Minggu, 29 Juni 2014

1 Peristiwa Situjuah

Sejarah PDRI Yang Terlupakan

KRONOLOGIS SEJARAH PDRI (19 DESEMBER 1948 – 13 JULI 1949)


peristiwa situjuah adalah Rangkaian Perjuangan PDRI yang dicabik-cabik oleh Belanda”

19 Desember 1948
Yogyakarta dan Bukittinggi diserang oleh Belanda, secara serentak Kabinet Hatta mengeluarkan dua surat mandat tentang pembentukan Pemerintah Darurat untuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi dan Mr. A.A. Maramis di New Delhi. Pada saat yang sama Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengadakan rapat darurat dengan para pemimpin di Bukittinggi dan mengumumkan secara terbatas tentang pembentukan PDRI.

20 Desember 1948
Rapat-rapat dilakukan di Bukittinggi, sementara arus pengungsi keluar kota mulai terjadi. Kepala Staf AURI Komodor H. Soejono memerintahkan penyelamatan dua Stasiun Radio PHB AURI dengan membawanya ke Halaban (Payakumbuh Selatan) dan Piobang, Stasiun Radio tersebut adalah :
a. Stasiun Radio di bawah Opsir Udara III Luhukay.
b. Stasiun Radio di bawah Opsir Udara III M.S. Tamimi.

21 Desember 1948

Rombongan pemerintah sipil, termasuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Teuku Hasan meninggalkan Bukittinggi untuk seterusnya mengungsi ke Halaban. Kepala Kepolisian Sumatera Barat , Komisaris Sulaiman Efendi dan sejumlah pemimpin menyingkir ke Lubuk Sikaping, Pasaman. Stasiun Radio AURI pimpinan Lahukay tiba Halaban, tetapi tidak sempat mengudara, karena dibumihanguskan di Halaban. Stasiun Radio Pemancar pimpinan M. Jacob Loebis sampai di Piobang, Payakumbuh untuk seterusnya dibawa ke Koto Tinggi, tengah malam Kota Bukittinggi dibumihanguskan.


22 Desembar 1948

Pembentukan Kabinet PDRI di Halaban. Stasiun Radio PHB AURI Pimpinan Tamimi diserahkan oleh Komondor H. Soejono Kepala PDRI (Sjafruddin Prawiranegara) untuk melayani komunikasi radio Mr. Sjafruddin Prawiranegara beserta rombongannya. Stasiun Radio itu ikut serta bergerilya hingga ke tempat pengungsian di Bidar Alam.

23 Desembar 1948

Stasiun Radio Tamimi di Halaban untuk pertama kali dapat berhubungan dengan Stasiun Radio AURI yang lain, baik yang berada di Jawa maupun di Sumatera (Ranau, Jambi, Siborong-Borong dan Kotaraja). Sjafruddin Prawiranegara merasa gembira menerima laporan tes kemampuan Stasiun Radio PDRI, dan memngumumkan berdirinya PDRI.

24 Desembar 1948

Menjelang Subuh, rombongan PDRI di bawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Halaban menuju Pekan Baru, melalui Lubuk Bangku dan Bakinang. Stasiun Radio Tamimi dengan semua peralatan pengirim dan penerima ditempatkan pada sebuah Jip, mengikuti rombongan PDRI Awak (Crew) Stasiun Radio tersebut adalah :

1. Opsir Udara M.S. Tamimi sebagai Kepala
2. Sersan Mayor Udara Kusnadi. sebagai Teknisi merangkap Teloegrafis
3. Sersan Mayor Udara R. Oedojo, Telegrafis
4. Kopral Udara Zainal Abidin,Telegrafis Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.
5. Letnan Muda Udara III Umar Said Noor, Bagian Sandi
Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.

Stasiun Radio Tamimi mengunakan kode pangil (Call Sign) “UDO” singkatan dari Oedojo. Sering dipakai juga Call Sign “KND” atau “ZAY” singkatan dari Kusnadi dan Zainal Abidin. Type sender yang digunakan ialah MK III 19 Set.

24 - 26 Desembar 1948

Rombongan Rasjid tiba di Koto Tinggi, dilengkapi dengan beberapa set perlengkapan Stasiun Radio :

a.Stasiun Radio AURI yang melayani Gubernur Sumatera Barat/Tengah di Koto Tinggi adalah Stasiun Radio ZZ di bawah pimpinan Opsir Muda Udara I M. Jacob dengan ahli telegaf antara lain Zainul Aziz, Soesatyo, Soegianto, Soeryo.

b.Stasiun Radio AURI yang bertugas mulai 22 Desember 1948 sampai 11 November 1948 mengikuti Gubernur Sumatera Barat/Tengah Mr. Rasjid dengan type sender : TCS-10

c.Stasiun Radio yang berpindah-pindah tempat, mulai dari Desa Koto Tinggi, Puar Datar (di sini hampir saja Stasiun Radio ini diketahui olah Belanda yang menyerbu Puar Datar, tetapi berkat kesiagaan dan kegesitan para awak pihak Belanda dapat dikelabui), Sungai Dadok sampai Mudik Dadok. Sebelum memasuki Kota via Piobang, pada tanggal 11 November 1948, Stasiun Radio ini beroperasi di Sungai Rimbang, Stasiun Radio AURI ini mampu berhubungan pula dengan Jawa dan Luar Negeri (India).

d.Stasiun Radio AURI yang melayani Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Koto Tinggi, antara 19 Juni 1949 dan 8 Juli 1949, berakhir saat tokoh ini berangkat ke Yogyakarta.

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berada di Bangkinang. Sewaktu rombongan berada di Bangkinang. Belanda yang mengunakan pesawat-pesawat P-51 menyerang dengan bom.
Stasiun Radio mengirim berita ke Pangkalan Udara Jambi, menyampaikan permintaan PDRI agar pesawat RI 005 PBY (AU) diterbangkan kesalah satu sungai di Riau, ternyata kemudian pada tanggal 29 Desember 1948 ketika Belanda menyerbu Kota Jambi, pesawat yang dimaksud tenggelam di Sungai Batang Hari saat berusaha lepas landas.

27 - 28 Desembar 1948

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara segera meninggalkan Bangkinang, menuju Tarakan Buluh dan menyeberangi Sungai Kampar untuk meneruskan perjalanan ke Teluk Kuantan. Beberapa sadan ditinggalkan dan ditenggelamkan ke dalam sungai. Setelah melewati beberapa kampong antara lain Lipat Kain dan Muara Lembu, Jip berisi peralatan Sender terbalik, masuk kubangan lumpur beserta seluruh penumpangnya. Penumpang Jip itu adalah

Sjafruddin Prawiranegara, Tumimi (yang bertindak sebagai sopir), Oedojo dan Kusnadi. Sjafruddin Prawiranegara kehilangan kacamatanya, untunglah jip beserta peralatan pengirim tidak mengalami kerusakan, meskipun memerlukan waktu sehari semalam untuk dibersihkan dan dikeringkan. Sedangkan Sjafruddin Prawiranegaraberuntung mendapatkan kacamata “baru” dari seorang Dokter yang bertugas di wilayahn itu.

29 Desembar 1948

Perjalanan diteruskan ke Teluk Kuantan, ditepi Sungai Kuantan mereka menginap. Sementara itu Panglima Kol. Hidayat singah di Koto Tinggi dalam perjalanan cross-country dari Selatan ke Utara Sumatera, hingga ke Aceh. Hidayat mengadakan rapat dengtan Gubernur Rasjid dan mengambil keputusan merombak Pemerintahan Sipil menjadi Pemerintahan Militer. Semua pejabat Gubernur Sipil dan segenap jajarannya dimiliterkan dan semua Wakil Gubernur diangkat dari Tokoh Militer.

30 - 31 Desembar 1948

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dari Taluk ke Sungai Dareh, semua kendaraan di tinggalkan di Taluk. Pada suatu tempat tertentu antara Taluk dan Sungai Dareh peralatan Sender diangkut melalui hutan dengan Lori bekas Jepang. Penumpang Lori hanya dua orang yaitu : Ir. Indra Tjahja sebagai masinis dan Oedojo (Telegrafis) sebagai penjaga peralatan Sender.

