Hidayat singah di Koto Tinggi dalam perjalanan cross-country dari Selatan ke Utara Sumatera, hingga ke Aceh. Hidayat mengadakan rapat dengtan Gubernur Rasjid dan mengambil keputusan merombak Pemerintahan Sipil menjadi Pemerintahan Militer. Semua pejabat Gubernur Sipil dan segenap jajarannya dimiliterkan dan semua Wakil Gubernur diangkat dari Tokoh Militer.

30 - 31 Desembar 1948

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dari Taluk ke Sungai Dareh, semua kendaraan di tinggalkan di Taluk. Pada suatu tempat tertentu antara Taluk dan Sungai Dareh peralatan Sender diangkut melalui hutan dengan Lori bekas Jepang. Penumpang Lori hanya dua orang yaitu : Ir. Indra Tjahja sebagai masinis dan Oedojo (Telegrafis) sebagai penjaga peralatan Sender.

1 Januari 1949

Tahun Baru rombongan menginap selama tiga hari di Sungai Dareh, beristirahat dan merayakan tahun baru. Stasiun Radio sempat mengirimkan Ucapan Selamat tahun Baru kepada seluruh Stasiun Radio AURI di Jawa dan Sumatera yang melayani Pemerintahan Sipilo dan Militer.

3 Januari 1949

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berangkat dari Sungai Dareh ke Bidar Alam via Aabi Siat dan Abai Sangir. Rombongan dibagi menjadi tiga : (1) Rombongan Induk dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara, menempuh jalur Sungai Batang Hari dengan mempergunakan sampan yang digerakan dengan dayung dan galah dari bamboo. (2) Rombongan Keuangan dipimpin oleh Mr. Loekman Hakim (Menteri Keuangan PDRI) menuju Muara Tebo dengan naik perahu bermotor, membawa klise oeang RI Poeloe Sumatera (ORIPS) untuk dicetak di Muaro Bungo. (3) Rombongan Satsiun Radio dipimpin oleh Wakil PDRI Mr. Teuku Hasan, mengambil jalan darat karena takut tenggelam, dengan berjalan kaki menuju Abai (setelah berpisah kurang lebih 2 minggu mereka bertemu kembali di Bidar Alam).

(Keterangan mengenai ORIPS : Mesin Cetak Uang RI Muaro Bungo dirakit oleh anggota-anggota AURI dari Jambi, yang dipimpin Opsir Udara III Soejono, dari bekas mesin cetak biasa. Hasil cetakan ORIPS itu diserahkan kepada Mr. Loekman Hakim, Menteri Keuangan PDRI dan dibagi-bagikan kepada pemerintah setempat di Muaro Bungo).

4 - 5 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio tiba di Abai Siat dan bersiap-siap menuju Abai Sangir (“From Abai to Abai”). Beberapa peralatan sender yang tidak begitu penting terpaksa ditinggalkan ditengah perjalanan kerena medan yang ditempuh sangat berat.

7 – 9 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio beristirahat selama kurang lebih satu minggu di Abai Sangir. Ketika rombongan stasiun radio berada di Sangir, rombongan keuangan yang dipimpin Mr. Loekman Hakim sudah tiba di Muara Tebo dan siap-siap melanjutkan ke Bidar Alam. Selama di Abai Sangir, stasiun radio tetap mengudara.

10 Januari 1949

Belanda menyerang Koto Tinggi dari basisnya di Payakumbuh.

15 Januari 1949

Tragedi Situjuh Batur. Rapat Besar Pimpinan Sumatera Barat di Situjuh Batur digrebek Patroli Belanda. Banyak Korban jatuh termasuk beberapa Tokoh Paling Terkemuka di Sumatera Barat (antara lain Ketua MPRD, Chatib Soelaiman) dan Puluhan Prajurit dan BNPK di Nagari itu. Antara lain yang dimakamkan di Situjuh Batur yaitu :
1 CH. SULAIMAN MPRD
2 ARISUN ST. ALAMSYAH BUPATI
3 MUNIR LATIF LETKOL
4 ZAINUDDIN MAYOR
5 TANTAWI KAPTEN
6 AZINAR LAETNA I
7 SYAMSUL BAHRI LETNAN II
8 RUSLI SOPIR
9 SYAMSUDIN PMT

Yang dimakamkan di Situjuh Banda Dalam adalah :
1 M. ZEIN BPNK
2 RAMLI BPNK
3 SYAMSUL KAMAL BPNK
4 KAMASYHUR BPNK
5 NAKUMAN BPNK
6 MANGKUTO BPNK
7 AHMAD BPNK
8 RAJIMAN BPNK

Yang dimakamkan di Situjuh Gadang adalah :
1 RAUDANI LETDA
2 ABDUDIS LETDA
3 AGUS YATIM LETTU
4 AZIS JUNAID LETTU
5 ABAS HASAN SERMA
6 DARUHAN SERMA
7 RASYID SIRIN KOPTU
8 Y. MALIKI BPNK
9 HASAN BASRI BPNK
10 BURHAN BPNK
11 ALI AMRAN BPNK
12 SYAFWANEFF BPNK
13 A. MALIK BPNK

16 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio beserta Mr. Teuku Hasan tiba di Bidar Alam, rombongan Sjafruddin Prawiranegara sudah tiba disana terlebih dahulu. Sekitar minggu terakhir Januari 1949, seluruh rombongan secara lengkap sudah berada di Bidar Alam.

17 Januari 1949

Stasiun Radio PDRI berhasil melakukan kontak dengan New Delhi.

21 Januari 1949

Sjafruddin Prawiranegara mengirimkan ucapan selamat kepada Nehru dan peserta Konferensi New Delhi tentang Indonesia.

22 Januari 1949

Konferensi New Delhi yang dihadiri oleh 19 Delegasi Negara Asia, termasuk Delegasi Peninjau, mengeluarkan Resolusi (Resolusi New Delhi), yang berisi protes terhadap agresi Militer Belanda dan menuntut pengembalian Tawanan Politik (Soekarno-Hatta) dan semua pemimpin Republik ke Yogyakarta.

23 Januari 1949

Mr. Rasjid dari Koto Tinggi, mengirimkan ucapan selamat atas keberhasilan Konferensi New Delhi.

28 Januari 1949

DK-PBB mengeluarkan resolusi tentang masalah Indonesia.

29 Januari 1949

Hubungan PDRI dengan para pemimpin di Jawa mulai dapat dibuka lewat telegram Kol. T.B. Simatupang, Wakil Kepala Staf APRI, yang melaporkan perkembangan di Jawa kepada PDRI Pusat di Sumatera. Laporan ini kemudian pada 12 Februari 1949 disusul dengan laporan Kol. A.H. Nasution kepada Ketua PDRI.

7 Februari 1949

Menteri Kasimo, atas nama KPPD melaporkan perkembangan terakhir di Jawa sebagai tanggapan atas telegram Ketua PDRI, 15 Januari 1949.

8 – 30 Februari 1949

Komunikasi antar Tokoh PDRI di Sumatera dan Jawa dapat diintensifkan sehingga kepemimpinan dan strategi perjuangan menghadapi kekuatan militer Belanda semakin Terkonsolidasi.
Prakrasa perundingan yang disponsori oleh Badan PBB, UNCI, antara para pemimpin yang ditawan di Bangka dengan para petinggi Belanda di Jakrta di bawah pimpinan Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr. Beel.

28 Februari – Maret 1949

Serangan balik ke Ibu Kota berdasarkan gagasan cemerlang penguasa tertinggi Republik di Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono. Serangan itu dilaksanakan oleh para prajurit yang bermarkas di sekitar Yogya, dipimpin oleh Letkol Soeharto.

2 – 29 Maret 1949

Kontak antara PDRI di Sumatera dan PDRI di Jawa.

3 Maret 1949

Stasiun Radio Dick Tamimi di Bidar Alam menerima radiogram dari Wonosari tentang serangan 1 Maret 1949 (“6 jam di Yogya”). Radiogram tersebut langsung dikirim keseluruh Satsiun Radio AURI di Sumatera, termasuk Koto Tinggi, Aceh. Kabar itu, oleh Stasiun Radio AURI di Koto Tinggi, dikirimkan pula ke Perwakilan RI di New Delhi melalui surat stasiun radio di India. Berita yang sama juga disebarkan oleh Stasiun Radio AURI di Aceh (belakangan diketahui bahwa stasiun radio AURI tersebut berada di Desa Tangse dan di Kota Kotaraja), yang ternyata mempunyai hubungan dengan Stasiun Radio Angkatan Darat Burma. Atas izin pemimpin AD Burma saat itu, Stasiun Radio Angkatan Darat Burma dapat dipergunakan oleh Opsir Muda Udara III Soemarno untuk berhubungan dengan Stasiun Radio AURI di Aceh. Soemarno, telegrafis, bersama Opsir Udara III Wiweko, penerbangan berada di Burma dalam rangka penerbangan RI Seulawah.

31 Maret 1949
Penyempurnaan Susunan Kabinet PDRI. Keanggotaan Kabinet diperlengkapi dengan para Menteri yang masih aktif di Jawa, termasuk Mr. Maramis, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, yang diangkat sebagai Menteri Luar Negeri PDRI berkedudukan di New Delhi.

1 April 1949
Panglima Besar Soedirman akhirnya memilih menetap di Desa Sobo, setelah mengungsi dan bergerilya sejak mundur dari Yogya, Subuh 19 Desember 1948 dia menetap di Desa itu hingga kembali ke Yogya 10 Juli 1949.

15 – 25 April 1949
Rombongan Sjafruddin Prawiranegara secara bertahap meninggalkan Bidar Alam menuju Sumpur Kudus, tempat musyawarah besar pimpinan PDRI akan diadakan.

4 Mei 1949
Rombongan Gubernur Militer Mr. Rasjid dari Koto Tinggi dan Mr. Moh. Nasroen, mantan Wakil Gubernur Sumatera Tengah yang diangkat sebagai Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera Tengah, tiba di Sumpur Kudus.

5 Mei 1949
Rombongan PDRI Sjafruddin Prawiranegara, secara lengkap tiba di Desa Calau, Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui desa-desa antara lain Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tapus, Durian Gadang, Menganti (menginap satu malam) dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.

7 Mei 1949
Pernyataan Roem-Royen di Jakarta, disusul dengan reaksi keras dari pihak oposisi, PDRI dan Panglima Besar Soedirman.

