Jumat, 04 Oktober 2013

0 Jika Benar Kamu Mencintai Kami



Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka.
Wahai kaum wanita yang kami cintai, jika benar anda sayangkan kami, ada beberapa aurat perlu dijaga kalian :
1. Bulu kening
– Menurut Bukhari, Rasullulah melaknati perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening – Petikan dari (Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari)

2. Kaki memakai gelang kaki berloceng
– Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan – Petikan dari (Surah An-Nur Ayat 31.)
Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah.

3. Wangi-wangian
– Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telahdianggap melakukan zina
Dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong kapal atau kata orang sekarang hidung belang – Petikan dari (Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban)

4. Dada
– Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka – Petikan dari (Surah An-Nur Ayat 31.)

5. Gigi
– Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya – Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah – Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

6. Muka dan leher
– Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan :  Sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.

7. Muka dan Tangan
– Asma binti Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang nipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja – Petikan dari (Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.)

8. Tangan
– Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya – Petikan dari (Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.)

9. Mata
– Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya – Petikan dari( Surah An Nur Ayat 31.)
Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram – Petikan dari (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.)

10. Mulut (suara)
– Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik – Petikan dari (Surah Al Ahzab Ayat 32.)
Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi – Petikan dari (Hadis Riwayat Ibn Majah.)

11. Kemaluan
– Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka – Petikan dari (Surah An Nur Ayat 31).
Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya – (Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.)
Tiada seorang perempuan pun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah – Petikan dari (Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.)

12. Pakaian
– Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti – Petikan dari (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, An Nasaii dan Ibn Majah.)
Petikan dari (Surah Al Ahzab Ayat 59. ) Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali.
Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat.
Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya – Petikan dari (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.) Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka bahagian-bahagian tertentu.

13. Rambut
– Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya – Petikan dari (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)

* Bagaimana? Ingatlah, definisi sayang adalah membantu suami atau ayah kamu membawa keluargamu ke syurga, bukan melemparkan dia ke neraka. Jika benar kamu cinta kepada kami, maka tolonglah kami. JAGALAH AURAT MU

0 10 Gunung Api Tertinggi Dunia

Sebelum kita melihat daftar 10 gunung api tertinggi di dunia, ada baiknya kita mengetahuì apa yang di maksud dengan gunung api, walaupun hanya sekilas saja penjabarannya.. Gunung api adalah tonjolan yang memiliki ketinggian tertentu pada permukaan tanah atau bumi dan masih aktif mengeluarkan material-material dari dalam bumi. Itulah definisi singkat tentang gunung api, untuk lebih jelasnya mungkin anda bisa membaca di artikel-artikel yang membahas khusus soal gunung api atau vulkanologi.Jika pegunungan-pegunung tertinggi di dunia lebih banyak berada di kawasan Asia, maka untuk gunung-gunung api tertinggi di dunia justru lebih banyak berada di kawasan Amerika Selatan, bahkan dari 10 daftar gunung api tertinggi di dunia. hampir seluruhnya berada di kawasan Amerika Selatan, tercatat ada 9 gunung api dari Amerika Selatan yang berada di 10 besar, kesembilan gunung api tersebut terletak di empat negara yaitu Chili, Peru Ekuador dan Kolombia.. Meskipun mendominasi, namun gunung api tertinggi di dunia bukanlah berada di kawasan Amerika Selatan, melainkan berada di kawasan Afrika, tepatnya terletak di negara Tanzania, dan gunung api itu bernama gunung Kilimanjaro dengan ketinggian 6.010 m dari permukaan laut.
Berikut ini daftar selengkapnya 10 gunung api tertinggi di dunia beserta ketinggian dan negara tempat keberadaanya:
1. Gunung Api Kilimanjaro - dengan ketinggian 6.010 meter - berada di Tanzania.
2. Gunung Api Guallatiri - dengan ketinggian 5.965 meter - berada di Chili.
3. Gunung Api Lascar - dengan ketinggian 5.896 meter - berada di Chili.
4. Gunung Api Cotopaxi - dengan ketinggian 5.804 meter - berada di Ekuador.
5. Gunung Api El Misti - dengan ketinggian 5.551 meter - berada di Peru.
6. Gunung Api Tupungatito - dengan ketinggian 5.551 meter - berada di Chili.
7. Gunung Api Tolima - dengan ketinggian 5.401 meter - berada di Kolombia.
8. Gunung Api Sangay - dengan ketinggian 5.148 meter - berada di Ekuador.
9. Gunung Api Tunggurahua - dengan ketinggian 4.954 meter - Ekuador.
10. Gunung Api Cotacachi - dengan ketinggian 4.861 meter - berada di Ekuador.