1 Januari 1949

Tahun Baru rombongan menginap selama tiga hari di Sungai Dareh, beristirahat dan merayakan tahun baru. Stasiun Radio sempat mengirimkan Ucapan Selamat tahun Baru kepada seluruh Stasiun Radio AURI di Jawa dan Sumatera yang melayani Pemerintahan Sipilo dan Militer.

3 Januari 1949

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berangkat dari Sungai Dareh ke Bidar Alam via Aabi Siat dan Abai Sangir. Rombongan dibagi menjadi tiga : (1) Rombongan Induk dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara, menempuh jalur Sungai Batang Hari dengan mempergunakan sampan yang digerakan dengan dayung dan galah dari bamboo. (2) Rombongan Keuangan dipimpin oleh Mr. Loekman Hakim (Menteri Keuangan PDRI) menuju Muara Tebo dengan naik perahu bermotor, membawa klise oeang RI Poeloe Sumatera (ORIPS) untuk dicetak di Muaro Bungo. (3) Rombongan Satsiun Radio dipimpin oleh Wakil PDRI Mr. Teuku Hasan, mengambil jalan darat karena takut tenggelam, dengan berjalan kaki menuju Abai (setelah berpisah kurang lebih 2 minggu mereka bertemu kembali di Bidar Alam).

(Keterangan mengenai ORIPS : Mesin Cetak Uang RI Muaro Bungo dirakit oleh anggota-anggota AURI dari Jambi, yang dipimpin Opsir Udara III Soejono, dari bekas mesin cetak biasa. Hasil cetakan ORIPS itu diserahkan kepada Mr. Loekman Hakim, Menteri Keuangan PDRI dan dibagi-bagikan kepada pemerintah setempat di Muaro Bungo).

4 - 5 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio tiba di Abai Siat dan bersiap-siap menuju Abai Sangir (“From Abai to Abai”). Beberapa peralatan sender yang tidak begitu penting terpaksa ditinggalkan ditengah perjalanan kerena medan yang ditempuh sangat berat.

7 – 9 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio beristirahat selama kurang lebih satu minggu di Abai Sangir. Ketika rombongan stasiun radio berada di Sangir, rombongan keuangan yang dipimpin Mr. Loekman Hakim sudah tiba di Muara Tebo dan siap-siap melanjutkan ke Bidar Alam. Selama di Abai Sangir, stasiun radio tetap mengudara.

10 Januari 1949

Belanda menyerang Koto Tinggi dari basisnya di Payakumbuh.

15 Januari 1949

Tragedi Situjuh Batur. Rapat Besar Pimpinan Sumatera Barat di Situjuh Batur digrebek Patroli Belanda. Banyak Korban jatuh termasuk beberapa Tokoh Paling Terkemuka di Sumatera Barat (antara lain Ketua MPRD, Chatib Soelaiman) dan Puluhan Prajurit dan BNPK di Nagari itu. Antara lain yang dimakamkan di Situjuh Batur yaitu :
1 CH. SULAIMAN MPRD
2 ARISUN ST. ALAMSYAH BUPATI
3 MUNIR LATIF LETKOL
4 ZAINUDDIN MAYOR
5 TANTAWI KAPTEN
6 AZINAR LAETNA I
7 SYAMSUL BAHRI LETNAN II
8 RUSLI SOPIR
9 SYAMSUDIN PMT

Yang dimakamkan di Situjuh Banda Dalam adalah :
1 M. ZEIN BPNK
2 RAMLI BPNK
3 SYAMSUL KAMAL BPNK
4 KAMASYHUR BPNK
5 NAKUMAN BPNK
6 MANGKUTO BPNK
7 AHMAD BPNK
8 RAJIMAN BPNK

Yang dimakamkan di Situjuh Gadang adalah :
1 RAUDANI LETDA
2 ABDUDIS LETDA
3 AGUS YATIM LETTU
4 AZIS JUNAID LETTU
5 ABAS HASAN SERMA
6 DARUHAN SERMA
7 RASYID SIRIN KOPTU
8 Y. MALIKI BPNK
9 HASAN BASRI BPNK
10 BURHAN BPNK
11 ALI AMRAN BPNK
12 SYAFWANEFF BPNK
13 A. MALIK BPNK

16 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio beserta Mr. Teuku Hasan tiba di Bidar Alam, rombongan Sjafruddin Prawiranegara sudah tiba disana terlebih dahulu. Sekitar minggu terakhir Januari 1949, seluruh rombongan secara lengkap sudah berada di Bidar Alam.

17 Januari 1949

Stasiun Radio PDRI berhasil melakukan kontak dengan New Delhi.

21 Januari 1949

Sjafruddin Prawiranegara mengirimkan ucapan selamat kepada Nehru dan peserta Konferensi New Delhi tentang Indonesia.

22 Januari 1949

Konferensi New Delhi yang dihadiri oleh 19 Delegasi Negara Asia, termasuk Delegasi Peninjau, mengeluarkan Resolusi (Resolusi New Delhi), yang berisi protes terhadap agresi Militer Belanda dan menuntut pengembalian Tawanan Politik (Soekarno-Hatta) dan semua pemimpin Republik ke Yogyakarta.

23 Januari 1949

Mr. Rasjid dari Koto Tinggi, mengirimkan ucapan selamat atas keberhasilan Konferensi New Delhi.

28 Januari 1949

DK-PBB mengeluarkan resolusi tentang masalah Indonesia.

29 Januari 1949

Hubungan PDRI dengan para pemimpin di Jawa mulai dapat dibuka lewat telegram Kol. T.B. Simatupang, Wakil Kepala Staf APRI, yang melaporkan perkembangan di Jawa kepada PDRI Pusat di Sumatera. Laporan ini kemudian pada 12 Februari 1949 disusul dengan laporan Kol. A.H. Nasution kepada Ketua PDRI.

7 Februari 1949

Menteri Kasimo, atas nama KPPD melaporkan perkembangan terakhir di Jawa sebagai tanggapan atas telegram Ketua PDRI, 15 Januari 1949.

8 – 30 Februari 1949

Komunikasi antar Tokoh PDRI di Sumatera dan Jawa dapat diintensifkan sehingga kepemimpinan dan strategi perjuangan menghadapi kekuatan militer Belanda semakin Terkonsolidasi.
Prakrasa perundingan yang disponsori oleh Badan PBB, UNCI, antara para pemimpin yang ditawan di Bangka dengan para petinggi Belanda di Jakrta di bawah pimpinan Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr. Beel.

28 Februari – Maret 1949

Serangan balik ke Ibu Kota berdasarkan gagasan cemerlang penguasa tertinggi Republik di Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono. Serangan itu dilaksanakan oleh para prajurit yang bermarkas di sekitar Yogya, dipimpin oleh Letkol Soeharto.

2 – 29 Maret 1949

Kontak antara PDRI di Sumatera dan PDRI di Jawa.

3 Maret 1949

Stasiun Radio Dick Tamimi di Bidar Alam menerima radiogram dari Wonosari tentang serangan 1 Maret 1949 (“6 jam di Yogya”). Radiogram tersebut langsung dikirim keseluruh Satsiun Radio AURI di Sumatera, termasuk Koto Tinggi, Aceh. Kabar itu, oleh Stasiun Radio AURI di Koto Tinggi, dikirimkan pula ke Perwakilan RI di New Delhi melalui surat stasiun radio di India. Berita yang sama juga disebarkan oleh Stasiun Radio AURI di Aceh (belakangan diketahui bahwa stasiun radio AURI tersebut berada di Desa Tangse dan di Kota Kotaraja), yang ternyata mempunyai hubungan dengan Stasiun Radio Angkatan Darat Burma. Atas izin pemimpin AD Burma saat itu, Stasiun Radio Angkatan Darat Burma dapat dipergunakan oleh Opsir Muda Udara III Soemarno untuk berhubungan dengan Stasiun Radio AURI di Aceh. Soemarno, telegrafis, bersama Opsir Udara III Wiweko, penerbangan berada di Burma dalam rangka penerbangan RI Seulawah.

31 Maret 1949
Penyempurnaan Susunan Kabinet PDRI. Keanggotaan Kabinet diperlengkapi dengan para Menteri yang masih aktif di Jawa, termasuk Mr. Maramis, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, yang diangkat sebagai Menteri Luar Negeri PDRI berkedudukan di New Delhi.