9 Mei 1949
Rombongan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Calau, menuju ke Sumpur Kudus. Setelah menempuh satu hari perjalanan, rombongan tiba disebuah dataran tinggi. Saat itu anggota rombongan dipecah tiga : Sjafruddin Prawiranegara ke Desa Silangit dan Silantai, Stasiun Radio Sjafruddin ke Desa Guguk Siaur dan rombongan Keuangan ke Desa Padang Aur dam desa-desa lain sekitarnya. Di Daerah Ampalu itu, kru Stasiun Radio AURI bertemu dengan Kru Stasiun Radio PTT di Desa Tamporunggo, Sungai Naning dan desa-desa lain. Sejak saat itu, kegiatan Stasiun Radio Dick Tamimi semakin intensif.

14 – 17 Mei 1949
Sidang Paripurna Kabinet PDRI di Silantai, Sumpur Kudus di daerah Ampalu. Di tempat itu berkumpul semua anggota Kabinet PDRI yang berada di Bidar Alam dan Koto Tinggi, untuk membicarakan reaksi PDRI terhadap prakarsa perundingan yang dilakukan oleh para pemimpin yang ditawan di Bangka (Pimpinan Soekarno – Hatta). PDRI mengeluarkan pernyataan yang menolak prakarsa perundingan kelompok Bangka.


18 Mei – 19 Juni 1949
Sjafruddin tidak kembali ke Bidar Alam, melainkan tetap bersama seluruh anggota rombongan berangkat ke Koto Tinggi.

2 Juni 1949
Sjafruddin melakukan kontak radiogram dengan Hatta, via Kol. Hidayat, Panglima Sumatera yang bermarkas di Aceh.

5 – 10 Juni 1949
Hatta berangkat ke Aceh untuk mencari PDRI

19 Juni – 30 Juli 1949
Stasiun Radio AURI Tamimi (walaupun tanpa Tamimi lagi, karena yang bersangkutan telah ikut ke Koto Tinggi) masih berada di Siaur untuk beristirahat. Mereka ikut berpuasa dan berlebaran di Desa Siaur, pada tanggal 27 juli 1949.

2 – 3 Juli 1949
Utusan Hatta (terdiri dari dr. Leimena, Moh. Natsir dan dr. A. Halim) yang hendak menemui Sjafruddin di Koto Tinggi, tiba di Padang. Setelah menginap satu malam di Hotel Muaro, mereka berangkat dengan konvoi ke Bukittinggi dan seterusnya ke Payakumbuh. Keadaan pada waktu itu belum aman, sehingga kendaraan mereka paling kurang harus berhenti lima kali, karena dicegat oleh Gerilyawan.

6 – 7 Juli 1949
Perundingan antara utusan Hatta dan PDRI berlangsung di Koto Kaciak, Padang Japang Payakumbuh. Setelah melalui perundingan yang alot dan menegangkan, Sjafruddin berhasil diajak kembali ke Yogya, menandai terjadinya rujuk antara PDRI dan kelompok Bangka.

6 – 8 Juli 1949
Rombongan pemimpin dari Bangka tiba di Yogya. Dua hari kemudian utusan Hatta tiba pula di Ibu Kota.

10 Juli 1949
Sjafruddin dan Panglima Besar Soedirman memasuki Yogya. Sjafruddin bertindak sebagai Inspektur upacara penyambutan para pemimpin yang kembali ke Yogya.

13 Juli 1949
Sidang Kabinet Hatta pertama sejak Agresi kedua Belanda dengan acara pokok pengembalian Mandat PDRI oleh Sjafruddin kepada Soekarno – Hatta.

25 Juli 1949
Badan Pekerja KNIP dalam sidang pertama yang dipimpin Mr. Asaat, menyetujui pernyataan Roem Royen, tetapi dengan persyaratan yang diajukan PDRI melalui pengumuman pada 14 Juni. Persyaratan itu adalah : (1) TNI tetap berada di daerah yang didudukinya; (2) Tentara Belanda harus ditarik dari daerah yang didudukinya; (3) Pemulihan Pemerintah RI di Yogyakarta harus dilakukan dengan tanpa syarat.

Sejak itu, babak baru sejarah perjuangan memasuki tahap akhir, hingga menyerahkan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia (RIS) pada tanggal 27 Desember 1949.

Daftar Pustaka :
Mestika Zed, Somewhere in the Jungle
Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Sebuah Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan
Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1997, hal.335.

By ; Biro Humas, dikutip dari buku saku Panpel Mubes Yayasan (Peduli Perjuangan) PDRI Th.2003
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peristiwa Situjuah adalah suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya.

PDRI

PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) adalah suatu pemerintahan darurat yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 1948 oleh beberapa orang pimpinan pejuang kemerdekaan Indonesia dan dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pemerintahan itu dibentuk karena ditangkap dan diasingkan-nya beberapa orang pemimpin Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim serta Sjahrir dan lainnya oleh pihak Belanda ketika terjadinya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
Ibukota PDRI adalah Bukittinggi, namun perjuangannya lebih banyak terjadi di desa-desa dan hutan-hutan Sumatera Tengah sehingga disebut "Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia" (PDRI) oleh pihak Belanda. Sedangkan lokasinya disebut "Somewhere in the Jungle".

Patriot Bangsa

Dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949, dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda. Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).
Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota Payakumbuh yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota itu sambil menggelorakan semangat perlawanan gerilya rakyat untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan. Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta, serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.
Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnya-pun gugur seketika.
Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu dikenang sebagai "Peristiwa Situjuah".

Kamis, 19 Desember 2013

0 Situs Megalit Gunung Emas (Bukit Puncak Villa) di Suliki Sumbar

Lebih Dekat Dengan Situs Megalitikum di Sumatera Barat

Termasuk peninggalan situs megalitik Gunung Emas (Bukit Puncak Villa), di Desa Lmbanang, Kecamatan Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat.
Peninggalan sejarah purbakala banyak terdapat di Kepulauan Indonesia yang menurut beberapa ahli, Indonesia memang memiliki salah satu budaya tertua di dunia.
Untuk lebih mengenal peninggalan purbakala, kita akan mengawali artikel ini dengan pengertian dan jenis peninggalan purbakala secara singkat terlebih dahulu sebelum membahas situs megalitikum di Sumatera Barat.
Dan perlu diketahui pula sebelumya, bahwa  peninggalan purbakala dapat dibedakan atas dua pengertian yakni:
(a) Monumen mati (dead monument), yaitu peninggalan purbakala yang pada waktu ditemukan sudah tidak dipergunakan lagi sesuai dengan fungsi semula.
(b) Monumen hidup (living monument), yaitu peninggalan yang sampai saat ditemukan kembali masih dipergunakan sesuai dengan fungsi semula.
Benda-benda peninggalan purbakala di Kecamatan Suliki Gunung Emas, Kabupaten Lima Puluh Koto, Propinsi Sumatera Barat, merupakan kelompok dead monument, karena sudah tidak digunakan lagi sebagai sarana pemujaan/upacara/pemakaman.
Tradisi Megalitik
Tradisi megalitik ialah corak tradisi yang erat kaitannya dengan kepercayaan, yaitu adanya pertalian antara manusia yang masih hidup dengan yang telah meninggal. Percaya bahwa orang yang telah meninggal dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk perihal kesejahteraan dan kesuburan tanaman.
Para ahli membedakan tradisi megalitik menjadi dua golongan besar, yakni:
(1) Megalitik Tua, yang berkembang sekitar 2500 SM – 1500 SM, dengan peninggalan berupa dolmen, punden berundak, batu pelingih, tembok batu, jalanan batu, batu-batu pengairan;
(2) Megalitik Muda, yang berkembang sekitar 1500 SM sampai abad-abad permulaan setelah Masehi, dengan peninggalan berupa kubur batu, dolmen, sarkopagus, bejana batu, yang dikerjakan dengan alat-alat yang terbuat dari logam.
Daerah-daerah di Indonesia yang banyak ditemukan peninggalan benda-benda megalitik, antara lain:
Nias, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sumba, Flores, dan Timor.
Bahkan di Pulau Nias, Kepulauan Nusa Tenggara, serta beberapa daerah lain, tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang.
Upacara pemotongan kepala kerbau, misalnya, merupakan tradisi megalitik yang masih dapat dilihat sekarang. Kerbau memiliki kekuatan-kekuatan gaib-magis yang masih berlanjut hingga sekarang. Sehingga di Sumatera Barat ada yang mengaitkan bahwa bentuk rumah Minangkabau dengan tanduk kerbau.