0 Teluk-Teluk Di Indonesia

Teluk adalah tubuh perairan yang menjorok ke daratan dan dibatasi oleh daratan pada ketiga sisinya. Teluk adalah kebalikan dari Tanjung, dan keduanya biasanya dapat ditemukan pada suatu garìs pantai yang sama. Karena letaknya yang strategìs, maka teluk banyak dimanfaatkan sebagai pelabuhan.Berikut ini adalah daftar teluk-teluk yang ada di Indonesia:
1. Teluk Adang - ada dì Kalimantan Tìmur
2. Teluk Aìmere - ada di Ngada, Nusa Tenggara Timur
3. Teluk Airhitam - ada di Pontianak, Kalimantan Barat
4. Teluk Ampana - ada di Poso, Sulawesi Tengah
5. Teluk Apar - ada di Kalimantan Timur
6. Teluk Arus Tapanuli - ada di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
7. Teluk Balikpapan - ada di Balikpapan, Kalimantan Timur
8. Teluk Balok - ada di Dendang, Pulau Belitung, Bangka Belitung
9. Teluk Bangkalan - ada di Janeponto, Sulawesi Selatan
10. Teluk Bangkunet - ada di Lampung Utara, Lampung
11. Teluk Banten - ada di Banten
12. Teluk Banyu Biru - ada di Banyuwangi, Jawa Timur
13. Teluk Baru - ada di Pulau Lingga, Riau
.14. Teluk Batung - ada di Kepulauan Pagal, Sumatera Barat
.15. Teluk Bayur - ada di Padang Pariaman, Sumatera Barat
16. Teluk Bakapai - ada di Kutaì, Kalimantan Timur
17. Teluk Belang-Belang - ada di Mamuju, Sulawesi Selatan
18. Teluk Belatung - ada di Lampung Selatan, Lampung
19. Teluk Benawang - ada di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
20. Teluk Bengkolan - ada di Pontianak, Kalimantan Barat
21. Teluk Bima - ada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
22. Teluk Bingkoka - ada di Kolaka, Sulawesi Tenggara
23. Teluk Bira - ada di Fakfak, Papua
24. Teluk Biangmerang - ada di Alor, Nusa Tenggara Timur
25. Teluk Bone - ada di Janeponto, Sulawesi Selatan
26. Teluk Buli - ada di Pulau Halmahera, Maluku
27. Teluk Bulohan - ada di Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam
28. Teluk Bungus - ada di Padang Pariaman, Sumatera Barat
29. Teluk Cendrawasih/Irian - ada di Manokwari, Papua
30. Teluk Ciasem - ada di Cilamaya, Jawa Barat
31. Teluk Cilateureun - ada di Garut, Jawa Barat
32. Teluk Ciletuh - ada di Sukabumi, Jawa Barat
33. Teluk Dago - ada di Sangihe Talaud, Sulawesi Utara
34. Teluk Dalam - ada di Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam
35. Teluk Etna - ada di Fakfak, Papua
36. Teluk Flaminggo - ada di Merauke, Papua
37. Teluk Garura - ada di Berau, Kalimantan Timur
38. Teluk Genteng - ada di Bekasi, Jawa Barat
39. Teluk Grayangan - ada di Banyuwangi, Jawa Timur
40. Teluk Jakarta - ada di Jakarta, DKI Jakarta
41. Teluk Kabul - ada di Sorong, Papua
42. Teluk Kalono - ada di Kendari, Sulawesi Tenggara
43. Teluk Kaluku - ada di Buton, Sulawesi Tenggara
44. Teluk Kampa - ada di Pulau Bangka, Bangka Belitung
45. Teluk Kamrau - ada di Fakfak, Papua
46. Teluk Kau - ada di Kau, Pulau Halmahera, Maluku
47. Teluk Kendari - ada di Kendari, Sulawesi Tenggara
48. Teluk Klabat - ada di Pulau Bangka, Bangka Belitung
49. Teluk Klumpang - ada di Kotabaru, Kalimantan Selatan
50. Teluk Kora - ada di Muna, Sulawesi Tenggara
51. Teluk Krui - ada di Lampung Utara, Lampung
52. Teluk Kumpit - ada di Belitung, Bangka Belitung
53. Teluk Kupang - ada di Nusa Tenggara Timur
54. Teluk Lada - ada di Pandeglang, Banten
55. Teluk Lahia - ada di Kendari, Sulawesi Tenggara
56. Teluk Lamata - ada di Banggai, Sulawesi Tengah
57. Teluk Lampung - ada di Panjang, Lampung
58. Teluk Langsa - ada di Langsa, Nangroe Aceh Darussalam
59. Teluk Lasolo - ada di Kendari, Sulawesi Tenggara
60. Teluk Lassihing - ada di Aceh Barat, Nangroe Aceh Darussalam
61. Teluk Lawelu - ada di Buton, Sulawesi Tenggara
62. Teluk Lumpung - ada di Lampung Selatan, Lampung
63. Teluk Malasoro - ada di Janeponto, Sulawesi Selatan
64. Teluk Mamuju - ada di Mamuju, Sulawesi Selatan
65. Teluk Manalu - ada di Sangihe Talaud, Sulawesi Utara
66. Teluk Mandar - ada di Polewali/mamasa, Sulawesi Selatan
67. Teluk Mayalibit - ada di Sorong, Papua Barat
68. Teluk Mengkudu - ada di Langkat, Sumatera Utara
69. Teluk Miulu - ada di Sangir Talaud, Sulawesi Utara
70. Teluk Nagaruyung - ada di Ende, Nusa Tenggara Timur
71. Teluk Nangalìli - ada di Manggarai, Nusa Tenggara Timur
72. Teluk Ngalipaeng - ada di Sangir Talaud, Sulawesi Utara
73. Teluk Noilmino - ada di Sikka, Nusa Tenggara Timur
74. Teluk Nuri - ada di Pontianak, Kalimantan Barat
75. Teluk Pacitan - ada di Pacitan, Jawa Timur
76. Teluk Padada - ada di Lampung Selatan, Lampung
77. Teluk Painan - ada di Pesisis Selatan, Sumatera Barat
78. Teluk Paleleh - ada di Gorontalo
79. Teluk Palu - ada di Donggala Sulawesi Tengah
80. Teluk Pamukan - ada di Kotabaru, Kalimantan Selatan
81. Teluk Pananjung - ada di Pangandaran, Jawa Barat
82. Teluk Pangandaran - ada di Pangandaran, Jawa Barat
83. Teluk Panggul - ada di Wonosobo, Jawa Timur
84. Teluk Parìgi - ada di Pangandaran, Jawa Barat
85. Teluk Pasangkayu - ada di Mamuju, Sulawesi Barat
86. Teluk Pasarwajo - ada di Buton, Sulawesi Tenggara
87. Teluk Pasangan - ada di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat
88. Teluk Pelabuhan Ratu - ada di Sukabumi, Jawa Barat.
Bersambung ke Teluk-Teluk Di Indonesia jilid 2..