1 April 1949
Panglima Besar Soedirman akhirnya memilih menetap di Desa Sobo, setelah mengungsi dan bergerilya sejak mundur dari Yogya, Subuh 19 Desember 1948 dia menetap di Desa itu hingga kembali ke Yogya 10 Juli 1949.

15 – 25 April 1949
Rombongan Sjafruddin Prawiranegara secara bertahap meninggalkan Bidar Alam menuju Sumpur Kudus, tempat musyawarah besar pimpinan PDRI akan diadakan.

4 Mei 1949
Rombongan Gubernur Militer Mr. Rasjid dari Koto Tinggi dan Mr. Moh. Nasroen, mantan Wakil Gubernur Sumatera Tengah yang diangkat sebagai Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera Tengah, tiba di Sumpur Kudus.

5 Mei 1949
Rombongan PDRI Sjafruddin Prawiranegara, secara lengkap tiba di Desa Calau, Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui desa-desa antara lain Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tapus, Durian Gadang, Menganti (menginap satu malam) dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.

7 Mei 1949
Pernyataan Roem-Royen di Jakarta, disusul dengan reaksi keras dari pihak oposisi, PDRI dan Panglima Besar Soedirman.

9 Mei 1949
Rombongan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Calau, menuju ke Sumpur Kudus. Setelah menempuh satu hari perjalanan, rombongan tiba disebuah dataran tinggi. Saat itu anggota rombongan dipecah tiga : Sjafruddin Prawiranegara ke Desa Silangit dan Silantai, Stasiun Radio Sjafruddin ke Desa Guguk Siaur dan rombongan Keuangan ke Desa Padang Aur dam desa-desa lain sekitarnya. Di Daerah Ampalu itu, kru Stasiun Radio AURI bertemu dengan Kru Stasiun Radio PTT di Desa Tamporunggo, Sungai Naning dan desa-desa lain. Sejak saat itu, kegiatan Stasiun Radio Dick Tamimi semakin intensif.

14 – 17 Mei 1949
Sidang Paripurna Kabinet PDRI di Silantai, Sumpur Kudus di daerah Ampalu. Di tempat itu berkumpul semua anggota Kabinet PDRI yang berada di Bidar Alam dan Koto Tinggi, untuk membicarakan reaksi PDRI terhadap prakarsa perundingan yang dilakukan oleh para pemimpin yang ditawan di Bangka (Pimpinan Soekarno – Hatta). PDRI mengeluarkan pernyataan yang menolak prakarsa perundingan kelompok Bangka.


18 Mei – 19 Juni 1949
Sjafruddin tidak kembali ke Bidar Alam, melainkan tetap bersama seluruh anggota rombongan berangkat ke Koto Tinggi.

2 Juni 1949
Sjafruddin melakukan kontak radiogram dengan Hatta, via Kol. Hidayat, Panglima Sumatera yang bermarkas di Aceh.

5 – 10 Juni 1949
Hatta berangkat ke Aceh untuk mencari PDRI

19 Juni – 30 Juli 1949
Stasiun Radio AURI Tamimi (walaupun tanpa Tamimi lagi, karena yang bersangkutan telah ikut ke Koto Tinggi) masih berada di Siaur untuk beristirahat. Mereka ikut berpuasa dan berlebaran di Desa Siaur, pada tanggal 27 juli 1949.

2 – 3 Juli 1949
Utusan Hatta (terdiri dari dr. Leimena, Moh. Natsir dan dr. A. Halim) yang hendak menemui Sjafruddin di Koto Tinggi, tiba di Padang. Setelah menginap satu malam di Hotel Muaro, mereka berangkat dengan konvoi ke Bukittinggi dan seterusnya ke Payakumbuh. Keadaan pada waktu itu belum aman, sehingga kendaraan mereka paling kurang harus berhenti lima kali, karena dicegat oleh Gerilyawan.

6 – 7 Juli 1949
Perundingan antara utusan Hatta dan PDRI berlangsung di Koto Kaciak, Padang Japang Payakumbuh. Setelah melalui perundingan yang alot dan menegangkan, Sjafruddin berhasil diajak kembali ke Yogya, menandai terjadinya rujuk antara PDRI dan kelompok Bangka.

6 – 8 Juli 1949
Rombongan pemimpin dari Bangka tiba di Yogya. Dua hari kemudian utusan Hatta tiba pula di Ibu Kota.

10 Juli 1949
Sjafruddin dan Panglima Besar Soedirman memasuki Yogya. Sjafruddin bertindak sebagai Inspektur upacara penyambutan para pemimpin yang kembali ke Yogya.

13 Juli 1949
Sidang Kabinet Hatta pertama sejak Agresi kedua Belanda dengan acara pokok pengembalian Mandat PDRI oleh Sjafruddin kepada Soekarno – Hatta.

25 Juli 1949
Badan Pekerja KNIP dalam sidang pertama yang dipimpin Mr. Asaat, menyetujui pernyataan Roem Royen, tetapi dengan persyaratan yang diajukan PDRI melalui pengumuman pada 14 Juni. Persyaratan itu adalah : (1) TNI tetap berada di daerah yang didudukinya; (2) Tentara Belanda harus ditarik dari daerah yang didudukinya; (3) Pemulihan Pemerintah RI di Yogyakarta harus dilakukan dengan tanpa syarat.

Sejak itu, babak baru sejarah perjuangan memasuki tahap akhir, hingga menyerahkan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia (RIS) pada tanggal 27 Desember 1949.

Daftar Pustaka :
Mestika Zed, Somewhere in the Jungle
Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Sebuah Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan
Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1997, hal.335.

By ; Biro Humas, dikutip dari buku saku Panpel Mubes Yayasan (Peduli Perjuangan) PDRI Th.2003
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peristiwa Situjuah adalah suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya.

PDRI

PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) adalah suatu pemerintahan darurat yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 1948 oleh beberapa orang pimpinan pejuang kemerdekaan Indonesia dan dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pemerintahan itu dibentuk karena ditangkap dan diasingkan-nya beberapa orang pemimpin Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim serta Sjahrir dan lainnya oleh pihak Belanda ketika terjadinya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
Ibukota PDRI adalah Bukittinggi, namun perjuangannya lebih banyak terjadi di desa-desa dan hutan-hutan Sumatera Tengah sehingga disebut "Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia" (PDRI) oleh pihak Belanda. Sedangkan lokasinya disebut "Somewhere in the Jungle".

Patriot Bangsa

Dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949, dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda. Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).
Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota Payakumbuh yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota itu sambil menggelorakan semangat perlawanan gerilya rakyat untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan. Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta, serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.
Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnya-pun gugur seketika.
Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu dikenang sebagai "Peristiwa Situjuah".

Senin, 23 Juni 2014

0 Biografi Mohammad Natsir - Pahlawan Indonesia

Biografi, Mohammad Natsir, Pahlawan Indonesia, Tokoh Indonesia, Profil
Beliau dikenal sebagai negarawan ataupun sebagai tokoh pergerakan islam pada saat sebelum dan sesudah Indonesia Merdeka. Ia merupakan tokoh Indonesia yang paling sederhana sepanjang masa. Artikel kali ini akan mengangkat tentang biografi Mohammad Natsir yang merupakan salah satu Pahlawan Indonesia dan juga tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, kabupaten Solok, Sumatera Barat tepatnya pada tangga 17 Juli 1908 ia merupakan anak dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado serta Khadijah. Ia mempunyai 3 orang saudara kandung, yang bernama Yukinan, Rubiah, serta Yohanusun. Jabatan ayahnya yaitu pegawai pemerintahan di Alahan Panjang, sedang kakeknya adalah seorang ulama. Ia nantinya akan menjadi pemangku kebiasaan atau adat untuk kaumnya yang berasal Maninjau, Tanjung Raya, Agam dengan gelar Datuk Sinaro nan Panjang.