Menurut dongeng tradisional, nama Minangkabau berasal dari kata-kata ‘kerbau yang menang.’ Kini “Kepala Kerbau” dijadikan lambang daerah Propinsi Sumatera Barat.
Sejarah Tanah Minang
Bumi Minangkabau pada waktu lalu, secara kultural terbagi menjadi tiga daerah, yaitu: Tiga Luhak (Luhak nan Tigo), Rantau, serta daerah barat laut dan tenggara. Luhak nan Tigo terdiri dari:
- Luhak Lima Puluh Koto beribukota di Payakumbuh,
- Luhak Agam beribukota di Bukittinggi,
- Luhak Tanah Datar beribukota di Batusangkar.
Luhak yaitu lembah yang luas, masing-masing lembah ini pada masa perkembangannya berubah menjadi daerah administratif tingkat II kabupaten. Satu di antaranya adalah Kabupaten Lima Puluh Koto.
Peta lokasi Kabupaten Lima Puluh Kota
Kabupaten Lima Puluh Koto pada masa-masa berikutnya tidak terdiri dari lima puluh koto lagi, karena ada yang tergabung dengan daerah lain misalnya Propinsi Riau.
Kata koto, pada awalnya disebut taratak, kemudian berubah menjadi dusun, setelah itu berubah menjadi koto, yang akhirnya disebut dengan istilah nagari (sekumpulan desa-desa).
Nagari adalah sebuah istilah, untuk menyebutkan suatu wilayah yang luas di Minangkabau. Sedangkan Nagari asal usulnya bermula dari Taratak – Dusun – Koto – Nagari. Pengertian singkatnya masing-masing adalah:
Taratak, adalah tempat awal oleh nenek moyang Minangkabau menetap.
Dusun, masyarakatnya yang berkembang kemudian dengan adanya adat, kehidupan masyarakat mulai tersusun, aturan tersebut disebut dusun artinya tersusun.
Koto, setelah dusun berkembang karena bertambahnya populasi masyarakat maka timbullah pemikiran untuk meningkatkan adat atau aturan masing-masing dusun, berbagai pemikiran kelompok dapat satu kato berarti satu kata mufakat, maka daerah ini dinamakan sakato, kemudian berdirilah beberapa Koto.
Nagari, daerah yang terdiri dari beberapa koto diberi batas atau dipagari karena tiap nagari memiliki aturan adat sendiri, dari kata pagar tersebut muncul istilah nagari. (Daftar nagari di Sumatera Barat)
Sedangkan kabupaten Lima Puluh Koto terdiri dari tujuh kecamatan, satu di antaranya adalah Kecamatan Suliki Gunung Emas.
Kecamatan Suliki Gunung Emas
Suliki Gunung Mas adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Kecamatan Suliki Gunung Emas memiliki pemandangan alam yang memesona, terletak pada suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit dan tebing-tebing yang terjal. Medan seperti ini menjadikan daerah ini sulit untuk dijejalahi dan jarang penduduknya.
Hingga tahun 1983 tercatat 72 kelompok menhir dengan jumlah lebih dari 1.000 buah. Sebagian besar dari jumlah ini ditemukan di desa-desa dari daerah (nagari) Mahat (orang lokal menyebutnya: Maek), yaitu satu nagari di antara 12 nagari yang ada di kecamatan ini.
Kenagarian Mahat (Maek)
Kenagarian Mahat (orang lokal menyebutnya: Maek) terletak di ujung utara Kecamatan Suliki Gunung Emas, yang merupakan lembah berbagar perbukitan, sehingga terkesan menjadi daerah terkurung (peta lokasi).
Namun daerah ini bercurah hujan tinggi, sehingga kesuburan tanahnya menjadikan daerah pemasok beras bagi daerah-daerah di sekitarnya.
Nagari Mahat terdiri dari lembah yang luas dikelilingi bukit-bukit kecil mempunyai luas 22.633 km2. Nagari Mahat terletak di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari 13 kecamatan yaitu:
Nagari Mahat yang terletak di lembah yang luas dikelilingi bukit-bukit kecil
1. Akabiluru
2. Bukit Barisan
3. Guguk
4. Gunung Mas
5. Harau
6. Kapur IX
7. Lareh Sago Halaban
8. Luhak
9. Mungka
10. Pangkalan Koto Baru
11. Payakumbuh
12. Situjuh Lima Nagari
13. Suliki Gunung Mas
Kenagarian Mahat memiliki sepuluh pedesaan, yakni: Ronah, Air Duri, Koto Tinggi, Ampang Gadang I, Ampang Gadang II, Koto Gadang, Bungo Tanjung, Sopan Gadang, Sopan Tanah, dan Nenan.
Peninggalan megalitik yang ditemukan di desa-desa tersebut, berupa: menhir, lumpang batu, punden berundak, batu dakon, batu-batu bulat, patung menhir, batur punden, batu-baru besar berlubang, batu besar berukir, dsb…
Menhir ini berada di Mahat (Maek) sekitar 2 jam dari Kota Payakumbuh dan bukan yang terbesar. Foto ini diambil di Koto Tinggi 27 Jan 2007 bersama Pak Datuk, sang ‘juru kunci batin’. Semua menhir menghadap ke satu arah. (Photographer: Raiyani Muharramah (raiyani)/west-sumatra.com)
Menhir bersejarah ini berada di Mahat. Disini ada dua lokasi menhir, yaitu di Koto Tinggi (300an buah menhir) dan Koto Gadang (50an buah menhir). Kedua lokasi berdekatan sebetulnya.
Dan yang tak kalah menakjubkan adalah bahwa lokasi Mahat tepat di bawah garis katulistiwa!
Foto ini diambil di menhir Koto Tinggi pada 27 Jan 2007 lalu. Pak Datuk, ‘juru kunci batin’ daerah Menhir ini diminta sebagai pembanding ukuran Menhir disini. Ini bukan ukuran menhir yang terbesar.
Uniknya, semua menhir ini menghadap ke satu arah tertentu. Seolah punya ‘kiblat’ tersendiri.
Banyak sekali tulisan-tulisan yang terdapat di menhir tsb yang perlu diterjemahkan para peneliti arkeologi. Tetapi sayang belum terdengar publikasinya.
Mahat ini berada sekitar 2 jam dari Kota Payakumbuh dengan kondisi jalan cukup bagus dan berkelok-kelok. Menhir merupakan jenis terbanyak yang ditemukan, serta dalam berbagai bentuk, ukuran, dan ragam hias.
Desa Ampang Gadang
Keunikan desa ini ialah pada pekarangan-pekarangan rumahnya terdapat menhir yang berdekatan dengan lumpang-lumpang batu (berlubang halus), bahkan ada juga batu bulat yang kadang-kadang berbentuk cakram. Hal lain yang menarik adalah ditemukannya menhir berbentuk pedang yang belum selesai dipahat. Dengan penemuan ini dapat memperkirakan cara-cara pembuatan menhir.
Sejumlah menhir juga ditemukan di sekitar lapangan sepakbola, di antaranya ada yang berukir. Menurut keterangan penduduk setempat, bagi yang berukuran besar dikubur di lapangan, karena sulit dipindahkan. Bila melihat pada menhir-menhir yang masih berdiri, kelompok ini berorientasi ke arah tenggara.
Sejumlah dakon juga ada di daerah ini. Selain itu terdapat juga bubur batu yang tersusun dari sepuluh batu monolit besar dan kecil, berbentuk persegi panjang, 215 x 105 cm, dan berorientasi ke barat laut – tenggara.
Terdapat juga batur, yang merupakan gundukan tanah setinggi 80 cm dengan luas 5 x 5 m, dengan tanda-tanda bekas diperkuat susunan batu. Menurut cerita penduduk setempat, tempat ini dahulu digunakan untuk bernazar dengan menyembelih sapi hitam.
Desa Koto Gadang
Pada desa ini terdapat situs Balai-balai batu (60 x 65 cm), yang terdiri dari batur punden berukuran 6 x 6 m dengan tinggi 80 cm, serta menyimpan 35 menhir.
Bentuk menhir beraneka ragam, ada yang berbentuk pedang, berbentuk tanduk, berbentuk oval, atau dalam bentuk tak beraturan, dan bentuk-bentuk lainnya.
Rumah adat Raja Mengkulu di Koto Gadang (sekitar tahun 1870) – COLLECTIE_TROPENMUSEUM (Minangkabau -huis van Radja Mengkoeloe te Kotagedang nabij Fort de Kock Sumatra)
Menhir terbesar berukuran 43 x 40 x 251 cm, berhiaskan sulur dan pola geometris.
Kelompok menhir ini berorientasi ke tenggara, ke arah Gunung Sago. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, di tengah batur punden dahulu terdapat menhir yang dikeramatkan, yang kemudian diambil oleh orang Belanda untuk disimpan di Museum Jakarta.
Menhir-menhir lain terdapat di tebing-tebing yang membatasi dusun ini, serta di pekarangan-pekarangan.
Lebih dari 1000 menhir berada pada tempat ini, yang kebanyakan berukuran besar. Tata letak menhir berbaris atau berderet secara teratur, satu di antaranya berukuran besar dan diletakkan di tengah-tengah. Di antaranya ada tiga menhir yang berbentuk seperti patung manusia atau binatang.
Desa Koto Tinggi
Desa ini memiliki sejumlah peninggalan megalitik berupa: menhir, batu dakon, batu besar berbentuk gunung, batu besar dengan tangga keliling. Di desa ini juga terdapat Situs Bawah Air, yang terletak pada ketinggian 350 m di atas permukaan air laut.
Situs ini berukuran 80 x 125 m, yang merupakan situs menhir terbesar di daerah Lima Puluh Koto Utara. Pada situs ini terdapat lebih dari 180 menhir, dengan tinggi satu hinga dua meter. Ada sejumlah menhir yang berbentuk kepala binatang kuda, gajah, anjing, ular, buaya. Menhir terbesar berukuran 50 x 68 x 405 cm, tetapi dalam posisi roboh.
Selain menhir, juga terdapat batu dakon dengan permukaan yang luas sehingga masyarakat setempat menyebutnya “Batu Hampar.” Selain itu juga terdapat batu besar menyerupai gunung dengan lubang sebesar lumpang, atau yang bertangga sampai puncak yang menunjukkan sebagai tempat pemujaan.
Selain di desa-desa yang telah disebutkan di atas, masih banyak desa yang memiliki peninggalan megalitik yang masih insitu. Desa-desa tersebut adalah Limbanang, Ronah, Bukit Ampar, Ateh Sudu, Sopan Gadang, Sopan Tanah, Pandam Gadang, Simpang Ampek, Anding, dan Koto.
Tempat-tempat yang menyimpan peninggalan megalitik tersebut, dapat dijadikan obyek dalam melakukan penelitian bagi insan perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat, serta perorangan, baik berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Selain itu juga dapat merupakan obyek wisata, baik wisata luar negeri maupun wisata domestik.
(Sunarno Sastroatmojo)(Asdep Konseruasi & Pemeliharaan/Proyek Pengembangan Kebijakan Kebudayaan/west-sumatra.com/pelita.or.id)

Selasa, 17 Desember 2013

0 TUJUAH KOTO TALAGO DI ERA PENJAJAHAN JEPANG DAN PDRI

1. Tujuah Koto Talago di Era Penjajahan Jepang

Pasukan tentara Nippon menduduki Sumatera pada bulan Maret 1942 setelah terlebih dahulu menduduki Singapura. Mereka selanjutnya datang ke Payakumbuh sebagai “saudara tua” yang ingin membebaskan rakyat dari penjajahan Belanda.
Pada tahun 1943 Ir. Soekarno datang ke Padang Japang menemui Syeikh Abbas Abdullah dan Syeikh Mustafa Abdullah. Dalam kunjungan ini Ir. Soekarno meminta saran Syeikh Abdullah baik dalam menyikapi keberadaan Dai Nippon maupun hal-hal yang berkaitan dengan upaya mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.  Syeikh Abbas Abdullah  memberikan pandangan kepada Ir. Soekarno bahwa negara Indonesia yang sedang diperjuangkan kelak berdasarkan agama atau Ketuhanan Yang Maha Esa.  Alhamdulillah setelah Indonesia merdeka Dasar Negara Indonesia Panca Sila yang disepakati menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya  sebagai mana yang disarankan Syeikh Abbas Abdullah pada Soekarno  (Hikmat Israr 2009).
Kemudian hari setelah Indonesia merdeka Ir. Soekarno memberikan bantuan kepada masyarakat Padang Japang melalui Syeikh Abbas berupa atap genteng untuk Sekolah Rakyat Padang Japang yang didatangkan dari Sawahlunto. Dapat dikatakan    Sekolah Rakyat Padang Japang ini merupakan sekolah terbagus bangunannya di wilayah Lima Puluh Kota saat itu.
Dalam rangka memperkuat angkatan perang Jepang maka pemuda-pemuda Tujuah Koto Talago dilatih oleh tentara Jepang tentang ilmu kemeliteran.  Untuk itu Jepang mendidik Heiho dan Seinendan serta menyelenggarakan pendidikan Gyu Gun di Bukittinggi dan Padang. Dengan seruan Chatib Soelaeman, Ketua Pusat Pembentukan Gyun Gun dan didukung oleh para ulama melalui dalil-dalil yang mewajibkan seseorang untuk membela tanah airnya maka berduyun-duyunlah pemuda Tujuah Koto dan pemuda Sumatera Barat lainnya mengikuti seleksi Gyu Gun. Meskipun banyak peminatnya namun yang dapat diterima sangat terbatas. Gyu Gun asal Lima Puluh Koto lebih banyak ditugaskan di Kompi III Infantri (Kunizima Tai/Takahashi Tai) yang berkedudukan di Baso. Mantan-mantan perwira Gyu Gun asal Lima Puluh Kota dan Tujuah Koto diantaranya Makinuddin Hs, Azhari Abbas, Nurmatias, Amir Wahid dan Mawardi HN. Kemudian hari di awal kemerdekaan para bekas Gyu Gun tersebut memegang peran dalam menyusun dan memimpin perjuangan bersenjata di Lima Puluh Kota. (Hikmat Israr 2009).

