Minggu, 29 Juni 2014

0 Fotografi salah satu profesi yang paling sulit di dunia ?

Gambar eksklusif Fotografer

Fotografi tampaknya selalu menjadi tugas yang kreatif dan harus Profesional .Umumnya orang akan terpikat dengan profesi ini karena berkisar selebriti, model, glamor dan  ketenaran, tapi tidak ada yang berpikir berapa banyak usaha yang di haruskan untuk menangkap moment moment yang menakjubkan .Fotografi seperti yang terlihat sama sekali bukan tugas yang mudah, ini memperlihatkan visual yang sangat detail dan baik, jika anda tertarik dengan profesi ini anda harus punya kemauan belajar yang besar karena ini tidak akan mudah, dan gambar di bawah ini akan membuktikannya





Wild Life Photography :Anda benar-benar harus menjadi liar dan bagian utama dari hidup, Anda habiskan di hutan dan tempat-tempat suci mengejar hewan dan burung, tergantung dari pohon, tidur di gubuk pohon, tinggal di hutan dan makan hal-hal yang Anda tidak pernah berpikir dan alami sebelumnya dan di atas semua yang Anda tidak pernah tahu bila hasil Foto ini menjadi kutipan terakhir hidup Anda dan Anda bisa saja menjadi  makan siang dari binatang liar. dan ini yang membuat  fotografi di alam liar salah satu tugas yang paling menantang dalam profesi ini.




Sports Photography: Anda tidak harus mengikuti pemain atau berlari antara gawang di lapangan kriket atau anda mengikuti ayunan dan kepala Anda mesti memutar 180 derajat di lapangan tenis, anda hanya harus menjaga mata anda dari pergerakan bola . fotografer olahraga  menonton di setiap gerakan pemain dan karenanya menangkap lebih dari satu tembakan untuk satu frame dan memilih yang terbaik di antara mereka setelah itu.







Portrait  Photography: Meskipun Anda sangat jauh atau lebih dekat dengan subjek, hal ini memerlukan sebuah visi yang jauh untuk memvisualisasikan hasilnya. fotografi potret wajah menangkap semua ekspresi dominan dan mencerminkan rupa, kepribadian, dan bahkan mood dari subjek.
 
Panoramic photography: Bidang memanjang untuk pandangan, rasio format lebar untuk diingat saat menangkap gambar panorama dan untuk menangkap gambar yang anda butuhkan andah harus berdiri dan posisi kamera Anda sangat harus betul betul sangat rapi.


War Photography: Paling mengerikan dan berbahaya dari semua di atas, Anda tidak pernah tahu dimana peluru  atau bila roket peluncur meledak dekat Anda. fotografer selalu beresiko tinggi dan mereka selalu bermain petak umpet dengan peluru dan bom. Mereka selalu membahayakan kehidupan mereka, tetapi mereka tidak pernah mundur dari komitmen profesional.



Jadi berpikir dua kali sebelum melompat ke Profesi ini, Banyak dari kita bercita-cita untuk menjadi seorang fotografer yang baik suatu hari tetapi dibutuhkan banyak untuk menangkap satu Gambar. setiap orang dapat memiliki kamera tapi tidak semua orang bisa mengambil gambar yang sempurna.
sumber. http://tahudarisini.blogspot.com/

1 Peristiwa Situjuah

Sejarah PDRI Yang Terlupakan

KRONOLOGIS SEJARAH PDRI (19 DESEMBER 1948 – 13 JULI 1949)


peristiwa situjuah adalah Rangkaian Perjuangan PDRI yang dicabik-cabik oleh Belanda”

19 Desember 1948
Yogyakarta dan Bukittinggi diserang oleh Belanda, secara serentak Kabinet Hatta mengeluarkan dua surat mandat tentang pembentukan Pemerintah Darurat untuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi dan Mr. A.A. Maramis di New Delhi. Pada saat yang sama Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengadakan rapat darurat dengan para pemimpin di Bukittinggi dan mengumumkan secara terbatas tentang pembentukan PDRI.

20 Desember 1948
Rapat-rapat dilakukan di Bukittinggi, sementara arus pengungsi keluar kota mulai terjadi. Kepala Staf AURI Komodor H. Soejono memerintahkan penyelamatan dua Stasiun Radio PHB AURI dengan membawanya ke Halaban (Payakumbuh Selatan) dan Piobang, Stasiun Radio tersebut adalah :
a. Stasiun Radio di bawah Opsir Udara III Luhukay.
b. Stasiun Radio di bawah Opsir Udara III M.S. Tamimi.