Natsir mulai mengenyam pendidikan selama dua tahun di Sekolah Rakyat Maninjau, kemudian ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Padang. Selama beberapa bulan bersekolah disana ia kemudian pindah ke Solok dan dititipkan dirumah saudagar yang bernama Haji Musa. Tak hanya belajar di HIS di Solok pada siang hari, ia juga belajar pengetahuan agama Islam di Madrasah Diniyah saat malam hari. Ia kemudian pindah setelah tiga tahun ke HIS di Padang bersama-sama kakaknya. Kemudian tahun 1923, ia meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) lalu kemudian ia pubn bergabung dengan perhimpunan-perhimpunan pemuda seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij serta Jong Islamieten Bond. Sesudah lulus dari MULO, ia selanjutnya pindah ke Bandung untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) sampai tamat pada tahun 1930. Di tahun 1928 hingga 1932, ia kemudian menjadi ketua Jong Islamieten Bond (JIB) Bandung. Ia juga jadi pengajar setelah menerima pelatihan sebagai guru selama dua tahun di perguruan tinggi. Ia yang sudah memperoleh pendidikan Islam di Sumatera Barat pada mulanya juga memperdalam pengetahuan agamanya di Bandung, termasuk juga dalam bidang tafsir Al-Qur'an, hukum Islam, serta dialektika. Kemudian di tahun 1932, Natsir berguru pada Ahmad Hassan, yang nantinya akan menjadi tokoh organisasi Islam Persatuan Islam.

Mohammad Natsir banyak bergaul dengan pemikir-pemikir Islam, seperti Agus Salim, sepanjang pertengahan 1930-an, ia serta Salim selalu bertukar pikiran perihal kaitan Islam dengan negara demi masa depan pemerintahan Indonesia yang di pimpin Soekarno. Pada 20 Oktober 1934, Natsir menikah dengan Nurnahar di Bandung. Dari pernikahan itu, Natsir dikaruniai enam anak. Natsir juga di ketahui banyak menguasai bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Arab, serta Spanyol. Natsir juga mempunyai kesamaan hoby serta mempunyai kedekatan dengan Douwes Dekker, yaitu bermain musik. Natsir sangat menyukai memainkan biola serta Dekker yang menyukai bermain gitar. Mohammad Natsir juga kerap bicara dengan menggunakan bahasa Belanda dengan Dekker serta kerap mengulas musik sekelas Ludwig van Beethoven serta novel sekelas Boris Leonidovich Pasternak, novelis kenamaan Rusia pada saat itu. Kedekatannya dengan Dekker, mengakibatkan Dekker ingin masuk Masyumi. Ide-ide Natsir dengan Dekker perihal perjuangan, demokrasi, serta keadilan memanglah searah dengan Natsir.

Di tahun 1938, ia kemudian bergabung dengan Partai Islam Indonesia, serta diangkat menjadi pimpinan untuk cabang Bandung dari tahun 1940 hingga 1942. Ia juga bekerja dengan posisi sebagai Kepala Biro Pendidikan Bandung hingga 1945. Sepanjang pendudukan Jepang, ia memilih bergabung dengan Majelis Islam A'la Indonesia (Yang kemudian menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi),
serta diangkat sebagai ketua dari 1945 hingga saat Masyumi serta Partai Sosialis Indonesia dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia kemudian menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Sebelum diangkat sebagai perdana menteri, sebelumnya Mohammad Natsir menjabat sebagai menteri penerangan.

Pada tanggal 3 April 1950, ia mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mohammad Hatta yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu mendorong keseluruhan pihak untuk berjuang dengan tertib dan sangat merasa terbantu dengan adanya mosi ini. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada mulanya berupa serikat, hingga kemudian Mohammad Natsir diangkat sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1950. Mohammad Natsir kemudian mengkritik Soekarno bahwasanya dia kurang mencermati kesejahteraan diluar Pulau Jawa. Lantaran kritiknya ini yang dilancarkan kepada soekarno hingga akhirnya Mohammad Natsir mengundurkan diri.

Pemerintah Indonesia waktu itu, baik yang di pimpin oleh Soekarno ataupun Soeharto, keduanya sama-sama menuding Mohammad Natsir sebagai pemberontak serta pembangkang, dari tudingan itu membuatnya dipenjarakan. Oleh negara-negara lain, Natsir benar-benar dihormati serta dihargai, penghargaan yang dianugerahkan kepadanya pun amat banyak. Mohammad Natsir diakui oleh Dunia Islam sebagai pahlawan lintas bangsa serta negara. Bruce Lawrence mengatakan bahwasanya Natsir adalah politisi yang paling menonjol yang membantu pembaruan Islam. Di tahun 1957, Mohammad Natsir menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bey atas jasanya menolong perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Penghargaan internasional yang lain yakni Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah pada di tahun 1980, serta penghargaan dari sebagian ulama serta pemikir populer seperti Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi serta Abul A'la Maududi.

Biografi, Mohammad Natsir, Pahlawan Indonesia, Tokoh Indonesia, Profil

Pada tahun 1980, Natsir dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi lewat Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Ia memperoleh gelar doktor kehormatan dalam bidang politik Islam dari Kampus Islam Libanon pada tahun 1967. Pada tahun 1991, ia kemudian memperoleh dua gelar kehormatan, yakni dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia serta dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia. Mohammad Natsir wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta, serta dimakamkan satu hari kemudian. Soeharto enggan memberikan gelar pahlawan pada salah satu " bapak bangsa " ini. Kemudian pada masa pemerintahan B. J. Habibie, dia diberi penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana.

Sepanjang hidupnya Mohammad Natsir dikenal tidak mempunyai pakaian bagus, jasnya pun banyak tambalan. Dia dikenang sebagai menteri yang tidak mempunyai rumah serta menampik di beri hadiah mobil elegan. Mohammad Natsir disebutkan menampik mobil Chevrolet Impala ketika diberikan. Walau sebenarnya, di tempat tinggalnya dia cuma mempunyai mobil tua merk De Soto. Itulah Artikel mengenai biografi Mohammad Natsir yang dikenal sebagai pahlawan bangsa Indonesia dan juga Tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Semoga Biograi ini bisa bermanfaat dan memberi inspirasi bagi Pembaca.

Referensi :

- http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir

Senin, 28 April 2014

0 Tahukah Anda, Gadis Penenun di Uang Rp 5.000 ??

Natasha Annestessya, yang disapa Ceci, adalah gadis yang menjadi model pengrajin tenun Pandai Sikek di pecahan Rp 5.000. Kini, Ceci telah menetap California, dan membangun keluarga di sana.

Menurut ibunya, Anna Tuturaima, Rabu (26/12/2013) saat Ceci berumur 17 tahun dirinya mengikuti pemotretan dengan alat penenun Pandai Sikek, alat tenun Sumatera Barat yang dilaksanakan oleh Perusahaan Umum Percatakan Uang RI (Peruri). Ketika itu, Ceci adalah mahasiswi semester III jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI).

Di tengah kesibukannya sebagai pensiunan pemandu wisata anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah, Anna dengan santai menceritakan kisah anak pertamanya ini. Dari 80 kontestan yang mengikuti pemotretan, Ceci kemudian lolos dan menjadi model penenun di pecahan uang Rp 5.000 tersebut.

"Sambil pemotretan juga di tanya-tanya. Ceci yang kemudian dianggap paling pantas disandingkan dengan Tuanku Imam Bonjol," ucap Anna, ibu Ceci saat ditemui.

Ceci saat ini telah berumur 31 tahun. Dia adalah anak yang patuh dengan orang tua. Selama 4 tahun menjalani kuliah, Ceci menanggung sebagian besar uang kuliahnya dari beasiswa yang didapat.

"Dulu ibu paling bayar Rp 400.000 untuk kuliahnya, sisanya dia yang bayar. Ceci enggak pernah nyusahin saya. Dia tahu, dulu saya hanya pegawai negeri kecil. Bahkan sampai menikah, Ceci enggak pernah nyusahin," ucap Anna.

Saat Ceci bekerja di salah satu perusahaan swasta Jakarta, Ceci tak pernah absen menelpon ibunya menanyakan apa yang ibunya masak.

"Mami masak apa? Ceci kangen sambel mami," cerita Anna yang menahan air mata di pelupuk matanya.

Anna mengaku merindukan Ceci, namun melihat Ceci bahagia itu sudah membuat Anna bahagia. Anna tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan Ceci, namun diakui, dirinya kerap menangis usai berbincang melalui telepon selulernya.

Sejak 7 tahun yang lalu, saat berumur 25 tahun, Ceci menikah dengan David, warga negara Amerika Serikat. Dia belum pernah kembali ke Indonesia.