2. Tujuah Koto Talago di Awal Kemerdekaan
 
Pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Di Tujuah Koto Talago khususnya dan Lima Puluh Kota umumnya belum banyak yang tahu tentang proklamasi ini. Masyarakat baru mengetahui Indonesia telah merdeka setelah mendengarkan pengumuman yang disampaikan oleh M. Syafi’i mantan Ketua Sumatera Tyuo Sangi In (DPRD) pada tanggal 19 Agustus 1945.
Menyambut pengumuman kemerdekaan RI tersebut maka masyarakat beramai-ramai menaikkan bendera Merah Putih. Pengibaran bendera Merah Putih pertama kali dilakukan di Suliki pada awal September 1945. Salah seorang diantara pelaku sejarah pengibaran bendera Merah Putih di Lima Puluh Kota adalah pemuda Mawardi, HN seorang bekas Bintara Gyu Gun asal Padang Japang.
Ketika para Gyu Gun dilucuti dan dipulangkan ke daerahnya masing-masing, pemuda Mawardi, HN yang saat itu menyandang pangkat Hei Cho Gyu Gun kembali ke Padang Japang. Setelah mendengar Indonesia telah merdeka dan rakyat masih ragu-ragu untuk betindak, maka Mawardi HN yang memperoleh gemblengan didikan militer di Gyu Gun Sasaki Butai Padang beserta beberapa pemuda aktivis pergerakan lainnya dengan segala keberanian berinisiatif mengumpulkan masyarakat daerahnya di lapangan sepak bola Koto Kociak. Setelah sekitar 1500-an masyarakat berhasil dihimpun, maka dengan berjalan kaki Mawardi HN memimpin barisan massa tersebut menuju Suliki yang jaraknya sekitar sembilan kilometer dari Koto Kociak, guna menaikkan bendera Merah Putih di Kantor Pemerintahan Jepang yang terdapat di Suliki.   Namun sesampai di Suliki rencana pengibaran bendera Merah Putih di Kantor Pemerintahan Jepang  tidak jadi terlaksana, karena tidak disetujui Demang Suliki. Untuk menghindari insiden dengan pihak Jepang, akhirnya diambil kebijakan  menaikkan bendera Merah  Putih pada sebuah rumah yang bersebelahan dengan kantor tersebut. ( Hikmat Israr 2009).

3. Peranan Tujuah Koto Talago di masa PDRI
PDRI  adalah singkatan dari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Dibentuk di Halaban  pada tanggal 22 Desember 1948 pada hari Rabu sekitar pukul 03.00 pagi. Dasar pembentukannya dilatar belakangi karena fakumnya kepemimpinan negara setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta sejumlah menteri ditawan Belanda saat terjadinya Agresi Militer Belanda II ke Yogyakarta. Saat sebelum ditawan Presiden Soekarno mengeluarkan mandat yang berbunyi “Kami Presiden Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 pukul 06.00 pagi, Belanda telah memulai serangannya atas ibu kota Yogyakarta. Jika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintahan Republik Darurat di Sumatera.”
Mandat ini diterbitkan di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1948 dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta.
Pembentukan PDRI disiarkan langsung oleh Pemancar Radio AURI yang ada di Halaban di bawah pimpinan Kolonel Udara H. Soejono, sehingga terbentuknya PDRI itu segera tersebar luas ke seluruh dunia. (H.C. Israr 1999).
Mengingat situasi yang semakin panas, karena Bukittinggi telah diduki Belanda pada tanggal 22 Desember dan Payakumbuh diduduki Belanda tanggal 23 Desember 1948, maka banyak pejabat-pejabat PDRI meninggalkan Halaban terus berjuang dan bergerak secara mobilitas. Terkadang mereka berada di Bidar Alam, Sumpur Kudus, Bangkinang, dan daerah lainnya. Akan tetapi yang menjadi basis dan pusat PDRI adalah di Koto Tinggi dan sekitarnya.
Koto Tinggi terletak sekitar 40 kilometer dari Payakumbuh dan hanya ada sebuah jalan besar yang menghubungkan Koto Tinggi dengan Payakumbuh melalui Talago. Di Koto Tinggi tinggal Menteri Kabinet dan Tokoh PDRI serta Gubernur Militer Sumatera Tengah Mr. Mhd. Rasyid dan stafnya. Semua para pemimpin yang cukup besar jumlahnya itu ditempatkan di rumah-rumah penduduk.
Berbagai negara di dunia mendesak supaya resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Indonesia agar dilaksanakan dan mendesak Belanda supaya segera mengadakan perundingan. Akhirnya terjadilah perundingan antara Indonesia dan Belanda yang dikenal dengan Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949.  (H.C. Israr 1999).
Tidak lama setelah Persetujuan Roem-Royen, Moh. Hatta ke Bangka. Selanjutnya setelah tiba di Bangka 11 Juni 1949, Moh.Hatta kembali merencanakan pengiriman suatu delegasi untuk mencari dan menemukan Sjafruddin. Kali ini, delegasi itu mencari Sjafruddin ke tempat “persembunyiannya” di Sumatera Barat. Moh. Hatta segera membentuk sebuah delegasi yang akan dikirim untuk menemui pemimpin PDRI di Sumatera Barat. Delegasi itu terdiri atas dr. Leimena sebagai ketua, Moh. Natsir dan A. Halim sebagai anggota, serta Agus Djamal sebagai sekretaris delegasi.
Pada tanggal 2 Juli 1949, delegasi utusan Hatta sudah tiba di Padang. Mereka menginap di Hotel Muaro. Keesokan harinya tanggal 3 Juli 1949 mereka berangkat dengan konvoi  menuju Bukittinggi. Dalam perjalanan Padang-Bukittinggi  mereka masih belum mengetahui dimana            Mr. Sjafruddin berada. Baru setelah diadakan hubungan radio dari Bukittinggi untuk memberitahukan rencana kedatangan mereka diketahui bahwa tempat yang dituju itu ialah Padang Japang  (Mestika Zed 1997).
Ketua PDRI segera memberi tahu Gubernur Militer Mr. St. M. Rasjid supaya mempersiapkan tempat pertemuan yang tidak terlalu jauh dari Payakumbuh. Bupati Militer Saalah Yusuf St. Mangkuto setelah diberi tahu tentang pertemuan ini, segera menghubungi Camat Militer Kecamatan Guguk Saaduddin Sjarbani untuk mempersiapkan tempat pertemuan. Akhirnya oleh Wali Perang Nagari VII Koto Talago Dt. Rajo Panghulu ditunjuk sebuah rumah di Padang Japang menjadi tempat pertemuan antara delegasi Hatta dengan Pimpinan PDRI. (H.C. Israr 1999).
Rumah tersebut adalah Rumah Kak Djawa, sebelah kiri dari Padang Japang ke Ampang Gadang sebelum turunan Tobek Godang. Rumah ini sekarang dijadikan pustaka dan dibangun sebuah tugu peringatan bahwa di rumah tersebut pernah dilakukan suatu peristiwa bersejarah.
Setelah menginap di Payakumbuh, mereka berangkat ke Padang Japang dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan yang dilewati, mereka mendapati pohon-pohon yang dirubuhkan ke tengah jalan, jembatan-jembatan yang semuanya rusak dan rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Setelah tiga-empat jam berjalan kaki, tiba-tiba mereka disergap gerilyawan. Mereka lantas memperkenalkan diri. Rupanya yang menghadang adalah anak buah  Mayor Thalib. Sejak itu perjalanan berlangsung lancar hingga Dangung-Dangung. (Mestika Zed 1997).
Pada tanggal 6 Juli 1949, delegasi Bangka yang dipimpin dr. Leimena itu sampai di Padang Japang yang telah ditunggu Mr.Sjafruddin Prawiranegara dan tokoh PDRI lainnya. Malam harinya diadakan perundingan antara kedua pihak. Pertemuan berlangsung sampai jauh malam dan sempat menemui jalan buntu. Subuh 7 Juni, saat pergi ke pancuran untuk mandi, dr. Halim bertemu Mr. Moh. Rasjid. Tak lama kemudian Mr.Sjafruddin Prawiranegara dan Loekman Hakim menyusul.  Saat mandi di pancuran mereka berunding secara tidak formal. Seusai mandi, mereka kembali berkumpul untuk melakukan perundingan. Dalam waktu yang singkat, sebuah masalah besar, urusan kenegaraan yang menjadi beban pikiran para politisi, ternyata bisa diselesaikan di tepian tempat mandi. Padahal perundingan sepanjang malam tidak membuahkan hasil apa-apa.  Akhirnya terjadilah perdamaian antara pihak PDRI dengan kelompok Bangka, suatu rujuk nasional yang berlangsung bukan di ibu kota, melainkan di pedalaman daerah gerilya.  Dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang awalnya menolak Roem-Royen menyatakan kesediaannya kembali ke Yogyakarta. (Mestika Zed 1997).