Kamis, 03 Oktober 2013

0 SEJARAH : TUANKU LINTAU ( ± 1770 -1832 )

Di Tanah Datar muncul pula seorang ulama, Saidi Muning, anak seorang penghulu bergelar Datuk Sinaro. Ia pernah belajar di surau Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo. Ia melanjutkan pelajarannya di Natal dan Pasaman. Kemudian ia memimpin suraunya yang terletak di pantai di Pasaman. Semenjak itu pula ia dikenal dengan panggilan Tuanku Pasaman.
Pada tahun 1813, Tuanku Pasaman kembali ke kampung halamannya di Lintau, di lembah Sinamar. Ia berpendapat, misinya harus diarahkan pada pembaruan tingkah laku masyarakat di sekitar kerajaan Pagaruyung. Ia sangat terkesan dengan pembaruan yang dilakukan Tuanku Nan Renceh. di Kamang.
Muningsyah, Raja Pagaruyung, tidak menentang gerakan yang dilakukan Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Pasaman di Lintau untuk perbaikan moral masyarakat Tanah Datar. Tetapi, masyarakat di desa-desa yang berdekatan dengan kerajaan Pagaruyung acuh tak acuh terhadap kehidupan masyarakat. Mereka bahkan memperlihatkan permusuhan, sehingga timbul pertentangan di tengah masyarakat.
Kerusuhan menjalar ke desa-desa sebelah timur Tanah Datar. Tuanku Pasaman memutuskan mengakhiri sifat otonomi desa yang berlaku selama ini. Ternyata, Raja Pagaruyung tidak mempunyai kekuatan dan tidak mempunyai niat untuk melakukan pembaruan. Tuanku Pasaman berkesimpulan, prasyarat berhasilnya pelaksanaan idenya, ialah dengan jalan melaksanakan administrasi pemerintahan yang seragam di Tanah Datar. Tindakan yang akan dilakukannya ialahpertama, menyingkirkan keluarga kerajaan,kedua menyerang desa-desa yang paling erat dengan kerajaan Pagaruyung. Ia yakin bahwa sistem kerajaan Pagaruyung menjadi penghalang cita- citanya.
Pada tahun 1815, ia mengajak Raja Alam beserta keluarga kerajaan lainnya untuk bermusyawarah di Koto Tangah, antara Barulak dengan Saruaso. Pada pertemuan itu tiba-tiba Tuanku Pasaman menuduh Raja Alam kurop dan tidak beragama. Tuanku Pasaman memerintahkan menyerang raja. Banyak anggota keluarga Pagaruyung mati terbunuh dalam peristiwa itu, termasuk dua orang anak Raja Alam Pagaruyung. Raja Muningsyah bersama cucunya dapat meloloskan diri ke Lubuk Jambi. setelah terjadi Peristiwa Koto Tangah itu.
Tuanku Pasaman menyerang Lubuk Jambi pada tahun 1823 untuk dapat menguasai kota dagang di pantai timur melalui Sinamar. Tuanku Pasaman berusaha memperkuat kedudukannya di mata penduduk pusat kerajaan. Ia mengawini anak Raja Ibadat terakhir yang meninggal pada tahun 1817. Kemudian ia memindahkan kedudukannya dari Sumpur Kudus ke Lintau dan menyatakan dirinya sebagai pemegang waris Raja Adat dan Raja Ibadat. Semenjak itu pula ia lebih dikenal dengan gelar Tuanku Lintau.
Tuanku Lintau dapat meluaskan sistem administrasi Padri di daerahnya dengan dukungan hulubalang yang berpakaian merah untuk membedakannya dengan dubalang yang berwarna hitam. Di daerah bukit sebelah timur Lintau, sistem Padri diterima dengan baik. Penduduk Buo dan Kumanis menganut ajaran Padri. Di sebelah utara Lintau, di lereng Gunung Sago, berada di bawah hulubalang Tuanku Lintau yang bernama Tuanku Halaban.