"Ceci enggak pernah bisa ke Indonesia, karena  ukuran otaknya lebih besar dibanding otak orang biasa. Jadi, Ceci enggak bisa naik pesawat lebih dari 5 jam. Tapi tahun depan kata dokter sudah bisa kesini. Doakan saja ya," ucap Anna dengan senyuman kecilnya.

Anna kembali bercerita, putrinya, Ceci adalah anak yang pintar. Saat SMA, dia mendapatkan skor TOEFL terbaik se-SMA dengan nilai 600 dan pernah menjadi karyawan terbaik di Amerika.

"Ceci enggak pernah cerita kalau menang apa, lolos apa, dia enggak mau cerita. Dia bilang, itu biasa saja enggak usah di cerita-ceritain," ucap Anna.

Anna yang sudah menjadi pemandu di anjungan Sumatra Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) selama 38 tahun ini berharap agar anaknya sehat dan rumah tangganya rukun.

"Kalau minta anak itu kan di tangan Tuhan ibu enggak minta apa-apa. Asal Ceci baik-baik aja di sana," harap Anna. (Yunike Lusi)

Editor      : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber    : Tribunnews.com

Sabtu, 26 April 2014

0 ♛♛Sejarah Mujahidin Pangeran Diponegoro♛♛

pangeran diponegoro
Sejarah Perjuangan Islam selalu sama dalam setiap pertempuran. Selalu ada orang-orang munafik penjilat Kolonisasi Barat terhadap penduduk pribumi. Dengan metode adu domba, dimana-mana dan sampai hari ini, mereka masih menggunakan metode yang sama, dan anehnya, masih ada juga manusia-manusia yang tamak dan jadi pengkhianat alias kaum munafik dan kita bisa saksikan detik ini, bagaimana mereka menjadi boneka dari negara penjajah, Amerika dan Israel. Sejarah Pangeran Diponegoro juga tidak jauh berbeda. Berikut kisah Beliau, MUJAHIDIN PANGERAN DIPONEGORO
Pangeran Dipanegara atau juga sering dieja dengan Diponegoro, lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. merupakan salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia yang pernah ada.
Riwayat perjuangan Diponegoro
Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.Banyak hasil bumi diambil oleh Belanda.
Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Penjajah Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo Munafik & Penjilat, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton.
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Dipanegara di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Dipanegara yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Dipanegara menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Dipanegara menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabilillah, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Dipanegara membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Dipanegara di Goa Selarong. Perjuangan Pangeran Dipanegara ini didukung oleh S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya Bupati Gagatan.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Dipanegara. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Dipanegara. Sampai akhirnya Dipanegara ditangkap pada 1830.
Perang Diponegoro
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Dipanegara. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak atau exstrimis, dalam bahasa sekarang adalah “TERORIS”, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran.
Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.
Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Dipanegara dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Dipanegara terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Dipanegara di Magelang. Di sana, Pangeran Dipanegara menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Dipanegara ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putera Pangeran Diponegoro. Pangeran Alip atau Ki Sodewo atau bagus Singlon, Diponingrat, diponegoro Anom, Pangeran Joned terus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. Empat Putera Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewo.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, dan kaum munafik pribumi 7.000 orang , dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Dipanegara dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Dipanegara, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Dipanegara kala itu. Kini anak cucu Dipanegara dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Makam Pangerang Diponegoro di Makassar
Asal-usul Dipanegara/Diponegoro
Dipanegara adalah putra sulung Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Dipanegara bernama kecil Raden Mas Antawirya.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Dipanegara menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Dipanegara setidaknya menikah dengan 8 wanita dalam hidupnya, yaitu:
  • B.R.A. Retno Madubrongto puteri kedua Kyai Gedhe Dhadhapan;
  • R.A. Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang;
  • R.A. Retnodewati seorang putri Kyai di wilayah Selatan Jogjakarta;
  • R.Ay. Citrowati, puteri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu isteri selir;
  •  R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu;
  • R.Ay. Ratnaningsih putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, bupati Jipang Kepadhangan;
  • R.A. Retnakumala putri Kyahi Guru Kasongan;
  • R.Ay. Ratnaningrum putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II.
Dipanegara lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Dipanegara menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Dipanegara.

Minggu, 13 April 2014

0 10 Penjelajah / Petualang Terkenal Yang Tak Pernah Pulang

Untuk setiap segelintir pelopor petualang sukses yang pensiun dengan nyaman, mungkin ada banyak yang meninggal, atau dibunuh, atau hilang .
Banyak, mungkin sebagian besar dari mereka, mati muda , terkena wabah penyakit, sebelum mereka memiliki kesempatan untuk membuat nama dan reputasi untuk diri mereka sendiri.
Untuk menjadi martir yang dikenal dan dikenang untuk petualangan Anda harus melakukan pencapaian terkenal sebelum kematian anda, atau menjadi bagian dari beberapa perjalanan dan petualangan besar yang dicatat sejarah. Berikut 10 Petualang yang gak pulang-pulang (Bukan karena meniru kelakuan Bang Thoyib)

10. Ferdinand Magellan
1480-1521, Dibunuh oleh Pribumi


Ferdinand Magellan adalah seorang penjelajah Portugis. Ia lahir di Sabrosa, di Portugal utara, namun kemudian memperoleh kewarganegaraan Spanyol dalam rangka untuk melayani Raja Charles I dari Spanyol, untuk mencari rute barat ke “Spice Islands”.
ekspedisi Magellan dari 1519-1522 menjadi ekspedisi pertama yang berlayar dari Samudera Atlantik ke Samudera Pasifik, dan yang pertama menyeberangi Pasifik.
Hal ini juga menyelesaikan perjalanan pertama mengelilingi bumi, walaupun Magellan sendiri tidak menyelesaikan seluruh pelayaran. Atas permintaan Rajah dari Cebu, Magellan melakukan perjalanan ke Mactan dengan perintah untuk membunuh (tapi niat untuk mengkonversi) musuh Rajah, Datu Lapu-Lapu. Setelah tiba, pertempuran pun terjadi dan Magellan tertusuk oleh tombak bambu dan kemudian dikepung dan dihabisi dengan senjata lain.

9. Lope de Aguirre
1510-1561, Tewas dalam pemberontakan


Lope de Aguirre adalah Conquistador Spanyol Basque di Amerika Selatan. Dijuluki El Loco, ‘yang Gila’, Aguirre paling dikenal untuk ekspedisi terakhirnya, menyusuri sungai Amazon, untuk mencari mitos El Dorado .
Pada awalnya, dia adalah seorang pejabat ekspedisi kecil, tetapi ia memberontak dan menguasai Armadanya, dan kemudian memberontak melawan, dan menantang, raja Spanyol, Philip II.
Aguirre dikalahkan dan dibunuh.Sejak saat itu, ia dianggap sebagai paradigma kekejaman dan pengkhianatan di Koloni Spanyol di BEnua Amerika, dan telah menjadi antihero dalam sastra, bioskop dan seni lainnya.
Pada 1561, ia merebut Isla Margarita dan dengan brutal menekan oposisi apapun untuk pemerintahannya, membunuh banyak orang tak bersalah. Ketika ia menyeberang ke daratan dalam upaya untuk menguasai Panama, pemberontakan terbuka terhadap mahkota Spanyol itu berakhir.
Dia dikepung di Barquisimeto, Venezuela, di mana dia membunuh putrinya sendiri, Elvira, “karena seseorang yang sangat aku cintai jangan sampai diperkosa orang -orang kasar”.
Ia juga membunuh beberapa pengikut yang bermaksud menangkapnya. Dia akhirnya ditangkap dan dibunuh. tubuh Aguirre dipotong menjadi empat bagian dan dikirim ke berbagai kota di seluruh Venezuela.
engembaraan Aguirre di Sungai Amazon adalah subyek dari film indah oleh Werner Herzog, ‘Aguirre, Wrath of God “, dengan Klaus Kinski sebagai eponymous conquistador.