4. Syuhada warga Tujuah  Koto pada Peristiwa Situjuah
Kejadian itu dikenal dengan Peristiwa Situjuh, yaitu pembantaian para pejuang oleh Belanda. Kejadiannya tanggal 15 Januari 1949. Situjuh terletak di kaki Gunung Sago sekitar 11 kilometer dari Payakumbuh. Di antara bukit-bukit Situjuh itu terdapat lurah yang mengalir aliran air dan di tempat itu dibangun kincir air penumbuk  padi. Lurah tersebut dikenal dengan Lurah Kincir. Di lurah tersebut juga terdapat sebuah surau kepunyaan Makinuddin Hs dan sebuah rumah. Di rumah itu sejak sore 14 Januari sampai subuh 15 Januari 1949 diselenggarakan pertemuan penting para pejabat militer Sumatera Barat guna menyusun strategi perjuangan menghadapi Belanda.
Pada hari Jumat 14 Januari 1949 dari sore hingga malam peserta rapat berdatangan dari berbagai pelosok ke Lurah Kincir. Anggota rombongan terbesar yang datang  tentu saja berasal dari Koto Tinggi, pusat pemerintahan darurat untuk Sumatera Barat. Sekitar 30 orang anggota rombongan dipimpin oleh Letkol Dahlan Ibrahim, Komandan Militer Sumatera Barat yang juga menjabat Wakil Gubernur Militer. Di antara anggota rombongan Chatib Soelaeman serta Bupati Militer Arisun sudah meninggalkan Koto Tinggi pada Rabu tanggal 12 Januari.  Pada sore hari mereka baru sampai di Koto Kociak dan dijamu dengan baik di rumah Anwar ZA, yang kemudian hari menjadi Sekretaris Bupati Lima Puluh Kota. (Mestika Zed 1997). Seusai rapat yang berlangsung hingga pukul 02.00 dinihari tanggal 15 Januari 1949, sebagian peserta rapat yang tinggal dekat Situjuh kembali ke posnya masing-masing. Sementara yang  lainnya istirahat di surau yang ada di lurah tersebut. Pada saat istirahat dan tidur nyenyak karena kelelahan, ternyata diam-diam serdadu   Belanda mengepung Lurah Kincir dan melepaskan rentetan tembakan membabi buta dari atas tebing ke arah lurah. Maka tembak menembak yang tak seimbang pun terjadi dan para pejuangpun berguguran.  Sembilan pejuang gugur dan 50 orang pejuang yang kebanyakan anggota BNPK dan PMT menjadi syuhada. ( Hikmat Israr 2009).
Salah satu dari sembilan pejuang yang gugur   adalah Letda Syamsul Bahri, ZA warga VII Koto Talago.   Sedangkan Sjofyan, saudara ipar Anwar ZA  asal Koto Kociak dan beristrikan orang Padang Japang  selamat dari penyerbuan biadab tersebut.

5. Berakhirnya PDRI  di Koto Kociak
Sebelum berngkat ke Yogyakarta menemui Soekarno-Hatta, Mr. Sjafruddin Prawiranegara merasa perlu untuk mengadakan rapat umum sekali gus perpisahan dengan segenap lapisan masyarakat VII Koto Talago khususnya dan masyarakat Suliki umumnya yang dengan setia telah membantu perjuangan PDRI. Rapat umum tersebut diselenggarakan pada tanggal 7 Juli 1949 di lapangan bola kaki Koto Kociak yang dihadiri sekitar 5000-an massa rakyat. Rapat umum dipimpin oleh Wedana Militer Malik Siddik. Dalam rapat umum tersebut berbicara berturut-turut Mr.St.Moh. Rasjid, dr.Leimena, M.Natsir dan Mr.Sjafruddin Prawiranegara. Sesudah rapat umum itu, delegasi kembali ke Padang Japang. Tanggal 8 Juli 1949    Mr. Sjafruddin Prawiranegara bersama-sama delegasi Bangka berangkat meninggalkan daerah Tujuah Koto Talago menuju Yogyakarta untuk menyerahkan mandatnya. Keberangkatan rombongan dilepas dengan keharuan dan tetesan air mata rakyat. Secara bersama-sama rakyat mengantarkan rombongan sampai perbatasan Dangung-Dangung. (Hikmat Israr 2009).
Rapat umum di Koto Kociak agar mudah diingat yaitu dengan menghafal  angka 3 x 7 yang artinya, tanggal 7, bulan 7 di VII Koto Talago.  (H.C. Israr 1999). Tanggal 19 Desember kini ditetapkan pemerintah sebagai Hari Bela Negara dengan Keputusan Presiden No. 28 tanggal 2006 karena pada tanggal tersebut terbentuknya PDRI.
Di lapangan bola kaki Koto Kociak, di tepi jalan raya Koto Kociak ke Limbanang kini berdiri Tugu PDRI yang menjadi kenangan yang membanggakan daerah ini. (lihat foto berikut).


 

 Gbr. 2.1 Tugu PDRI di  Koto Kociak






0 Mengenang Syeikh Abbas Padang Japang, Ulama Besar Minang yang hampir Terlupakan

Refleksi sejarah Padang Japang— yang terkenal kemana-mana itu—tidaklah kita rasakan sekarang ini. Dulu, nuansa intelektual dan agamis, mengurat-mengakar tumbuh menjadi karakter masyarakatya, sehingga sempat bertahun-tahun lamanya nagari itu disebut-sebut orang. Para orang tua di semenanjung Pulau Sumatera ini, rindu menyekolahkan anaknya di kampung itu.
Konon kabarnya, Ir. Soekarno pernah datang menemui Syeikh Abbas Abdullah, di perguruan Darul Funun El Abbasiyah Padang Japang, tahun 1943 lalu. Bung Karno, begitu panggilan akrab presiden pertama RI itu hanya meminta petuah dengan mengajukan pertanyaan;
“jika kelak Indonesia benar-benar telah merdeka, apakah kira-kira bentuknya negara ini?”
“Negara yang hendak didirikan kelak haruslah berketuhanan yang maha esa,” jawab Syeikh singkat.
Bisa jadi hal ini pulalah inspirasi bagi perumus pancasila di negara yang kemudian bermekaran bunga-bunga korupsi. Selama bangsa dan negara ini masih ada, dan selama pancasila menjadi dasar, tak seharusnya (kita) melupakan Syeikh Abbas Padang Japang.

Jaranglah kita tahu bagaimana cerita sebenarnya. Saya tidak mendapatkan data pasti. Namun yang jelas, Padang Japang sangat berjasa dalam menumbuh-kembangkan ilmu pengetahuan dan membela kemerdekaan Republik Indonesia ini.
Namun, ada cerita lain yang bergulir dari mulut ke telinga di tengah masyarakat nagari itu. Ada yang mengatakan bahwa Soekarno pernah datang untuk belajar di sekolah Syeikh Abbas Abdullah itu. Ada pula yang mengatakan, Soekarno berpacaran dengan gadis nagari itu, kemudian gadis itu ditinggalkannya setelah ia berangkat kembali ke Jakarta.
Memang, sekarang, ada perempuan tua yang agak cacat mental, yang dipercayai orang-orang bahwa dialah pacar Soekarno dulu. Kebenaran cerita yang berkembang di tengah masyarakat itu sulit juga di percaya. Haruslah diluruskan, bahwa kedatangan Ir.Soekarno, hanya meminta saran dan pituah Syeikh Abbas Abdullah yang mendunia ilmu dan namanya ketika itu.

Sejarah

Syeihk Abbas Abdullah yang lebih di kenal dengan Syeikh Abbas Padang Japang, dalam buku yang pernah diterbitkan oleh Islamic Centre Sumatra Barat, tahun 1981 bahwa ia termasuk salah satu dari 20 ulama terkemuka Minang Kabau. Popularitasnya sekaliber dengan H. Agus Salim, Syeihk Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang), Ahmad Khatib Alminangkabawi, Imam Masjidil Haram yang terkenal itu, buya HAMKA dan sederatan ulama terkemuka lainnya. Ia dilahirkan di Padang Japang, Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 1883. Ayahnya Syeikh Abdullah yang ikut berjuang bersama Tuanku nan biru dalam perang Paderi yang di pimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

Sejak berumur 13 tahun beliau memberanikan diri mencapai keinginannya untuk menjadi ulama besar. Maka berangkatlah ia ke tanah suci bersama pamannya yang ingin menunaikan ibadah haji. Ketika syeikh berumur 21 tahun, setelah banyak belajar dari ulama besar di tanah suci, muncullah kerinduannya untuk pulang ke kampung halaman. Delapan tahun ia di tanah suci, Mekkah, ia pun pulang kampung. Membawa kitab-kitab besar. Menjadi bahan tertawaanlah bagi orang-orang sekampungnya ketika itu, banyak mempertanyakan untuk apa kitab-kitab besar ini.

Semangatnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak pernah luntur. Ia pun menjadi guru di sekolah ayahnya. Ketika itu masih sangat sederhana, sistem halaqah di dalam masjid. Syeihk Abbas tidak puas dengan sistem itu, ia ingin mengubah sistem dari tradisonal menjadi sistem yang lebih modern. Ia berangkat ke Bukittinggi menemui Syeihk Ibrahim Musa Parabek, dilanjutkannya perjalanannya ke Padang Panjang menemui Syeikh Abdul Karim Amrullah yang kemudian lebih dikenal buya Hamka, dan syeikh Thaib Umar di Sengayang Batu Sangkar. Dapatlah kata sepakat bahwa sistem halaqah harus diganti dengan sistem klassikal dengan kurikulum yang teratur dan bahan bacaan yang mendalam.

Kemudian, nama sekolahnya diganti dengan Madrasah Thawalib Padang Japang, setelah dapat bekerja sama dengan sekolah di Parabek, Padang Panjang dan Sungayang yang berada dalam naungan oragnisasi Sumatera Thawalib. Pembaharuannya ketika itu di sambut hangat oleh masyarakat Minang, walupun ada bertentangan dengan Syeikh Saad Mungka, Syeikh Sulaiman Arrasuli Canduang, dan Syeikh Muhammad Djamil Jaho, dan syeikh yang menganut ilmu tarekat lainnya.
Syeikh Abbas Padang Japang pun ingin mengubah paradigma masyarakat, bahwa memakai jas, dasi dan sistem belajar klassikal bukanlah hal yang diharamkan agama. Sebab, pemahaman masyarakat sebelumnya “haram” karena meniru gaya kolonial Belanda yang non muslim.
Syeikh Abbas merasa belum cukup ilmu dalam pertentangan pendapat itu, maka ia putuskanlah untuk berangkat lagi ketanah suci. Dalam perjalanan yang kedua ini , Syeikh Abbas mengunjungi negara-negara Islam lainnya, seperti Syria, Lebanon dan bahkan sekular Swiss. Di Swiss itulah beliau bertemu dengan Mahmud Yunus pada tahun 1924. Beliaupun melanjutkan perjalanan ke Mesir, Universitas Islam terkemuka, Al Azhar. Disanalah ia banyak belajar, walaupun hanya sebagai Mutsami’ namun beliau aktif dalam organisasi.

Setelah banyak mendapat ilmu pengetahuan, iapun pulang ketanah air. Sebelum sampai di Padang Japang, ia berkunjung ke pesantren-pesantren di tanah Jawa. Perjalanan itu mempertemukannya dengan pemimpin Islam terkemuka, H. Agus Salim.