Sehubungan dengan serangan itu, dasar-dasar ekonomi dan politik Kerajaan Pagaruyung lumpuh. Keluarga kerajaan berusaha menyelamatkan diri dari kehancuran dengan kembali kepada sekutu lama, Belanda. Semua nagari yang terletak pada jalur Koto Piliang ke pantai barat ikut menandatangani perjanjian dengan Belanda pada tahun 1819. Nagari-nagari ini diwakili dua beradik Sultan Saruaso dan Raja Alam Bagagarsyah dari Pagaruyung dan Nagari Duo Puluh Koto dan Batipuh. Mulai saat itu Gerakan Pembaruan Padri berhadapan dengan Belanda yang kemudian berubah menjadi Perang Padri.
Kawasan Lintau dipisahkan dengan pusat Tanah Datar oleh punggung bukit barisan dengan lembah-lembah yang dalam. Bukit pemisah ini ialah Bukit Marapalam dipergunakan sebagai benteng perlindungan yang sulit ditembus dari arah Tanah Datar. Punggung bukit di sekitar Lintau ditanam dengan kopi. Kawasan ini merupakan pertemuan bukit yang membentuk lereng-lereng yang mendaki. Di sela- sela bukit ini mengalir mata air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah- sawah yang terletak di tengah kebun kopi, dikelilingi oleh sawah yang subur, yang mendatangkan kesejahteraan penduduknya.
Halaban dan Lintau semenjak lama mempunyai hubungan dagang dengan pantai timur, di hulu Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Pada tahun 1813, ia membenahi desanya, Lintau. Semenjak tahun 1820 melakukan upaya mengawasi lalu lintas perdagangan jalur Indragiri. Sejak itu pula ia terkenal sebagai Tuanku Lintau.
Penduduk Lintau melakukan penukaran kopi dengan barang-barang katun dan garam. Terbukti bahwa terdapat hubungan antara kemakmuran dengan diterimanya asas pembaruan Islam (Protagoni).
Tuanku Kacik, utusan Tuanku Lintau datang ke Bonjol menyatakan bahwa pasukan Belanda dengan sekutunya akan menyerang Lintau. Kedatangan pasukan Belanda yang menyerang Bukit Marapalam bergerak dari Pagaruyung dengan kekuatan 8 pucuk meriam dapat dipukul mundur sampai desa Tanjung. Empat pucuk meriam dapat dirampas pasukan hulubalang Lintau. Empat hari kemudian, Belanda kembali mencoba menyerang Bukit Marapalam dari arah desa Tanjung. Peristiwa ini terjadi pada 13 April 1823.
Pasukan hulubalang Bonjol di bawah pimpinan Tuanku Mudo yang sedang berada di Ampek Angkek, mendengar serangan Belanda ke Bukit Marapalam itu segera bergerak ke lembah Bukit Marapalam. Pasukan Bonjol menyerang dari arah utara sehingga pasukan hulubalang Lintau dapat menguasai medan pertempuran. Pasukan Lintau dan hulubalang Bonjol dapat menguasai lapangan pertempuran. Kekalahan ketiga kalinya bagi Belanda terjadi pada tanggal 16 April 1823 yang dikenal sebagai Hari Keprajuritan Perlawanan Lintau. Peristiwa serangan Belanda dan perlawanan hulubalang Lintau telah dilukis pada relief Museum Perjuangan Taman Mini. Pada serangan itu Belanda mendapat kekalahan. Tiga orang perwira, 45 serdadu Belanda mati, 9 perwira luka dan 178 prajurit menderita luka. Empat buah meriam Belanda dapat dirampas. Berulang kali serangan dilakukan ke daerah Tuanku Lintau, tetapi pertahanan yang kuat di Bukit Marapalam tidak dapat ditembus pasukan Belanda.
Pertahanan Tuanku Lintau (1813-1830) baru ditembus pasukan Belanda melalui pengkhianatan yang dilakukan dalam malam pekat ketika hujan turun dengan deras pada tahun 1830. Hulubalang yang bertugas di Bukit Marapalam dengan mudah dapat dilumpuhkan pasukan Belanda dengan bantuan pengkhianat. Serangan Belanda ke Batu Bulek dapat memecah pasukan Tuanku Lintau (Juli 1830).
Sumber:
Sjafnir Aboe Nain, drs, Naskah Tuanku Imam Bonjol-Naali Sutan Caniago, alih tulis, revisi 2003
————–, Tuanku Imam B onjol, Sejarah Intektual Islam di Minangkabau (1784-1832), Penerbit
ESA, Padang, 1988