8. Captain James Cook
1728-1779, Tewas oleh penduduk pribumi

Kapten James Cook adalah seorang penjelajah navigator, Inggris dan pembuat peta, akhirnya naik ke pangkat kapten Angkatan Laut Kerajaan.
Cook membuat peta rinci tentang tanah baru yang ditemukan sebelum membuat tiga perjalanan ke Samudra Pasifik, di mana ia mencapai kontak Eropa pertama dengan garis pantai timur Australia dan Kepulauan Hawaii, serta tercatat sebagai penemu pertama Selandia Baru.
Cook banyak memetakan wilayah dan beberapa pulau , garis pantai pada peta Eropa untuk pertama kalinya.
Prestasinya dapat dikaitkan dengan kombinasi dari ilmu pelayaran, survei unggul dan keterampilan kartografis dan keberanian dalam mengeksplorasi lokasi yang berbahaya untuk mengkonfirmasi fakta-fakta.
Pada tanggal 14 Februari, di Kealakekua Bay di Hawaii, beberapa penduduk Hawaii mengambil salah satu perahu kecil Cook. Biasanya, seperti pencurian yang umum di Tahiti dan pulau-pulau lain, Cook akan mengambil sandera sampai barang curian dikembalikan.
Memang, ia mencoba untuk mengambil sandera Raja Hawaii, Kalaniōpuu. PEnduduk Pribumi Hawaii mencegah hal ini, dan anak buah Cook harus mundur ke pantai.
Saat Cook berbalik untuk membantu meluncurkan perahu, ia dipukul di kepala oleh penduduk desa dan kemudian ditikam sampai mati saat ia jatuh di wajahnya terkena ombak. Cerita Hawaii mengatakan bahwa ia dibunuh oleh seorang kepala suku bernama Kalanimanokahoowaha.
Sebagai penghargaan oleh orang-orang Hawaii atas terbunuhnya cook, tubuhnya dipertahankan oleh kepala dan para tetua. Setelah beberapa waktu, tubuh Cook menjalani ritual penguburan yang sama dengan yang disediakan untuk pemimpin dan tetua tertinggi masyarakat.
Isi perutnya dikeluarkan, dipanggang untuk memfasilitasi penghapusan daging, dan tulang-tulang dengan hati-hati dibersihkan untuk pengawetan sebagai ikon religius, dalam gaya yang mengingatkan kita pada perlakuan para santo Eropa di Abad Pertengahan.
Anda juga mungkin tertarik untuk mengetahui bahwa Earl of Sandwich, yang membiayai petualangan James Cook, dan merupakan alasan bahwa cook menamai pulau ini sebagai kepulauan Sandwich

7. David Douglas
1799-1834, Terbunuh oleh perangkap binatang


Douglas, anak seorang tukang batu Skotlandia , telah magang sebagai anak seorang tukang kebun. Dia melanjutkan untuk mendapatkan posisi di Botanic Gardens Glasgow, dimana ia memperbaiki pendidikan dengan sukarela menghadiri kuliah botani.
Hal ini menarik perhatian beberapa tokoh terkemuka di dunia hortikultura yang sedang mencari seorang pemuda yang kuat, praktis tapi cerdas, dengan inisiatif untuk menjelajahi Amerika Utara untuk mencari tanaman pekarangan potensial.
Douglas memulai serangkaian eksplorasi yang membuatnya terkenal dan mengakibatkan namanya diberikan secara ilmiah dan populer sebagai cemara Douglas.
Pada akhir perjalanan karirnya yang agak pendek, Douglas pergi ke Hawaii. Sementara ia melihat ke dalam lubang perangkap binatang, Kapten Vancouver, dia terlalu dekat dengan tepian, yang ianjak dan kemudian amblas,ia jatuh ke dalam lubang dan diserang oleh binatang liar yang marah karena terperangkap di dalamnya sampai mati.

6. Dr David Livingstone
1813-1873, Meninggal karena wabah


Untuk Afrika, kematian para petualangan pastilah diduga karena serangan singa. Namun, pembunuhan dramatis dari pemburu permainan di gerbong kereta api oleh pasangan singa licik Tsavo adalah mitos yang berhasil diambil oleh industri film (The Gost and The Darkness).
Livingstone, di sisi lain, pasti diserang dan dianiaya oleh singa, tapi diselamatkan dari kematian oleh intervensi berani dari pegawai Afrika. Namun, misionaris terkenal, penjelajah dan perintis kolonial, khususnya epik terkenal untuk pertemuan dengan Stanley, tidak pernah kembali ke Skotlandia dan keluarganya
Dia meninggal karena malaria dan pendarahan internal yang disebabkan oleh disentri. dia mengambil napas terakhirnya sambil berlutut dalam doa di samping tempat tidurnya. Fakta yang ironis.

5.Robert Falcon Scott
1868-1912, MEninggal karena Hypothermia


Kapten Robert Falcon Scott adalah seorang perwira Angkatan Laut dan penjelajah yang memimpin dua ekspedisi ke daerah Antartika: Ekspedisi Discovery, 1901-04, dan Ekspedisi Naas Terra Nova, 1910-13.
Selama usaha kedua, Scott memimpin kelompok yang berisi lima orang mencapai Kutub Selatan pada 17 Januari 1912, hanya untuk menemukan bahwa mereka telah didahului oleh ekspedisi Norwegia Roald Amundsen’s. Pada perjalanan pulang , Scott dan empat kawan-kawan semua binasa karena kombinasi kelelahan, kelaparan dan kedinginan yang ekstrim.
Setelah berita kematiannya, Scott menjadi icon pahlawan Inggris , suatu status yang dipertahankan selama lebih dari 50 tahun dan tercermin dari banyak tugu peringatan permanen didirikan di seluruh bangsa.
Dalam dekade penutupan abad ke-20, legenda itu kembali menjadi perhatian difokuskan pada penyebab bencana yang mengakhiri hidupnya dan teman-temannya, dan tingkat kesalahan pribadi yang dilakukan Scott.

4. Sir Ernest Henry Shackleton
1874-1922, Meninggal karena sakit
Add caption

awal ekspedisi Shackleton sudah termasuk perjalanan pertama ke kutub magnet selatan, serta mencatat rute melalui pegunungan trans-kutub selatan yang kemudian digunakan oleh Scott di perjalanan selatan.
Mengetahui bahwa kutub tersebut telah ditaklukkan, Shackleton memutuskan perjalanan besar berikutnya untuk melintasi benua dari pantai ke pantai.
Tragisnya, ekspedisi terhenti ketika kapal Shackleton’s (ironisnya disebut HMS Endurance) terjebak dalam es dan akhirnya hancur, awak terdampar di dekat Pulau Gajah. Selama hampir setahun kru yang selamat bertahan dengan memakn daging anjinglaut, penguin dan ikan paus.
Mereka menggunakan lemak anjing laut untuk membuat minyak agar api bisa menyala menghangatkan tubuh mereka, dan dalam satu foto populer terlihat mereka bermain sepak bola di permukaan es.
Shackleton menyadari bahwa tanpa bantuan, mereka tidak bisa hidup seperti ini selamanya, dan memutuskan untuk menggunakan perahu-perahu panjang yang masih hidup untuk membuat perjalanan berbahaya ke sebuah pusat perburuan paus di pulau terpencil selatan Georgia, 800 mil utara.
Dengan sedikit makanan dan air, dan tidak ada obat-obatan, Shackleton dan lima anak buahnya menerjang lautan es.Setelah beberapa minggu, mereka mendarat di pulau Georgia Selatan, kelaparan dan menderita dehidrasi.
Sayangnya, mereka akan mendarat di pantai selatan tidak berpenghuni, sehingga sulit untuk perjalanan kaki, dari perjalanan Shackleton dan anak buahnya harus menyeberangi pegunungan sebelumnya menyeberang. Dia mencapai stasiun perburuan paus dan mulai melakukan sebuah ekspedisi untuk menyelamatkan krunya.
Setelah hampir satu tahun setengah terdampar di daerah Kutub Selatan, kru Shackleton akhirnya bertemu dengan kapal bantuan yang membawa mereka pulang. Meskipun ekspedisi trans daerah Kutub Selatan akhirnya gagal sebagai sebuah perjalanan, itu merupakan kemenangan untuk keuletan jiwa manusia.