21 Desember 1948

Rombongan pemerintah sipil, termasuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Teuku Hasan meninggalkan Bukittinggi untuk seterusnya mengungsi ke Halaban. Kepala Kepolisian Sumatera Barat , Komisaris Sulaiman Efendi dan sejumlah pemimpin menyingkir ke Lubuk Sikaping, Pasaman. Stasiun Radio AURI pimpinan Lahukay tiba Halaban, tetapi tidak sempat mengudara, karena dibumihanguskan di Halaban. Stasiun Radio Pemancar pimpinan M. Jacob Loebis sampai di Piobang, Payakumbuh untuk seterusnya dibawa ke Koto Tinggi, tengah malam Kota Bukittinggi dibumihanguskan.


22 Desembar 1948

Pembentukan Kabinet PDRI di Halaban. Stasiun Radio PHB AURI Pimpinan Tamimi diserahkan oleh Komondor H. Soejono Kepala PDRI (Sjafruddin Prawiranegara) untuk melayani komunikasi radio Mr. Sjafruddin Prawiranegara beserta rombongannya. Stasiun Radio itu ikut serta bergerilya hingga ke tempat pengungsian di Bidar Alam.

23 Desembar 1948

Stasiun Radio Tamimi di Halaban untuk pertama kali dapat berhubungan dengan Stasiun Radio AURI yang lain, baik yang berada di Jawa maupun di Sumatera (Ranau, Jambi, Siborong-Borong dan Kotaraja). Sjafruddin Prawiranegara merasa gembira menerima laporan tes kemampuan Stasiun Radio PDRI, dan memngumumkan berdirinya PDRI.

24 Desembar 1948

Menjelang Subuh, rombongan PDRI di bawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Halaban menuju Pekan Baru, melalui Lubuk Bangku dan Bakinang. Stasiun Radio Tamimi dengan semua peralatan pengirim dan penerima ditempatkan pada sebuah Jip, mengikuti rombongan PDRI Awak (Crew) Stasiun Radio tersebut adalah :

1. Opsir Udara M.S. Tamimi sebagai Kepala
2. Sersan Mayor Udara Kusnadi. sebagai Teknisi merangkap Teloegrafis
3. Sersan Mayor Udara R. Oedojo, Telegrafis
4. Kopral Udara Zainal Abidin,Telegrafis Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.
5. Letnan Muda Udara III Umar Said Noor, Bagian Sandi
Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.

Stasiun Radio Tamimi mengunakan kode pangil (Call Sign) “UDO” singkatan dari Oedojo. Sering dipakai juga Call Sign “KND” atau “ZAY” singkatan dari Kusnadi dan Zainal Abidin. Type sender yang digunakan ialah MK III 19 Set.

24 - 26 Desembar 1948

Rombongan Rasjid tiba di Koto Tinggi, dilengkapi dengan beberapa set perlengkapan Stasiun Radio :

a.Stasiun Radio AURI yang melayani Gubernur Sumatera Barat/Tengah di Koto Tinggi adalah Stasiun Radio ZZ di bawah pimpinan Opsir Muda Udara I M. Jacob dengan ahli telegaf antara lain Zainul Aziz, Soesatyo, Soegianto, Soeryo.

b.Stasiun Radio AURI yang bertugas mulai 22 Desember 1948 sampai 11 November 1948 mengikuti Gubernur Sumatera Barat/Tengah Mr. Rasjid dengan type sender : TCS-10

c.Stasiun Radio yang berpindah-pindah tempat, mulai dari Desa Koto Tinggi, Puar Datar (di sini hampir saja Stasiun Radio ini diketahui olah Belanda yang menyerbu Puar Datar, tetapi berkat kesiagaan dan kegesitan para awak pihak Belanda dapat dikelabui), Sungai Dadok sampai Mudik Dadok. Sebelum memasuki Kota via Piobang, pada tanggal 11 November 1948, Stasiun Radio ini beroperasi di Sungai Rimbang, Stasiun Radio AURI ini mampu berhubungan pula dengan Jawa dan Luar Negeri (India).

d.Stasiun Radio AURI yang melayani Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Koto Tinggi, antara 19 Juni 1949 dan 8 Juli 1949, berakhir saat tokoh ini berangkat ke Yogyakarta.

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berada di Bangkinang. Sewaktu rombongan berada di Bangkinang. Belanda yang mengunakan pesawat-pesawat P-51 menyerang dengan bom.
Stasiun Radio mengirim berita ke Pangkalan Udara Jambi, menyampaikan permintaan PDRI agar pesawat RI 005 PBY (AU) diterbangkan kesalah satu sungai di Riau, ternyata kemudian pada tanggal 29 Desember 1948 ketika Belanda menyerbu Kota Jambi, pesawat yang dimaksud tenggelam di Sungai Batang Hari saat berusaha lepas landas.