Sesampainya di Padang Japang, ia menikah dengan siti Hulimah, gadis senagarinya. Rasanya, telah lama benar ia membujang dan berpetualang ke manca negara dalam mencari ilmu pengetahuan.
Syeikh Abbas melihat perkembangan sekolah-sekolah yang didirikan Belanda seperti HIS, MULO, AMS dan sebagainya, hanya teruntuk bagi bangsawan dan orang- orang kaya saja. Tersentaklah hati Syeikh Abbas untuk menggerakkan kembali Madrasah Thawalibnya dulu yang pernah ia tinggalkan. Perubahan sistempun terjadi, alat-alat banyak bertukar sesuai dengan pengalamannya di Al Azhar, Mesir.
Hal tersebut membuat perguruan Thawalibnya menjadi pesat dan menjadi pusat pendidikan agama terkemuka dan modern di Ranah Minang. Padang Japang ramai di kunjungi orang dari berbagai daerah untuk mencari ilmu agama. Alumninya tersebar keseluruh pelosok negeri dengan berbagai keahlian. Untuk mengemukakan alumninya, dapat di sebutkan Zainudin Labay El Yunusi, yang kemudian menjadi ilmuwan yang dikenal dengan filosof dari Timur. Zainudin Hamidiy yang berhasil mendirikan Ma’had islami di Payakumbuh dan Nashrudin Thaha yang berperan sebagai ulama, pengarang dan politikus yang jakhirnya menjadi menantu Syeikh Abbas.

Pada tahun 1930, Thawalib Padang Japang menyatakan keluar dari Sumatera Thawalib yang berganti nama menjadi Persatuan Muslimin Indonesia atau PERMI setelah berlangsungnya kongres Sumatera Thawalib. Maka Syeikh Abbas mengganti nama madrsahnya menjadi madrasah Darul Funun El Abbasyiyah, tidak berinduk lagi kepada PERMI.
Perkembangan pun semakin meningkat, mengundang orang berdatangan dari luar daerah bahkan luar propinsi. Kolonial Belanda yang memang tidak pernah senang dengan pribumi, keiri-dengkian atas prestasi syeikh Abbas membuat Belanda berang, merasa tertandingi. Maka dituduhkanlah hal yang macam-macam ke Syeikh Abbas. Terjadilah penggeledahan pada tahun 1934, yang mengakibatkan terhentinya kegiatan madrasah untuk beberapa saat lamanya. Delapan tahun setelah penggeledahan itu, barulah Soekarno tergerak hatinya untuk datang meminta saran dan pendapat Syeikh Abbas.

Padang Japang Berjasa

Sesudah kemerdekaan, bermacam-macam barisan rakyat untuk membela kemerdekaan bermunculan. Syeikh Abbas pun pernah diangkat menjadi Imam Jihad untuk daerah Minang Kabau. Pada masa agresi militer Belanda II, tahun 1947-1949, Darul Funun pernah menjadi pusat pemerintahan propinsi. Mr. Teuku Muhammad Hasan, gubernur Sumatera Tengah ketika itu, berkantor di Darul Funun itu. Setelah terbentuknya PDRI, Darul Funun menjadi kantor mentri PPK dan mentri Agama PDRI. Ketika Muhammad Natsir dan Dr.J.Leimeina menjemput ketua PDRI, Mr.Syafrudin Prawiranegara, Darul Funun menjadi pusat pertemuan, orang-orang membicarakan dan merumuskan nasib tanah air ini, Indonesia ini, di situ di Darul Funun itu.

Darul Funun Kini

Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, meninggal pada tahun 1957. Orang-orang terkejut, perih yang sangat dalam, Minang Kabau menangis kehilangan putra terbaiknya, Darul Funun kehilangan pengasuhnya, ya, kehilangan separuh nafasnya.

Amatlah miris hati kita, melihat sekolah yang diperjuangkan seorang pahlawan, yang tak pernah ada nama jalan seperti namanya di Ranah Minang ini. Hampir tidak ada seorangpun dari kampung Padang Japang itu, anaknya bersekolah di sana sekarang, dan siswanya pun boleh dihitung pakai jari tangan saja. Dunia telah meodern. Semuanya serba digital, canggih. Sekolah-sekolah modern buatan pemerintah, saling berpacu menjadi sekolah internasional, dengan peralatan, sarana dan prasarana yang serba canggih pula, uang sekolahnya pun mahal.
Seperti HIS, MULO, AMS dan sederetan sekolah Belanda lainnya, yang teruntuk buat orang kaya-kaya saja. Sementara keberadaan darul funun El abbasiyah kini semakin di pinggirkan, sekolah yang pernah mengangkat harkat martabat anak-anak miskin, sebagai sebuah perpacuan intelektual dengan penjajah dulu, kini teredusir oleh arus globalisasi, arus yang membuat generasi Padang Japang menjadi “latah”. Sejarah telah bergulir, dengan pelaku dan latar yang berbeda, namun, penjajahan pendidikan itu sama saja dengan kolonial.
Sudah lama sekali Syeikh Abbas meninggal dunia, tahun 1957 lalu, namun ia tetap hidup dalam sanubari kita. Hanya bagi kita yang tahu sedikit saja. Atau sejarah ini tidak diturunkan oleh ninik mamak, bapak, atau ibu kepada anak-kemenakan mereka. Sehingga nyaris kita merasakan Syeikh Abbas benar-benar telah tiada. Nyaris kita kehilangan benar dan benar-benar melupakannya. 
sumber.http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/18/mengenang-syeikh-abbas-padang-japang-ulama-besar-minang-yang-hampir-terlupakan-471632.html

Kamis, 05 Desember 2013

0 “Raso di baok naiak, Pareso di baok turun” (Pasan Rang Gaek)


Tau di jalan kapulang,
(Raso di baok naiak, Pareso di bao turun)
Diulang-ulang dek
Buya H. Mas’oed Abidin
Di dalam Agamo Islam, kito (manusia) nan hiduik di dunia nanko,
dijadikan untuak mamikua baban nan mulia,
sabagai khalifah Tuhan di muko bumi.
Nan kamambangun,
kamampaeloki,
kamanjago apo nan ado goh.
Karano tu, baban tu manjadi sangaik mulia,
sasuai bana jo kajadian kito sebagai makhluk Allah nan tapiliah.
Itulah fitrah awak.
Firman Allah di dalam Al Quranul Karim manyabuikan,
“ wa laqad karramnaa banii Adam” , araatinyo, “sungguh Kami alah mamuliakan bani Adam, (yaitu anak cucu Adam) yaitu kito nan banamo manusia ko” (lieklah Al Quran, surat 17, ayat 70).
Balain bana jo makhluk Allah nan lain.
Apokoh itu malaekaik,
flora atau fauna nan ado,
nampaknyo kito ko indak bisa disamoan jo mareka doh.
Kalabiahan kito sabagai makhluk Allah itu, indak sajo dari rupo jo bantuak nan elok, tapi diagiahnyo kito dek Allah “kacerdasan aka pikiran” nan indak dipunyoi dek makhluk nan lain.
Salain tu kito dibari pulo dek Allah nan Maha Mulia tu,
“kacerdasan ati atau parasaan”.
Sahinggo kito tau raso jo pareso.


Raso dibao naiak,
pareso dibao turun.
Raso dari ati ka kapalo,
pareso dari kapalo ka alam nyato.
Nan pangabisan ko jaleh-jaleh hanyo dipunjoi dek makhluk nan banamo manusia.
Barangkali, kaduo bantuak kacerdasan ko lah nan kini dek urang-urang nan ba-ilimu di sabuik jo bahaso urang disinan sebagai “intelektual inteligensia” dan “emosional inteligensia” tu.
Kok nyampang kaduo kecerdasan ko indak kito punyoi,
tantulah hiduik kito indak manantu.


Indak tau ereng jo gendeang,
indak tahu rantiang nan ka malatiang,
indak jaleh batu nan ka manaruang, doh.
Nan labiah padiehnyo,
disabuik urang kito indak tau diuntuang.
Labiah jauh barangkali,
kito indak ka mangarati nan paralu,
nan musiti di dahulukan,
atau nan patuik di kudiankan.
Alhamdulillah,
kito dijadikan Allah makhluk nan sangaik elok dalam rupo,
sangat cadiek jo pikiran,
sangat haluih jo parasaan.
Tapi kok nyampang kaduo anugerah Allah nan sangat mulia ko indak kito paliharo elok-elok,
aratinyo pikiran kito indak di asah jo ilmu pangatahuan nan paguno,
dan hati atau kalbu kito indak dibari ingek jo nan baik dan patuik-patuik,
mako indak dapek indak,
kito ka jatuah maluncua jadinyo.
“Sanasadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun”.
Aratinyo, kalau kito indak bahati-hati mampagunokan hati kito masiang-masiang, nanti Allah kan maluncua-kan kito sakalian pado tampek nan kito indak manyadarinyo.
Baitulah paringatan Allah kapado kito basamo.
Pakaro manuntuik ilmu,
untuk ma asah utak,
iyolah jaleh di awak basamo,
bahaso itu manjadi kawajiban satiok urang nan ba-iman


(uthlubul-’ilma faridhatan ‘alaa kulli muslimin wa muslimah),
aratinyo “manuntuik ilmu tu wajib bagi muslim laki-laki jo padusi”.
Bahkan manuntuik ilmu ko indak sakadar di nagari awak sajo,
di suruah jauh-jauh ka nagari urang (kalau paralu kanagari urang bamato sipik, nagari Cino,
asal indak marantau cino see lah).
Kok dapek pintak jo pinto, kana-kana juo kampuang tampek pulang.
Kampuang tampek pulang tu aratino duo macam.
Paratamo iolah kampuang mandeh, tanah tumpah darah, saroman papatah nan kito baco sahari-hari,


sungguahpun ujan ameh di rantau urang,
kampuang halaman di kana juo.
Sa jauah-jauah tabang bangau nan tampek hinggokno,
bancah baraia di kana juo.
Nan kaduo, tampek kumbali adolah kampuang akiraik (yaumil aakhir), nan indak dapek indak musti ka kito jalang suatu katiko nanti.
Bahaso Agamo awak manyabuik-kan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”.
Mukasuiknyo; dari Allah awak ko datang, kapado Allah pulo kito ka babaliak.