2 TUANKU LINTAU

TUANKU LINTAU DAN PERISTIWA TANJUANG BARULAK�

Assalamualaikum wr.wb.

Salah seorang tokoh dari Gerakan Paderi dari Kelompok Harimau Nan Salapan adalah Tuanku Lintau yang juga dikenal dengan nama
Tuanku Pasaman ( karena beliau pernah mengaji pada sebuah surau dipinggir pantai Pasaman yang berjarak 1 � jam berjalan kaki
dari negri Tiku) melakukan suatu kontak rahasia dengan Rajo Nan Baduo dari Rajo Tigo Selo yang bernama Nan Dipertuan Bakuni untuk
melakukan suatu kerjasama dalam membasmi kebiasaan buruk dari masyarakat Luhak Tanah Data . Dalam kontak itu disepakati juga bahwa
Rajo Nan Baduo secara bersama-sama dengan Tuanku lintau akan membantu pergerakan kaum Paderi dalam membasmi segala kemaksiatan
dan adat istiadat buruk yang bertentangan dengan ajaran Islam yang secara umum telah banyak diperbuat oleh masyarakat sekitar
Luhak Tanah Data (Batu Sangkar).

Selanjutnya Rajo Nan Baduo , bukan saja sekedar mengajak dua orang Raja yang lain untuk ikut serta , tetapi malah lebih jauh lagi
dengan memaksa mereka untuk menganut ajaran baru dari kaum Paderi itu dan memerintahkan seluruh rakyat yang ada di Luhak Tanah Data
semuanya untuk berpakaian jubah putih-putih sebagaimana juga diperbuat oleh rakyat Luhak Agam (Bukittinggi) yang merupakan ciri
khas ke Islaman dari pakaian kaum Paderi.