27 - 28 Desembar 1948

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara segera meninggalkan Bangkinang, menuju Tarakan Buluh dan menyeberangi Sungai Kampar untuk meneruskan perjalanan ke Teluk Kuantan. Beberapa sadan ditinggalkan dan ditenggelamkan ke dalam sungai. Setelah melewati beberapa kampong antara lain Lipat Kain dan Muara Lembu, Jip berisi peralatan Sender terbalik, masuk kubangan lumpur beserta seluruh penumpangnya. Penumpang Jip itu adalah

Sjafruddin Prawiranegara, Tumimi (yang bertindak sebagai sopir), Oedojo dan Kusnadi. Sjafruddin Prawiranegara kehilangan kacamatanya, untunglah jip beserta peralatan pengirim tidak mengalami kerusakan, meskipun memerlukan waktu sehari semalam untuk dibersihkan dan dikeringkan. Sedangkan Sjafruddin Prawiranegaraberuntung mendapatkan kacamata “baru” dari seorang Dokter yang bertugas di wilayahn itu.

29 Desembar 1948

Perjalanan diteruskan ke Teluk Kuantan, ditepi Sungai Kuantan mereka menginap. Sementara itu Panglima Kol. Hidayat singah di Koto Tinggi dalam perjalanan cross-country dari Selatan ke Utara Sumatera, hingga ke Aceh. Hidayat mengadakan rapat dengtan Gubernur Rasjid dan mengambil keputusan merombak Pemerintahan Sipil menjadi Pemerintahan Militer. Semua pejabat Gubernur Sipil dan segenap jajarannya dimiliterkan dan semua Wakil Gubernur diangkat dari Tokoh Militer.

30 - 31 Desembar 1948

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dari Taluk ke Sungai Dareh, semua kendaraan di tinggalkan di Taluk. Pada suatu tempat tertentu antara Taluk dan Sungai Dareh peralatan Sender diangkut melalui hutan dengan Lori bekas Jepang. Penumpang Lori hanya dua orang yaitu : Ir. Indra Tjahja sebagai masinis dan Oedojo (Telegrafis) sebagai penjaga peralatan Sender.

1 Januari 1949

Tahun Baru rombongan menginap selama tiga hari di Sungai Dareh, beristirahat dan merayakan tahun baru. Stasiun Radio sempat mengirimkan Ucapan Selamat tahun Baru kepada seluruh Stasiun Radio AURI di Jawa dan Sumatera yang melayani Pemerintahan Sipilo dan Militer.

3 Januari 1949

Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berangkat dari Sungai Dareh ke Bidar Alam via Aabi Siat dan Abai Sangir. Rombongan dibagi menjadi tiga : (1) Rombongan Induk dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara, menempuh jalur Sungai Batang Hari dengan mempergunakan sampan yang digerakan dengan dayung dan galah dari bamboo. (2) Rombongan Keuangan dipimpin oleh Mr. Loekman Hakim (Menteri Keuangan PDRI) menuju Muara Tebo dengan naik perahu bermotor, membawa klise oeang RI Poeloe Sumatera (ORIPS) untuk dicetak di Muaro Bungo. (3) Rombongan Satsiun Radio dipimpin oleh Wakil PDRI Mr. Teuku Hasan, mengambil jalan darat karena takut tenggelam, dengan berjalan kaki menuju Abai (setelah berpisah kurang lebih 2 minggu mereka bertemu kembali di Bidar Alam).

(Keterangan mengenai ORIPS : Mesin Cetak Uang RI Muaro Bungo dirakit oleh anggota-anggota AURI dari Jambi, yang dipimpin Opsir Udara III Soejono, dari bekas mesin cetak biasa. Hasil cetakan ORIPS itu diserahkan kepada Mr. Loekman Hakim, Menteri Keuangan PDRI dan dibagi-bagikan kepada pemerintah setempat di Muaro Bungo).

4 - 5 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio tiba di Abai Siat dan bersiap-siap menuju Abai Sangir (“From Abai to Abai”). Beberapa peralatan sender yang tidak begitu penting terpaksa ditinggalkan ditengah perjalanan kerena medan yang ditempuh sangat berat.

7 – 9 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio beristirahat selama kurang lebih satu minggu di Abai Sangir. Ketika rombongan stasiun radio berada di Sangir, rombongan keuangan yang dipimpin Mr. Loekman Hakim sudah tiba di Muara Tebo dan siap-siap melanjutkan ke Bidar Alam. Selama di Abai Sangir, stasiun radio tetap mengudara.

10 Januari 1949

Belanda menyerang Koto Tinggi dari basisnya di Payakumbuh.