Urang nan indak tau tampek babaliak,
biasonya sasek di tangah jalan.
Di situ lah sabananyo talatak cerdas (pintar, pandai) tu.
Urang awak di ranahbundo manyabuikkan,
urang nan cadiak tu iolah urang nan tau tampek babaliak.
Urang nan mangarati tampek pulang.
Jan di paturuikan sajo kato hati.
Mangarajokan nama nan taraso,
manuruik nama nan tampak,
atau maniru nama nan di karajo kan urang,
indak tau barih jo balabeh tu namonyo.
Buruak cando kato rang banyak.
Urang nan saroman nantun di dalam ciloteh urang banyak di katokan:
urang nan barajo di hati, nan basutan di mato.
Karano indak jaleh tampek pulang, mako nan tajadi …..


di kacak batih yo lah bak batih,
di kacak langan lah bak langan,
di kacak pinggang iyolah bak pinggang,
di agiah pitih sapitih manggaritih,
dapek pitih sakupang inyo manggaretang.
Disiko lah kalabiahan kito sabagai urang Minangkabau,
nan iduik jo adaik,
di tuntun dek agamo (Islam).
Sakitu dulu pangajian awak, kok ado wakatu dilain maso kito sambuang pulo. Insya Allah.
Mudah-mudahan kito dapek maambiak palajaran nan dalam untuk manampuah galombang hiduik nangko.
Amin.
.sumber. http://blogminangkabau.wordpress.com/2008/04/23/raso-di-baok-naiak-pareso-di-baok-turun-pasan-rang-gaek/

Selasa, 19 November 2013

0 PERANG PADRI ; gerakan Harimau Nan Salapan

imam-bonjol Apabila diteliti masa Perang Padri di daerah Sumatera Barat dalam abad ke-19 dapat digolongkan kepada beberapa priode, yaitu:
(a) Periode 1809 – 1821
Periode ini adalah merupakan pembersihan yang ditakukan oleh kaum Padri terhadap golongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan bertentangan dengan syari’at Islam. Dalam masa ini terjadilah pertempuran antara kaum Padri melawan golongan penghulu adat.
(b) Periode 1821 – 1832
Priode ini adalah merupakan pertempuran antara kaum Padri dengan Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial Belanda-Kristen yang mau menjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para penguasa bangsa sendiri yang berkolaborasi untuk mempertahankan eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum Padri.
(c) Periode 1832 – 1837
Periode ini adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Sumatera Barat, dimana kaum Padri dan golongan penghulu adat telah barsatu melawan penguasa kolonial Belanda-Kristen. Dalam masa ini rakyat Sumatera Barat dengan dipelopori dan dipmimpin oleh para ulama yang tergabunig dalam kaum Padri bahu-membahu di medan pertempuran untuk mengusir penguasa kolonial Belanda-Kristen dari Sumatera Barat.
Latar Belakang

Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787). Nama gerakan Wahabi sesunggulinya merupakan nama yang mempunyai konotasi yang kurang baik, yang diberikan oleh lawan-lawannya, sedangkan gerakan ini lebih senang dan menamakan dirinya sebagai kaum ‘Muwahhidin’ yaitu kaum yang konsisten dengan ajaran tauhid, yang merupakan landasan asasi ajaran Islam.
Paham kaum Muwahhidin (Wahabi) ini antara lain:
(a) Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah semata; dan siapa saja yang menyembah selain Allah, adalah musyrik;
(b) Umat Islam yang meminta safaat kepada para wali, syeikh atau ulama dan kekuatan ghaib yang dipandang memiliki dan mampu memberikan safaat adalah suatu kemusyrikan;
(c) Menyebut-nyebut nama Nabi, wali, ulama untuk dijadikan perantara dalam berdo’a adalah termasuk perbuatan syirik;
(d) Mengikuti shalat berjamaah adalah merupakan kewajiban;
(e) Merokok dan segala bentuk candu adalah haram;
(f) Memberantas segala bentuk kemunkaran dan ke¬maksiatan;
(g) Umat Islam, harus hidup sederhana, segala macam pakaian mewah dan berlebih-lebihan diharamkan.
Sifat gerakan Wahabi yang keras ini, benar-benar merupakan tenaga penggerak yang sanggup membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang sedang tidur lelap dalam keterbelakangannya. Dibantu dengan para sahahatnya seperti Ibnu Sa’ud dan Abdul Azis Ibnu Sa’ud, pemikiran dan cita-cita ini diwujudkan dalam gerakan yang keras, akhirnya pada tahun 1921 menjelma menjadi satu pemerintahan yang berdaulat di Saudi Arabia dengan ibukotanya Riyadh.
Paham dan gerakan Wahabi inilah yang mewarnai pandangan Haji Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 mereka kembali ke Sumatera Barat.
Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpendapat bahwa umat Islam di Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka di daerahnya masing-masing mereka mencoba memberikan fatwanya. Haji Muhammad Arifin di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa pindah ke Lintau. Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di Piabang yang tidak banyak mendapat halangan dan tantangan.
Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu Tuanku Nan Renceh di. Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai’ah (berjanji sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang berbai’ah ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan ‘Harimau Nan Salapan’.
Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi ‘imam’ atau pemimpin gerakan ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo menolak tawaran itu. Sebab pendirian Harimau Nan Salapan hendak dengan segera menjalankan syari’at Islam di setiap nagari yang telah ditaklukkannya. Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan.
Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang, tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam-khatib mantri dan dubalang.
Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak mungkin Tuanku Nan Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak Tuanku di Mansiangan, yaitu putera dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo, yakni guru daripada Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di Mansiangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo.
Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak daripada gurunya sendiri, sulitlah bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang gerakan ini. Padahal hakikatnya yang menjadi imam dari gerakan Hariman Nan Salapan adalah Tuanku Nan Renceh; sedangkan Tuanku di Mansiangan hanya sebagai simbol belaka.
Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan nama ‘Gerakan Padri’.
Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan Padri ini, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol dari Harimau Nan Salapan mencanangkan perjuangan padri ini dan memusatkan gerakannya di daerah Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu berada di tangan para penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang harus diambil alih oleh kaum Padri, dan berhasil dengan baik.
Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya gerakan Padri ini, ingin membuktikan sampai sejauh mana kemampuan para alim-ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan penyabungan ayam, main judi dan minum-¬minuman keras yang diramaikan dengan bermacam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikutnya seolah-olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya untuk betul-betul melaksanakan syari’at Islam secara keras.
Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri. Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti setengger (senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh tersebut untuk membubarkan pesta ‘maksiat’ yang diselenggarakan oleh golongan penghulu (penguasa). Sesampainya pasukan kaum Padri di Bukit Batabuh disambut dengan per¬tempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya di¬menangkan oleh pasukan kaum Padri. Dengan peristiwa Bukit Batabuh, berarti permulaan peperangan Padri.

Perang Padri ; Pemimpin Baru Tuanku Mudo Imam Bonjol

Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif bagi daerah-daerah yang menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan, kemudian menyusul daerah Tilatang. Dengan demikian seluruh Kamang telah berada di tangan kaum Padri.
Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah ber¬ada di dalam kekuasaan kaum Padri.
Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan yang keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo, sedangkan pengaruh para penghulu sangat tipis. Wibawa para penghulu berada di bawah pengaruh para ulama.
Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri.
Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah-daerah yang berada di dalam kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap nagari diangkat seorang ‘Imam dan seorang Kadhi’. Imam bertugas memimpin peribadahan seperti sembah¬yang berjamaah lima waktu sehari semalam, puasa, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari’at Islam dalam arti kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum.
Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin di daerah Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di sini pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat kekuasaan adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Di waktu itu Yang Dipertuan atau Raja Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah.
Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga orang raja yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu :
(a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang kekuasaan tertinggi di seluruh Minangkabau.
(b) Raja Adat, adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah adat.
(c) Raja Ibadat adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah agama.
Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh Basa Empat Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan Minangkabau di Pagaruyung. Mereka itu adalah :
- Dt. Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga orang lainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri;
- Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungan dengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya;
- Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat;
- Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari’at atau agama.
Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh yang bertindak sebagai Pang¬lima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah bersama pasukannya untuk mengamankannya.
Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat dalam kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat otonomi yang sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat diselesaikan oleh kepala nagari melalui kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya tidak selesai dalam nagari baru dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sana dengan kabupaten sekarang). Kalau masih belum selesai diteruskan ke Basa Empat Balai untuk selanjut¬nya diteruskan ke Raja Adat atau Raja Ibadat, tergantung pada masalahnya. Kalau semuanya tak dapat menyelesaikan masalahnya, maka akan diputuskan oleh Raja Minangkabau.
Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minangkabau dan stafnya dianggap satu bahaya besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka. Selain itu para bangsawan pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang yang telah turun-menurun akan lenyap, jika kaum Padri berkuasa.
Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minang¬kabau dari Luhak Agam, sering berpindah tangan, terkadang dikuasai pasukan Padri, terkadang dapat di¬rebut kembali oleh pasukan raja. Walaupun begitu, pasukan Padri makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi para penghulu, akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai mengadakan perundingan dengan kaum Padri.
Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808, sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri dalam perundingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dipimpin oleh Raja Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam pertemuan tersebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena gencatan senjata telah disepakati sebelumnya.
Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat meledak men¬jadi perkelahian dan pertumpahan darah.
Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarga¬nya mati terbunuh dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan.
Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah disepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian.
Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah kepada kaum Padri tanpa perlawanan, karena takut melihat pengalaman di Koto Tangah.
Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah memerintahkan salah seorang murid¬nya yang bernama Malin Basa atau Peto Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat, sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin Basa, yang kemudian bergelar Tuanku Mudo untuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang murid yang pandai, alim dan berani.
Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri dan guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Dengan bantuan seluruh umat Islam yang tinggal di sekitarAlahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak kurang dari 5000 orang, akhirnya ‘Benteng Bonjol’ yang terletak di bukit Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya kira-kira 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami pagar aur berduri yang sangat rapat.
Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang lengkap dengan perkampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka benteng Bonjol juga diperlengkapi dengan persenjataan perang, guna setiap saat siap menghadapi pertempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku Mudo yang bertindak sebagai ‘imam’ dari masyarakat benteng Bonjol, yang sesuai dengan struktur pemerintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tuanku Mudo digelari dengan ‘Imam Bonjol’.
Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerintahan lengkap berdiri, Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol.
Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia kemudian diangkat menjadi pe¬mimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara.
Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau. Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedangkan benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.
Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil, tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah-daerah di sini bagitu setia untuk menjalankan syari’at Islain secara penuh, sesuai dengan missi yang diemban oleh gerakan Padri.