3. Roald Admunsen
1872-1928, Hilang Di Samudra


Amundsen mungkin salah satu penjelajah kutub terkenal dalam sejarah yang terbaik, dan memiliki perbedaan yang unik menjadi orang pertama untuk mencapai kedua kutub utara dan selatan dalam hidupnya.
Dibandingkan dengan ekspedisi Scott, yang penuh dengan kemunduran dan masalah, ekspedisi kutub selatan Amundsen cukup lancar. Dia menggunakan kereta luncur anjing dan bukan kuda Norwegia, serta penggunaan sumber daya dengan hati-hati, adalah alasan menjadikan ekspedisi ini mulus, tapi ekspedisi Amundsen itu masih sangat sulit.
Dia dan anak buahnya berjalan kaki melintasi ratusan mil dari daerah pegunungan yang benar-benar belum diselidiki dan menancapkan bendera mereka di kutub selatan pada tanggal 14 Desember 1911, nama daerah “Polheim” atau “Negeri Kutub”.
Tidak membenci saingan nya, Amundsen meninggalkan catatan untuk dibaca Scott :
“Dear Captain Scott – Seperti yang Anda mungkin yang pertama untuk menjangkau daerah ini setelah kami, aku akan meminta Anda untuk baik meneruskan surat ini kepada Raja Haakon VII. Jika Anda dapat menggunakan salah satu peralatan yang tersisa di tenda, jangan ragu untuk melakukannya. kereta luncur kiri di sekitar mungkin akan berguna bagi Anda. With kind regards I wish you a safe return. Hormat Saya berharap Anda kembali pulang dengan selamat, Hormat kami, ” Roald Amundsen. “
Amundsen hanya memimpin satu ekspedisi ke kutub, tapi menghabiskan sisa hidupnya dalam penjelajahan-penjelajahan lain sampai ia menghilang dekat Pulau beruang saat membantu dalam misi penyelamatan.

2. Amelia Mary Earhart
1897-1937, Hilang Di Samudra

Amelia Earhart adalah seorang perintis penerbangan Amerika dan penulis. Earhart adalah wanita pertama yang menerima US Distinguished Flying Cross, diberikan untuk menjadi aviatrix pertama yang terbang solo melintasi Samudra Atlantik.
Dia mencetak rekor lainnya, menulis buku laris tentang pengalamannya terbang dan berperan penting dalam pembentukan The Ninety-Nines, organisasi pilot wanita.
Selama upaya untuk membuat penerbangan circumnavigational dunia pada tahun 1937, di Purdue dan disponsori oleh Lockheed Model 10 Electra, Earhart hilang di atas Samudera Pasifik tengah dekat Pulau Howland.
Kisah hidupnya, prestasi karirnya, dan misteri hilangnya dirinya di Samudra menjadi Daya tarik dan dikenang samapai kini.Aviatrix Inggris yang juga terkenal adalah Amy Johnson kehilangan nyawanya saat mengangkut pesawat tempur dengan kapal selama Perang Dunia Kedua.
Konflik yang sama telah mencatat tentang perjuangan dari Aviatrix sejati paling berani dalam sejarah yaitu Kekasih Hitler,Hannah Reisch, yang dilarang Hitler untuk bergabung dengan skuadron tempur aktif, dan yang telah menerbangkan semua jet milik eksperimental Jerman yang paling canggih dan berbahaya , dan juga pesawat roket.

1. Donald Crowhurst
1932-1969, Hilang di Laut


Meskipun didorong oleh kebesaran paranoid, Crowhurst juga seorang yang terkenal keberanian dan kecerdasan yang pada akhirnya menjadi korban penipuan yang mengerikan yang diciptakannya sendiri . Hal ini adalah akibat dari keinginannya untuk memenangkan Perlombaan keliling dunia-, dengan melakukan lomba balap layar non-stop.
Kisahnya memiliki semua elemen tragedi Yunani. Crowhurst, seorang teknokrat laut, memiliki catamaran , yang ia yakin dengan mudah akan mengungguli pesaingnya.
Dia bertaruh dengan menggunakan sebagian besar modal ke dalam usaha pelayaran itu. Karena serangkaian penundaan dan kemalangan, kapal itu nyaris selesai tepat waktu, dan banyak kebutuhan dan peralatan untuk perjalanan panjang dibuang saat ia berlayar. Beberapa bahkan tertinggal di dermaga.
Hanya dengan cara ini ia bisa pergi pada batas batas waktu. Lebih buruk lagi karena demi mengejar deadline,Kapal yang belum ditest segera menjadi bocor.
Tidak dapat menyelesaikan perjalanan, tapi putus asa untuk hadiah uang karena usaha bisnis gagal, Crowhurst punya rencana pembuatan statistik untuk melihat seolah-olah ia mengelilingi dunia non-stop, sebuah prestasi matematika yang luar biasa dalam dirinya sendiri .Ia juga berlabuh secara ilegal di utara Argentina untuk menambal hull, karena jauh dari Inggris .
Saat menuju akhir perjalanan, saingan tersisa adalah Robin Knox-Johnstson. Sekarang Crowhurst menyadari bahwa untuk kemenangan palsu dia kan diekspos dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan menjatuhkan fakta dari cerita kebohongannya.
maka dia memutuskan harus berada di tempat kedua, namun Knox-Johnston sangat lambat Crowhurst tidak bisa melaju dengan ‘sah’ di belakang, mengingat kecepatannya. Akhirnya ketegangan menghancurkannya.
pada entri terakhirnya menjadi kacau, dan diasumsikan ia hanya menyelinap pergi dari catamaran, yang ditemukan hanyut, dan bunuh diri karena tenggelam: seorang laki-laki Ophelia .
Knox-Johnston dengan besar hati menyumbangkan uang hadiah kepada keluarga Crowhurst’s.

Selasa, 01 April 2014

0 Sejarah Operasi Claret, Misi Rahasia Tentara Australia di Kalimantan


Masalah Indonesia dan Australia bukan hanya soal imigran gelap. Baru saja hubungan kedua negara menghangat karena masalah penyadapan. Australia ketahuan menyadap Presiden SBY, Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah pejabat. Selain itu Australia juga mengeluarkan travel warning ke Indonesia.

Dulu saat era Presiden Soekarno, pasukan elite dua negara ini pernah berhadapan di belantara Kalimantan. Tahun 1964 Soekarno mencetuskan Dwi Komando Rakyat untuk mengganyang Malaysia.
Quote:
Pasukan elite ABRI seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Pasukan Raiders Angkatan Darat, Korps Komando Operasi Angkatan Laut (KKO), Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT) dan Resimen Pelopor Kepolisian diterjunkan di perbatasan Kalimantan. Mereka diterjunkan sebagai sukarelawan dan tak mengenakan identitas resmi ABRI.

Pasukan ini disamarkan menjadi anggota Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Karena ini misi rahasia, semua identitas prajurit disembunyikan. Mereka menyusup ke perbatasan untuk menyerang patroli askar Malaysia.

Pasukan Malaysia yang kerepotan kemudian meminta bantuan dari Inggris. Tak tanggung-tanggung Inggris mengirim pasukan elite Special Air Service (SAS) dan Gurkha Regiment. Masih kurang, Inggris pun meminta bantuan. Sebagai negara pesemakmuran, Australia dan Selandia Baru menjawab panggilan itu. Mereka turut mengirimkan pasukan SAS.
Quote:
Inggris, Australia dan New Zeland juga tak terang-terangan menyatakan perang. Pengerahan pasukan di belantara Kalimantan dilakukan sebagai misi rahasia. Operasi ini dinamakan Operasi Claret.

Mereka menghadapi perlawanan tangguh dari gerilyawan yang sebenarnya tentara Indonesia. Pasukan SAS dan Gurkha pun kerap menyusup masuk ke daerah Indonesia untuk memburu gerilyawan.

"Berbeda dengan askar Malaysia, SAS dan Gurkha itu lebih tangguh. Mereka yang lebih banyak kontak tembak dengan kami. Kemampuan patroli, mencari jejak atau menyergap juga harus diakui, bagus," kata Maman, seorang bintara pensiunan RPKAD

Dalam satu pertempuran, pasukan Indonesia berhasil melumpuhkan seorang anggota SAS. Pemerintah Indonesia meminta tawanan itu dikirim ke Jakarta. Ini untuk bukti, Inggris dan sekutunya terlibat dalam konflik bersenjata di Kalimantan.