15 Januari 1949

Tragedi Situjuh Batur. Rapat Besar Pimpinan Sumatera Barat di Situjuh Batur digrebek Patroli Belanda. Banyak Korban jatuh termasuk beberapa Tokoh Paling Terkemuka di Sumatera Barat (antara lain Ketua MPRD, Chatib Soelaiman) dan Puluhan Prajurit dan BNPK di Nagari itu. Antara lain yang dimakamkan di Situjuh Batur yaitu :
1 CH. SULAIMAN MPRD
2 ARISUN ST. ALAMSYAH BUPATI
3 MUNIR LATIF LETKOL
4 ZAINUDDIN MAYOR
5 TANTAWI KAPTEN
6 AZINAR LAETNA I
7 SYAMSUL BAHRI LETNAN II
8 RUSLI SOPIR
9 SYAMSUDIN PMT

Yang dimakamkan di Situjuh Banda Dalam adalah :
1 M. ZEIN BPNK
2 RAMLI BPNK
3 SYAMSUL KAMAL BPNK
4 KAMASYHUR BPNK
5 NAKUMAN BPNK
6 MANGKUTO BPNK
7 AHMAD BPNK
8 RAJIMAN BPNK

Yang dimakamkan di Situjuh Gadang adalah :
1 RAUDANI LETDA
2 ABDUDIS LETDA
3 AGUS YATIM LETTU
4 AZIS JUNAID LETTU
5 ABAS HASAN SERMA
6 DARUHAN SERMA
7 RASYID SIRIN KOPTU
8 Y. MALIKI BPNK
9 HASAN BASRI BPNK
10 BURHAN BPNK
11 ALI AMRAN BPNK
12 SYAFWANEFF BPNK
13 A. MALIK BPNK

16 Januari 1949

Rombongan Stasiun Radio beserta Mr. Teuku Hasan tiba di Bidar Alam, rombongan Sjafruddin Prawiranegara sudah tiba disana terlebih dahulu. Sekitar minggu terakhir Januari 1949, seluruh rombongan secara lengkap sudah berada di Bidar Alam.

17 Januari 1949

Stasiun Radio PDRI berhasil melakukan kontak dengan New Delhi.

21 Januari 1949

Sjafruddin Prawiranegara mengirimkan ucapan selamat kepada Nehru dan peserta Konferensi New Delhi tentang Indonesia.

22 Januari 1949

Konferensi New Delhi yang dihadiri oleh 19 Delegasi Negara Asia, termasuk Delegasi Peninjau, mengeluarkan Resolusi (Resolusi New Delhi), yang berisi protes terhadap agresi Militer Belanda dan menuntut pengembalian Tawanan Politik (Soekarno-Hatta) dan semua pemimpin Republik ke Yogyakarta.

23 Januari 1949

Mr. Rasjid dari Koto Tinggi, mengirimkan ucapan selamat atas keberhasilan Konferensi New Delhi.

28 Januari 1949

DK-PBB mengeluarkan resolusi tentang masalah Indonesia.

29 Januari 1949

Hubungan PDRI dengan para pemimpin di Jawa mulai dapat dibuka lewat telegram Kol. T.B. Simatupang, Wakil Kepala Staf APRI, yang melaporkan perkembangan di Jawa kepada PDRI Pusat di Sumatera. Laporan ini kemudian pada 12 Februari 1949 disusul dengan laporan Kol. A.H. Nasution kepada Ketua PDRI.

7 Februari 1949

Menteri Kasimo, atas nama KPPD melaporkan perkembangan terakhir di Jawa sebagai tanggapan atas telegram Ketua PDRI, 15 Januari 1949.

8 – 30 Februari 1949

Komunikasi antar Tokoh PDRI di Sumatera dan Jawa dapat diintensifkan sehingga kepemimpinan dan strategi perjuangan menghadapi kekuatan militer Belanda semakin Terkonsolidasi.
Prakrasa perundingan yang disponsori oleh Badan PBB, UNCI, antara para pemimpin yang ditawan di Bangka dengan para petinggi Belanda di Jakrta di bawah pimpinan Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr. Beel.

28 Februari – Maret 1949

Serangan balik ke Ibu Kota berdasarkan gagasan cemerlang penguasa tertinggi Republik di Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono. Serangan itu dilaksanakan oleh para prajurit yang bermarkas di sekitar Yogya, dipimpin oleh Letkol Soeharto.

2 – 29 Maret 1949

Kontak antara PDRI di Sumatera dan PDRI di Jawa.

3 Maret 1949

Stasiun Radio Dick Tamimi di Bidar Alam menerima radiogram dari Wonosari tentang serangan 1 Maret 1949 (“6 jam di Yogya”). Radiogram tersebut langsung dikirim keseluruh Satsiun Radio AURI di Sumatera, termasuk Koto Tinggi, Aceh. Kabar itu, oleh Stasiun Radio AURI di Koto Tinggi, dikirimkan pula ke Perwakilan RI di New Delhi melalui surat stasiun radio di India. Berita yang sama juga disebarkan oleh Stasiun Radio AURI di Aceh (belakangan diketahui bahwa stasiun radio AURI tersebut berada di Desa Tangse dan di Kota Kotaraja), yang ternyata mempunyai hubungan dengan Stasiun Radio Angkatan Darat Burma. Atas izin pemimpin AD Burma saat itu, Stasiun Radio Angkatan Darat Burma dapat dipergunakan oleh Opsir Muda Udara III Soemarno untuk berhubungan dengan Stasiun Radio AURI di Aceh. Soemarno, telegrafis, bersama Opsir Udara III Wiweko, penerbangan berada di Burma dalam rangka penerbangan RI Seulawah.