Perang Padri ; akhir keberpihakan golongan penghulu terhadap Belanda

Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah pesisir barat Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku Pamansiangan salah seorang pemimpin di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam Bonjol untuk menarik pasukan Padri dari Tapanuli Selatan dan menggempur kedudukan Belanda di Padang yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah terima kekuasaan dari Inggeris (1819). Tetapi perwira-perwira Padri seperti Tuanku Raos, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo dari Tapanuli Selatan ber¬kebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam Bonjol hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui kurir-kurir yang sengaja dikirim ke sana.
Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah ter¬sebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Tuanku Rao gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.
Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi pasukan Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama ini kekuasaannya telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu Minangkabau mengadakan perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk memerangi kaum Padri. Para penghulu yang mengatasnamakan yang Dipertuan Minangkabau langsung mengikat perjanjian kerjasama dengan Residen Belanda di Padang yang bernama Du Puy.
Dengan terjalinnya kerjasama antara para penghulu dengan Belanda, maka berarti kaum Padri akan menghadapi bahaya besar. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba Tuanku Nan Renceh, Yang menjadi pimpinan tertinggi kaum Padri yang gemilang pada tahun 1820 wafat. Kekosongan ini secara demokrasi diisi oleh Iman Bonjol. Atas persetujuan para perwira pasukan Padri, Imam Bonjol langsung memimpin gerakan Padri untuk menghadapi pasukan gabungan Belanda-Penghulu.
Pada tahun 1821 pertahanan Belanda di Semawang diserang oleh pasukan Padri; sedangkan pasukan Belanda yang mencoba memasuki Lintau dicerai-beraikan. Untuk menguasai medan, pasukan Belanda membuat benteng di Batusangkar dengan nama ‘Benteng atau Fort van der Capellen’. Berulang kali pasukan Belanda-Penghulu menyerang kedudukan pasukan Padri di Lintau, tetapi selalu mendapati kegagalan, bahkan pernah pasukan Belanda-Penghulu terjebak.
Perlawanan yang sengit dari pasukan Padri, mendorong Belanda untuk memperkuat pasukannya di Padang. Pada akhir tahun 1821 Belanda mengirimkan pasukannya dari Batavia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff. Dengan bantuan militer yang lengkap persenjataannya, pasukan Belanda melakukan ofensif terhadap kedudukan pasukan Padri.
Operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda-Penghulu ditujukan ke daerah yang dianggap strategis yaitu Luhak Tanah Datar. Dengan menaklukkan Luhak Tanah Datar, yang berpusat di Pagaruyung, menurut dugaan Belanda perlawanan pasukan Padri akan mudah ditumpas. Oleh karena itu pada tahun 1822 pasukan Belanda-Penghulu di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff menyerang Pagaruyung. Pertempuran sengit terjadi, korban dari kedua pihak banyak yang berjatuhan. Karena kekuatan yang tidak seimbang, akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri ke daerah Lintau setelah meninggalkan korban di pihak Belanda yang cakup besar.
Usaha pengejaran dilakukan terus oleh pasukan Belanda dengan jalan mendatangkan bantuan dari Batusangkar. Tetapi pasukan Belanda sesampainya di Lintau seluruhnya dapat dipukul mundur dan terpaksa kembali ke pangkalan mereka di Batusangkar.
Setelah Belanda memperkuat diri, ofensif dilakukan kembali dengan jalan memblokade daerah Lintau, sehingga terputus hubungannya dengan Luhak Lima Puluh Kota dan Luhak Agam. Walaupun nagari Tanjung Alam dapat direbut oleh pasukan Belanda, tetapi usaha¬nya untuk merebut Lintau dapat dipatahkan, karena pasukan Padri di Luhak Agam di bawah pimpinan Tuanku Pamansiangan memberikan perlawanan yang sengit. Kemudian Letnan Kolonel Raaff menyusun kembali pasukannya untuk merebut Luhak Agam, Koto Lawas, Pandai Sikat dan Gunung; dan kali ini berhasil, setelah melalui pertempuran dahsyat, di mana Tuanku Pamansiangan dapat tertangkap, yang kemudian dihukum gantung oleh Belanda.
Pada akhir tahun 1822 pasukan Padri di bawah pimpinan Imam Bonjol melakukan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di berbagai daerah yang pernah didudukinya. Pertama-tama Air Bangis mendapat serang¬an pasukan Padri. Operasi ke Air Bangis ini langsung dipimpin oleh Imam Bonjol dibantu oleh perwira-perwira pasukan Padri dari Tapanuli Selatan. Hanya dengan pertahanan yang luar biasa dan dibantu dengan tembakan-tembakan meriam laut, Air Bangis dapat selamat dari serangan pasukan Padri. Kegagalan ini, pasukan Padri mencoba merebut kembali daerah Luhak Agam. Serangan pasukan Padri ke daerah ini berhasil merebut kembali daerah Sungai Puar, Gunung, Sigandang dan beberapa daerah lainnya.
Awal tahun 1823 Kolonel Raaff mendapatkan tambahan pasukan militer dari Batavia. Dengan kekuatan baru, pasukan Belanda mengadakan operasi militer besar-besaran untuk merebut seluruh Luhak Tanah Datar. Tetapi di bukit Marapalam terjadi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri selama tiga hari tiga malam, sehingga Belanda terpaksa harus mengundurkan diri. Tetapi operasi militer Belanda itu diarahkan ke Luhak Agam seperti daerah Biaro dan Gunung Singgalang. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri, tetapi karena kekuatan pasukan Belanda jauh lebih besar, akhirnya daerah-daerah itu dapat direbutnya. Kemenangan pasukan Belanda diikuti oleh tindakan biadab dengan jalan melakukan pembunuhan massal terhadap penduduk, besar-kecil, laki-laki maupun perempuan.
Pengalaman pertempuran selama tahun 1823, membuat Belanda berhitung dua kali. Sebab banyak daerah yang telah direbutnya, ternyata dapat kembali diambil oleh pasukan Padri. Operasi militer besar-besaran dengan tambahan pasukan dari Batavia terbukti tidak dapat menumpas pasukan Padri. Oleh karena itu, untuk kepentingan konsolidasi, Belanda berusaha untuk mengadakan perjanjian gencatan senjata. Usaha ini berhasil, sehingga pada tanggal 22 Januari 1824 perjanjian gencatan senjata di Masang ditanda-tangani oleh Belanda dan kaum Padri.
Perjanjian Masang hanya dapat bertahan kira-kira satu bulan lebih sedikit. Sebab Belanda dengan tiba-tiba mengadakan gerakan militer ke daerah Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam. Melalui pertempuran dahsyat, pusat Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam dapat sepenuhnya dikuasai pasukan Belanda, dan mereka mendirikan benteng dengan nama Fort de Kock di sana. Dengan kekalahan pasukan Padri di Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam, maka Imam Bonjol memusatkan kekuatan kaum Padri di benteng Bonjol dan sekitarnya sambil sekaligus melakukan konsolidasi pasukan yang telah jenuh berperang selama lebih dari duapuluh tahun lamanya.
Sementara itu pada tahun 1825 di Jawa telah pecah perang Jawa. Dengan timbulnya perang Jawa ini, ke¬kuatan pasukan Belanda menjadi terpecah dua: sebagian untuk menghadapi perang Padri yang tak kunjung selesai, dan yang sebagian lagi harus menghadapi Perang Jawa yang baru muncul. Karena perang Jawa dianggap oleh Belanda lebih strategis dan dapat mengancam ek¬sistensi Belanda di Batavia, pusat pemerintahan kolonial Belanda (Hindia Belanda), maka mau tidak mau semua kekuatau militer harus dipusatkan untuk menghadapi perang Jawa.
Untuk itu perlu ditempuh satu kebijaksanaan guna mengadakan perdamaian kembali dengan kaum Padri di Sumatera Barat. Pada tahun 1825 usaha perdamaian dan gencatan senjata dengan kaum Padri berhasil dicapai, dengan jalan mengakui kedaulatan kaum Padri di be¬berapa daerah Minangkabau yang memang masih secara penuh dikuasairiya. Perjanjian damai dan gencatan senjata dipergunakan oleh Belanda untuk menarik pasukannya dari Sumatera Barat setanyak 4300 orang, dan mensisakannya hanya 700 orang saja lagi. Pasukan sisa sebanyak 700 orang serdadu itu, digunakan hanya untuk menjaga benteng dan pusat-pusat pertahanan Belanda di Sumatera Barat.
Setelah Perang Jawa selesai dan kemenangan diperoleh oleh penguasa kolonial Belanda, maka kekuatan militer Belanda di Jawa sebagian terbesar dibawa ke Sumatera Barat untuk menghadapi Perang Padri. Dengan kekuatan militer yang besar Belanda melakukan serangan ke daerah pertahanan pasukan Padri. Pada akhir tahun 1831, Katiagan kota pelabuhan yang men¬jadi pusat perdagangan kaum Padri direbut oleh pasukan Belanda. Kemudian berturut-turut Marapalam jatuh pada akhir 1831, Kapau, Kamang dan Lintau jatuh pada tahun 1832, dan Matur serta Masang dikuasai Belanda pada tahun 1834.
Kejatuhan daerah-daerah pelabuhan ke tangan Belanda mendorong kaum Padri, yang memusatkan kekuatannya di benteng Bonjol, mencari jalan jalur per¬dagangan melalui sungai Rokan, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, di mana sebuah anak sungai Kampar kanan dapat dilayari sampai dekat Bonjol. Hubungan Bonjol ke timur melalui anak sungai tersebut sampai ke Pelalawan, dan dari sana bisa terus ke Penang dan Singapura, dapat dikuasai. Tetapi jalur pelayaran ini, pada akhir tahun 1834 dapat direbut oleh Belanda. Dengan demikian posisi pasukan Padri yang berpusat di benteng Bonjol mendapat kesulitan, terutama dalam memperoleh suplai bahan makanan dan persenjataan.
Kemenangan yang gilang-gemilang diperoleh pasukan Belanda menimbulkan kecemasan para golong¬an penghulu, yang selama ini telah membantunya. Kekuasaan yang diharapkan para penghulu dapat di¬pegangnya kembali, ternyata setelah kemenangan Belanda menjadi buyar. Sikap sombong dan moral yang bejat yang dipertontonkan oleh pasukan Belanda-¬Kristen, seperti menjadikan masjid sebagai tempat asrama militer dan tempat minum-minuman keras, mengusir rakyat kecil dari rumah-rumah mereka, pembantaian massal, pemerkosaan terhadap wanita-¬wanita, memanjakan orang-orang Cina dengan memberi kesempatan menguasai perekonomian rakyat, akhirnya menimbulkan rasa benci dan tak puas dari golongan penghulu kepada Belanda. Kebencian dan kemarahan para penghulu menumbuhkan rasa harga diri untuk mengusir Belanda dari daerah Minangkabau untuk me¬lakukan perlawanan terhadap Belanda secara sendirian tidak mampu, karenanya perlu adanya kerjasama dengan kaum Padri.
Uluran tangan golongan penghulu disambut baik oleh kaum Padri. Perjanjian kerjasama dan ikrar antara golongan penghulu dengan kaum Padri untuk mengusir Belanda, dari tanah Minangkabau dilaksanakan pada akhir tahun 1832 bertempat di lereng gunung Tandikat. Gerakan perlawanan rakyat Sumatera Barat terhadap Belanda dipimpin langsung oleh Imam Bonjol.
 Baca Berikutnya.......