Sayangnya prajurit SAS itu keburu meninggal sebelum dibawa ke Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di tempat. Sementara senjata dan kalung tanda pengenalnya dikirim ke Jakarta untuk bukti.
Quote:
Konflik dengan Malaysia, Inggris, Australia dan Selandia baru ini berakhir tahun 1966 saat Presiden Soekarno lengser. Soeharto yang menjadi penggantinya, tak berniat meneruskan konflik dengan Malaysia.

Laporan tak resmi, sekitar 200 anggota pasukan gabungan Inggris tewas di Kalimantan. Sementara dari pihak ABRI berkali-kali lipat.

Bulan Maret 2010, pemerintah Australia memulangkan jenazah dua anggota pasukan SAS mereka. Prajurit Robert Moncrieff dan Letnan Hudson yang tewas saat operasi Claret. 44 tahun lalu, jenazah mereka dimakamkan warga Dayak di Kalimantan.

Kedua prajurit ini diketahui bertugas di Skadron 2 Resimen SAS. Mereka tewas dalam sebuah misi di Kalimantan tahun 1966.

Australia sendiri menjaga rapat-rapat semua hal soal Operasi Claret. Mereka baru mau membukanya tahun 1996, atau 30 tahun setelah operasi rahasia ini digelar di belantara Kalimantan.

Claret adalah nama kode rahasia yang diberikan untuk operasi-operasi lintas batas Malaysia - Indonesia saat Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Operasi ini berjalan dari Juli 1964 sampai Juli 1966 dan dilaksanakan dari Malaysia Timur (sekarang Sarawak dan Sabah) dan lintas batas Malaysia dengan Kalimantan Indonesia.

Quote:
"Claret" terinspirasi oleh Direktur Operasi Borneo (Director of Borneo Operations DOBOPS), Mayor Jenderal Walter Walker , seorang pejabat militer Inggris, dengan persetujuan pemerintah Inggris dan Malaysia.
Quote:
Tujuan operasi-operasi di bawah Claret adalah untuk merebut inisiatif perang dari pihak Indonesia dan menempatkan angkatan Indonesia dalam kondisi bertahan dibandingkan dengan kondisi sebelum operasi yang melihat tentara Indonesia berbasis dengan selamat di Kalimantan dan menyerang Malaysia pada waktu dan tempat pilihan mereka.
Namun satu pengaturan penting adalah pihak Indonesia tidak harus dipermalukan karena ini dapat menyebabakan peningkatan konflik atau memungkinkan Indonesia untuk menjaja bukti tentang "agresi imperial"; justru operasi-operasi Claret diberi klasifikasi kerahasiaan tinggi dan tidak di gembar-gemborkan, maupun para wartawan Inggris tahu apa yang sedang dilakukan. Laporan cedera Inggris yang terlibat dalam Claret sering kali dilaporkan hanya sebagai cedera "dalam operasi di Malaysia Timur."

Minggu, 23 Maret 2014

0 Dialah 2 Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Dialah 2 Presiden Indonesia Yang Terlupakan

2 presiden indonesia yang terlupakan
Anda Sebelumnya sudah pernah denger 2 Presiden Indonesia Yang Terlupakan ? Mungkin masih banyak dari kalian yang berpikiran bahwa Indonesia hingga saat ini baru dipimpin oleh enam presiden, yaitu Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan Saat Ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun hal itu ternyata keliru atau salah . Indonesia, menurut catatan sejarah, hingga detik  ini sebenarnya sudah dipimpin oleh delapan presiden. ( 8 Presiden )
(Baca Juga : 10 sekolah dengan biaya mahal)

Loh, kok bisa delapan ? Lalu siapa dua orang presiden lagi yang pernah memimpin Indonesia? .

Dua tokoh yang terlewat itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.  Pasti 1 dari 1000 orang saja yang tahu tentang hal ini .

Keduanya tidak disebut, bisa karena absen atau terlupakan, tetapi mungkin juga disengaja. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat Republik Indonesia ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

2 presiden indonesia yang terlupakan
Pada tanggal 19 Desember Tahun 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.

Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI.

Padahal, saat itu Soekarno - Hatta mengirimkan telegram berbunyi, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 6 pagi Belanda telah mulai serangan atas Ibu Kota Jogjakarta.

Jika dalam keadaan pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra".

8 presiden Indonesia
Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada.

Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).

Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara".


Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan" . Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim.

Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.

Mr. Assaat
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain.

Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. 

Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.

Oleh Karena Itu, dengan demikian, Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI yang ke-8. Urutan Presiden RI adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Jumat, 15 November 2013

4 Tokoh-tokoh Indonesia yang hilang dan masih menjadi misteri


     Berikut adalah kisah menghilanynya tokoh-tokoh indonesia yang menghilang, entah karena sebab apa, namun dugaan kuat bahwa mereka hilang karena sebab politik yaitu karena pergolakan PKI pada masa kemerdekaan Indonesia.

1. Sjam Kamaruzaman

http://www.erepublik.com
     Syam Kamaruzzaman merupakan tokoh kunci G30S dan orang nomor satu di Biro Khusus PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari kalangan TNI dan PNS. 

Menghilangnya Sjam
     Syam Kamaruzzaman dianggap sebagai tokoh terpenting dalam peristiwa G30S ini yang membuat tidak hanya PKI, tetapi juga kekuatan-kekuatan politik nasionalis runtuh dalam beberapa hari. Dan setelah G30S meletus dan kemudian gagal (atau didesain untuk gagal), Syam pun menghilang. Menurut Mayjen Tahir, perwira pelaksana Team Pemeriksa Pusat, Syam ditangkap di daerah Jawa Barat sekitar akhir tahun 1965 atau awal 1966. Di pengadilan Syam memang divonis mati. Tetapi banyak mantan tahanan politik di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Mulia meragukan apakah Syam betul-betul dieksekusi. Bahkan lebih banyak yang menganggap bahwa Syam dilepas, berganti identitas dan hidup sebagaimana orang biasa atau bahkan sudah kabur ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari jasanya terhadap berdirinya Orde Baru di bawah Soeharto.

2. Tan Malaka


     Beliau adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia. 

Menghilangnya Tan Malaka
     Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri,Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

     Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

3. Supriyadi

news.detik.com
     Supriyadi merupakan pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari1945. Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinet pertama Indonesia, Kabinet Presidensial, tapi digantikan oleh Jendral Sudirmanpada 20 Oktober 1945 karena Suprijadi tidak pernah muncul. 

Menghilangnya Supriyadi
     Pemberontakan dilancarkan dini hari tanggal 14 Februari 1945,di Daidan, Blitar.Jepang sangat terkejut mendengar perlawanan tersebut. Mereka mengerahkan kekuatan yang besar untuk menangkap anggota-anggota pasukan Peta Blitar. Selain itu,dilakukan pula siasat membujuk beberapa tokoh pemberontak.karena kurang pengalaman dan kekuatan tidak seimbang pemberontakan itu ditindas Jepang. Tokoh-tokoh pemberontak yang tertangkap, diadili dalam mahkamah militer Jepang. Ada yang dihukum mati dan ada pula yang dipenjara. Suprijadi tidak ikut diadili, bahkan namanya tidak disebutkan dalam sidang pengadilan. Supriyadi dinyatakan hilang dan tidak pernah hadir dlam sidang pengadilan. Dikarenakan Supriyadi masih menjadi target teror agen-agen tentara sekutu (NICA) sehingga sering bersembunyi dikaki bukit di kota kelahirannya, Trenggalek,Jawa Timur. Ia dilantik sebagai Menteri Pertahanan Indonesia Pertama tanggal 2 September 1945, namun karena Supriyadi tidak pernah muncul, beberapa hari kemudian ia digantikan oleh Jendral Sudirman. 

4. Wikana


     Wikana adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. BersamaChaerul Saleh, Sukarni dan pemuda-pemuda lainnya dari Menteng 31, mereka menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklokdengan tujuan agar kedua tokoh ini segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada tahun 1945.

Menghilangnya Wikana
     Kurang dari setahun setelah peristiwa G30S, dia ditangkap. Sempat bermalam di Kodam Jaya namun dipulangkan kembali. Tak berapa lama kemudian segerombolan tentara tak dikenal datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Mereka membawa Wikana dan sampai hari ini, pemuda garang yang sempat membuat Bung Karno naik pitam itu, tak pernah kembali pulang. Dia hilang tak tentu rimbanya.