31 Maret 1949
Penyempurnaan Susunan Kabinet PDRI. Keanggotaan Kabinet diperlengkapi dengan para Menteri yang masih aktif di Jawa, termasuk Mr. Maramis, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, yang diangkat sebagai Menteri Luar Negeri PDRI berkedudukan di New Delhi.

1 April 1949
Panglima Besar Soedirman akhirnya memilih menetap di Desa Sobo, setelah mengungsi dan bergerilya sejak mundur dari Yogya, Subuh 19 Desember 1948 dia menetap di Desa itu hingga kembali ke Yogya 10 Juli 1949.

15 – 25 April 1949
Rombongan Sjafruddin Prawiranegara secara bertahap meninggalkan Bidar Alam menuju Sumpur Kudus, tempat musyawarah besar pimpinan PDRI akan diadakan.

4 Mei 1949
Rombongan Gubernur Militer Mr. Rasjid dari Koto Tinggi dan Mr. Moh. Nasroen, mantan Wakil Gubernur Sumatera Tengah yang diangkat sebagai Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera Tengah, tiba di Sumpur Kudus.

5 Mei 1949
Rombongan PDRI Sjafruddin Prawiranegara, secara lengkap tiba di Desa Calau, Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui desa-desa antara lain Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tapus, Durian Gadang, Menganti (menginap satu malam) dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.

7 Mei 1949
Pernyataan Roem-Royen di Jakarta, disusul dengan reaksi keras dari pihak oposisi, PDRI dan Panglima Besar Soedirman.

9 Mei 1949
Rombongan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Calau, menuju ke Sumpur Kudus. Setelah menempuh satu hari perjalanan, rombongan tiba disebuah dataran tinggi. Saat itu anggota rombongan dipecah tiga : Sjafruddin Prawiranegara ke Desa Silangit dan Silantai, Stasiun Radio Sjafruddin ke Desa Guguk Siaur dan rombongan Keuangan ke Desa Padang Aur dam desa-desa lain sekitarnya. Di Daerah Ampalu itu, kru Stasiun Radio AURI bertemu dengan Kru Stasiun Radio PTT di Desa Tamporunggo, Sungai Naning dan desa-desa lain. Sejak saat itu, kegiatan Stasiun Radio Dick Tamimi semakin intensif.

14 – 17 Mei 1949
Sidang Paripurna Kabinet PDRI di Silantai, Sumpur Kudus di daerah Ampalu. Di tempat itu berkumpul semua anggota Kabinet PDRI yang berada di Bidar Alam dan Koto Tinggi, untuk membicarakan reaksi PDRI terhadap prakarsa perundingan yang dilakukan oleh para pemimpin yang ditawan di Bangka (Pimpinan Soekarno – Hatta). PDRI mengeluarkan pernyataan yang menolak prakarsa perundingan kelompok Bangka.


18 Mei – 19 Juni 1949
Sjafruddin tidak kembali ke Bidar Alam, melainkan tetap bersama seluruh anggota rombongan berangkat ke Koto Tinggi.

2 Juni 1949
Sjafruddin melakukan kontak radiogram dengan Hatta, via Kol. Hidayat, Panglima Sumatera yang bermarkas di Aceh.

5 – 10 Juni 1949
Hatta berangkat ke Aceh untuk mencari PDRI

19 Juni – 30 Juli 1949
Stasiun Radio AURI Tamimi (walaupun tanpa Tamimi lagi, karena yang bersangkutan telah ikut ke Koto Tinggi) masih berada di Siaur untuk beristirahat. Mereka ikut berpuasa dan berlebaran di Desa Siaur, pada tanggal 27 juli 1949.

2 – 3 Juli 1949
Utusan Hatta (terdiri dari dr. Leimena, Moh. Natsir dan dr. A. Halim) yang hendak menemui Sjafruddin di Koto Tinggi, tiba di Padang. Setelah menginap satu malam di Hotel Muaro, mereka berangkat dengan konvoi ke Bukittinggi dan seterusnya ke Payakumbuh. Keadaan pada waktu itu belum aman, sehingga kendaraan mereka paling kurang harus berhenti lima kali, karena dicegat oleh Gerilyawan.

6 – 7 Juli 1949
Perundingan antara utusan Hatta dan PDRI berlangsung di Koto Kaciak, Padang Japang Payakumbuh. Setelah melalui perundingan yang alot dan menegangkan, Sjafruddin berhasil diajak kembali ke Yogya, menandai terjadinya rujuk antara PDRI dan kelompok Bangka.

6 – 8 Juli 1949
Rombongan pemimpin dari Bangka tiba di Yogya. Dua hari kemudian utusan Hatta tiba pula di Ibu Kota.

10 Juli 1949
Sjafruddin dan Panglima Besar Soedirman memasuki Yogya. Sjafruddin bertindak sebagai Inspektur upacara penyambutan para pemimpin yang kembali ke Yogya.

13 Juli 1949
Sidang Kabinet Hatta pertama sejak Agresi kedua Belanda dengan acara pokok pengembalian Mandat PDRI oleh Sjafruddin kepada Soekarno – Hatta.

25 Juli 1949
Badan Pekerja KNIP dalam sidang pertama yang dipimpin Mr. Asaat, menyetujui pernyataan Roem Royen, tetapi dengan persyaratan yang diajukan PDRI melalui pengumuman pada 14 Juni. Persyaratan itu adalah : (1) TNI tetap berada di daerah yang didudukinya; (2) Tentara Belanda harus ditarik dari daerah yang didudukinya; (3) Pemulihan Pemerintah RI di Yogyakarta harus dilakukan dengan tanpa syarat.

Sejak itu, babak baru sejarah perjuangan memasuki tahap akhir, hingga menyerahkan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia (RIS) pada tanggal 27 Desember 1949.

Daftar Pustaka :
Mestika Zed, Somewhere in the Jungle
Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Sebuah Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan
Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1997, hal.335.

By ; Biro Humas, dikutip dari buku saku Panpel Mubes Yayasan (Peduli Perjuangan) PDRI Th.2003
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peristiwa Situjuah adalah suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya.

PDRI

PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) adalah suatu pemerintahan darurat yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 1948 oleh beberapa orang pimpinan pejuang kemerdekaan Indonesia dan dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pemerintahan itu dibentuk karena ditangkap dan diasingkan-nya beberapa orang pemimpin Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim serta Sjahrir dan lainnya oleh pihak Belanda ketika terjadinya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
Ibukota PDRI adalah Bukittinggi, namun perjuangannya lebih banyak terjadi di desa-desa dan hutan-hutan Sumatera Tengah sehingga disebut "Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia" (PDRI) oleh pihak Belanda. Sedangkan lokasinya disebut "Somewhere in the Jungle".

Patriot Bangsa

Dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949, dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda. Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).
Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota Payakumbuh yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota itu sambil menggelorakan semangat perlawanan gerilya rakyat untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan. Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta, serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.
Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnya-pun gugur seketika.
Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu dikenang sebagai "Peristiwa Situjuah".

0 Tujuan Pernikahan dalam Islam


Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
Pernikahan dalam Islam bukan sekedar memenuhi kebutuhan seksual antara kedua pasangan, sekalipun ini merupakan tujuan primer untuk memenuhi dorongan-dorongan biologis. Pernikahan dalam Islam mempunyai tujuan-tujuan luhur, yang terpenting di antaranya adalah:

1. Memperbanyak Jumlah Kaum Muslimin dan Membahagiakan Hati Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam
Sahabat Maqbal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang menghadap Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam seraya berkata, ‘Sesungguhnya aku mendapat seorang wanita yang baik dan cantik, namun dia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya?’ Lalu beliau Shalallahu ’Alaihi Wasallam menjawab, ‘Jangan!’ Selanjutnya dia menghadap Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam untuk kedua kalinya dan ternyata Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam tetap mencegahnya.

Kemudian dia pun datang lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain,” (HR Abu Dawud dan An-Nasai).

Dari Ibunda Aisyah Radhiyallahuanha bahwa Rasulullah bersabda,

Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang tidak mau mengamalkan sunnahku berarti bukan bagian dariku. Nikahlah, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat,” (HR Ibnu Majah).

2. Menjaga Kesucian Jiwa dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam, “Pada persetubuhan kalian juga ada nilai sedekahnya.” Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami menyalurkan hasratnya lalu dia memperoleh pahala darinya?” Lalu Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Bagaimana pendapat kalian jika dia menyalurkan hasratnya itu di tempat yang haram, bukankah dia mendapat dosa?” Mereka menjawab, “Iya!” Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wasallam melanjutkan, “Maka demikianlah sebaliknya. Jika dia menyalurkannya di tempat yang halal, akan memdapat pahala,” (HR Muslim, An-Nasai, dan Ahmad).

3. Membentuk Generasi Muslim
Ini dimulai ketika melakukan jimak dengan istri, yang disertai dengan niat untuk mendapatkan anak yang shalih.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Sulaiman bin Dawud pernah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku akan menggilir 100 atau 99 istriku dalam semalam, yang masih-masing akan melahirkan penunggang kuda yang akan berjihad di jalan Allah.’

Lalu para Sahabat Nabi Sulaiman berkata, ‘Katakanlah Insya Allah (Jika Allah menghendaki).’ Namun ternyata dia (Sulaiman) tidak mengucapkannya sehingga hanya ada satu istri saja yang melahirkan seorang anak perempuan yang menyerupai laki-laki. Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya, kalau saja ia mau mengucapkan Insya Allah, tentu semuanya akan melahirkan para penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah,
” (HR Bukhari dalam Bab Man Thalaba Al Walaad lil Jihad).

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (7/272) mengatakan, “Yang dimaksud dengan ‘Bab Man Thalaba Al Walaa lil Jihad (Bab Orang yang Meminta Anak untuk Tujuan Jihad) adalah orang yang ketika melakukan jimak berniat untuk mendapatkan anak, agar kelak bisa berjihad di jalan Allah. Sehingga jimak yang dilakukannya membawa pahala baginya, sekalipun dia tidak mendapatkan anak yang menjadi harapannya.

Abul Hasan Al-Mawardi juga sepaham dengan penjelasan Al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau mengatakan, “Hendaklah di dalam melakukan jimak itu diniatkan untuk memperoleh anak. Di samping itu dia juga harus berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dia berharap kiranya Allah menganugerahkan anak kepadanya yang akan beribadah kepada-Nya dan mengesakanNya, yang akan membawa kemaslahatan bagi sesama makhluk, akan menegakkan kebenaran, mendukung kejujuran, memberikan kemanfaatkan kepada para hamba serta memakmurkan negeri,” (Al-Mawardi, Kitab Nasihah Al-Muluuk – Ditahqiq oleh Sheikh Muhammad Khadhar Husain).

4. Melanjutkan Keturunan Umat Manusia

Thabrani meriwayatkan hadist dari Abu Hafshah bahwa Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggalkan doa untuk meminta anak. Karena seseorang itu jika sudah meninggal, sementara dia tidak punya anak, maka namanya menjadi terputus,” (Lihat Kanz Al-Ummal, 16/281. Sanad Hadist ini hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Haitsami dalam Al-Majma).

Dewasa ini orang-orang kafir di Barat maupun Timur, dan juga pengikut-pengikut mereka di berbagai negeri Islam, mempropagandakan gagasan pembatasan kelahiran (Keluarga Berencana-KB) di tengah-tengah kaum muslimin. Pada saat yang sama, mereka mendorong kaum kafir agar memperbanyak anak. Tujuannya adalah agar jumlah kaum muslimin menjadi sedikit dan jumlah orang-orang kafir menjadi banyak.

Oleh karena itu, Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam menganjurkan kita agar mempunyai banyak anak sehingga hal itu menjadi kemuliaan, keperkasaan, dan kekuatan bagi kaum muslimin. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengatakan, bahwa Nabi Shalallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah lahir seorang anak dalam keluarga seseorang melainkan dia menjadi kemuliaan tersendiri bagi mereka yang sebelumnya tidak ada,” (HR Thabrani dalam Al-Ausath). Wallahualam bish shawwab.

0 Fiqih Shalat: Hal-hal yang Makruh dalam Shalat

 
Oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy
1. Menegok (menoleh) dengan kepalanya atau melirik dengan pandangannya
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
(Menoleh saat shalat) itu adalah barang curian setan dari shalat seorang hamba,” (HR Al-Bukhari: 1/191, 4/152).
2. Mengangkat pandangan ke langit
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Orang-orang mengangkat pandangan mereka ke langit ketika shalat, hendaklah mereka berhenti melakukan hal itu jika tidak sungguh penglihatan mereka akan dicabut,” (HR Al-Bukhari: 1/191).
3. Takhashshur, atau meletakkan tangan di atas pinggang
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Nabi Shalallahu’alaihi Wa Sallam melarang seseorang shalat dengan meletakkan tangannya di atas pinggang,” (HR At-Tirmidzi: 383, dan An-Nasai: 2/127).
4. Memegang rambutnya yang terurai, atau lengan bajunya, atau pakaiannya
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh anggota bada, serta aku tidak menggulungkan (memegang) pakaian tidak pula rambut (yang terurai),” (HR Muslim: 128, 231, kitab Ash-Shalah).
5. Menjalin jari-jari tangan atau menekannya hingga berbunyi
Berdasarkan riwayat bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam pernah melihat seorang laki-laki yang menjalin jari-jari tangannya dalam shalat, lalu beliau melepaskan jari-jarinya dan bersabda:
Janganlah kamu menekan jari-jari tanganmu ketika kamu sedang menunaikan shalat,” (HR Ibnu Majah dengan sanad Dha’if. Meski demikian, secara umum para ulama sepakat dengan hadist ini).
6. Menyapu (mengusap) kerikil atau pasir dari tempa sujud lebih dari satu kali
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Apabila salah seorang dari kalian sedang mengerjakan shalat maka janganlah dia menyapu kerikil (pasir), karena rahmat itu diarahkan kepadanya,” (HR Ibnu Majah: 1027, dan Ad-Darimi: 1/322).
Juga sabda beliau Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Jika kamu memang melakukannya maka cukup satu kali,” (HR Ibnu Majah).
7. Bermain-main dan segala perbuatan yang melalaikan shalat serta menghilangkan kekhusyu’annya
Hal ini mencakup aktivitas seperti memegang jenggot, pakaian atau melihat-lihat hiasan pada tikar, sajadah, dinding atau lainnya. Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam bersabda:
Tenanglah kalian ketika sedang mengerjakan shalat,” (HR Muslim: 119, kitab Ash-Shalaah).
8. Membaca Al-Quran ketika rukuk atau sujud
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Aku dilarang membaca Al-Quran dalam keadaan rukuk atau sujud,” (Dicantumkan oleh Imam Syafii dalam musnadnya: 41).
9. Menahan dua kotoran (buang air kecil dan besar)
10. Shalat ketika makanan telah dihidangkan
Makruh shalat ketika makanan telah dihidangkan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wa Sallam:
Tidak boleh shalat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika dia menahan dua kotoran (buang air kecil dan besar),” (HR Muslim: 67, kitab Ash-Shalaah).
11. Duduk pada kedua tumit dan membentangkan kedua lengannya.
Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah Radhiyallahu anha:
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam melarang jongkok setan[i] – duduk pada dua tumit – dan melarang seseorang merebahkan kedua tangannya seperti binatang buas,” (HR Muslim: 1/357, 2/54). Wallahu’alam bish shawwab


[i] Jongkok setan itu adalah yang disebut dengan Al-Iq’aa, yaitu menempelkan pantatnya di atas lantai dan menegakkan kedua betisnya, serta meletakkan kedua tangannya di atas lantai seperti duduknya seekor anjing.

0 Beberapa Sunnah dan Adab-adab Berpuasa Ramadhan

 
Oleh Sheikh Muhammad Jamil Zainu
1. Sahur, berbuka dan berdo’a.
a.) Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Bersahurlah karena di dalam sahur itu adalah berkah.” (Muttafaq ’alaihi)
b.) Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq ’alaihi)
c.) Hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berbuka sebelum menunaikan sholat dengan beberapa ruthob (kurma basah), dan apabila tidak memiliki ruthob beliau berbuka dengan beberapa tamr (kurma kering), dan apabila tidak memiliki tamr beliau berbuka dengan menenggak seteguk air.” (Shahih¸ HR Turmudzi).
d.) Sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
ثَلاثٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Tiga orang yang tidak ditolak do’a mereka, yaitu : seorang yang berpuasa ketika berbuka, seorang imam yang adil dan do’a orang yang teraniaya.” (Shahih, HR Turmudzi dan selainnya).
e.) Adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam apabila berbuka, beliau mengucapkan,
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Telah sirna dahaga dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan pahala dengan kehendak Allah.” (Hasan, HR Abu Dawud).
2. Perbanyaklah berdzikir kepada Alloh, membaca dan mendengar Al-Qur`an, mentadabburi maknanya dan mengamalkannya, dan pergilah ke Masjid-Masjid untuk mendengarkan pengajian-pengajian yang bermanfaat.
3. Perbanyaklah sedekah terhadap kerabat dan orang-orang yang papa, kunjungilah karib keluarga dan berbuat baiklah terhadap musuh.
Jadilah orang yang berhati lapang lagi mulia. Sungguh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling lapang dengan kebaikan dan yang paling murah hati perbuatannya di Ramadhan.
4. Janganlah berlebih-lebihan di dalam makan dan minum ketika berbuka, sehingga anda menyia-nyiakan faidah puasa dan memperburuk kesehatan anda.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :
مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمُ وِعَاءً شَرً مِنْ بَطْنِهِ
Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya.” (Shahih, HR Turmudzi).
5. Jangan mendengarkan nyanyian dan musik-musik karena ia adalah seruling syaithan.
6. Jangan pergi ke bioskop dan janganlah menonton televisi yang bisa jadi anda akan melihat sesuatu yang merusak akhlak dan menghilangkan pahala puasa.
7. Jangan banyak begadang sehingga anda melewatkan sahur dan sholat fajar (shubuh) dan lebih utama bagi anda beraktivitas di pagi hari.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :
اللُّهمَّ بَارِكْ لِأٌمَّتِيْ بُكُرِهَا
Ya Alloh berkahilah umatku di pagi hari mereka.” (Shahih, HR Ahmad). Wallahu’alam bish shawwab.