Ketika Tuanku Lintau pulang ke kampungnya di Lintau, beliau agak kecewa dan nampaknya beliau sendiri tidak berhasil menerapkan
ajaran baru itu dikalangan masyarakat kampung halamannya itu. Bahkan banyak diantara masyarakat Lintau yang tidak berkenan dan
setuju dengan paham kaum Paderi yang dianut oleh Tuan Lintau itu. Supaya ajaran baru itu bisa diterima dengan cepat oleh
masyarakat, beliau lalu memberikan suatu contoh penerapan �syari�at Islam� ditengah-tengah masyarakat dengan melakukan eksekusi
hukuman pancung sampai mati ( sebagaimana juga dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh didaerah Kamang terhadap etek (tante) nya sendiri)
terhadap seorang penghulu pemangku adat yang telah tiga kali diperhatikannya setiap hari mengepit �ayam jantan aduan� pergi ke
arena penyabungan ayam�.

Tentu saja eksekusi pembunuhan yang dilakukan Tuanku Lintau terhadap pemangku adat itu , menimbulkan kegemparan dikalangan
masyarakat Lintau. Terjadi kehebohan dan huru-hara dan masyarakat disekitar Lintau pun pada ketakutan sekaligus tanpa berpikir
banyak mereka semuanya mengikut paham kaum Paderi itu. Hanya saja terjadi pengecualaian ketika sebagian besar masyarakat negari
Tanjuang Barulak , secara bersama-sama pula menolak untuk mengamalkan ajaran yang dikembangkan oleh Tuanku Lintau itu.

Mendapat kabar bahwasanya masyarakat Tanjuang Barulak menolak ajaran kaum Paderi itu , Tuanku Lintau �mamburangsang tabik rabo�
sehingga bersama-sama pengikutnya menyerang negari Tanjuang Barulak dan memaksa seluruh penduduk negari itu tunduk sembari
memerintahkan mereka memakai jubah putih-putih sekaligus menganut ajaran kaum Paderi itu. Tindakan kekerasan dan pemaksaan Tuanku
Lintau ini mendapat teguran dan kecaman keras dari keluarga bangsawan kerajaan Pagaruyuang dan meminta Tuanku Lintau meninggalkan
negari Tanjuang Barulak. Tuanku Lintau selanjutnya menarik mundur pasukannya dari Tanjuang Barulak pulang ke Lintau dan
mengajukan permintaan untuk mengadakan pertemuan perundingan dengan keluarga bangsawan dan raja-raja pemegang kuasa kerajaan
Pagaruyuang di negari Koto Tangah.

Dalam perundingan yang diadakan di tanah lapang negari Koto Tangah itulah Tuanku Lintau mengajukan usul dan tuntutan supaya Nan
Dipertuan Rajo Naro, Nan Dipertuan Rajo Talang dan Putera Rajo Minangkabau Sutan Muniang Alamsyah dijatuhi hukuman pancung sampai
mati, karena mereka semuanya telah melakukan pelanggaran terhadap hukum Islam. Nan Dipertuan Rajo Naro dipersalahkan karena
melakukan perlawanan terhadap Tuanku Lintau ketika penyerangan negari Tanjuang Barulak. Usul dari Tuanku Lintau itu mendapat
tanggapan yang beragam dari peserta perundingan, sehingga terjadi silang pendapat diantara mereka yang hadir yang ujung-ujungnya
kembali terjadi sengketa diantara kedua belak pihak dan tawuran massalpun tidak bisa dihindari lagi.

Secara tiba-tiba Tuanku Lelo ( salah seorang anggota Harimau Nan Salapan juga ) dengan ratusan anak buahnya menyerbu ketengah
lapangan dan langsung membunuh semua utusan dari kerajaan Pagaruyuang termasuk anggota Basa Ampek Balai. Namun Sutan Muniang
Alamsyah berikut seorang cucu perempuannya berhasil menyematkan diri dari malapetaka dahsyat itu dan mengungsi ke Sijunjung.
Sementara Sutan Alam Bagarsyah bergegas berangkat meminta bantuan pertolongan kepada Inggeris di Padang.

Nah, ini adalah contoh kedua dimana agama Islam telah dijadikan sebagai kedok atau panglima untuk menghakimi dan memaksakan
keyakinan terhadap seseorang. GerakanPaderi sesungguhnya tidak lagi bertindak menurut apa yang diajarkan Al-Qur�an� Laa ikraha
fiddien Tidak ada paksaan dalam agama. Yang mana petunjuk dan juga kesesatan sedemikian jelasnya untuk diperbedakan . Pada ayat yang
lain juga disebutkan bahwa � Barangsiapa yang ingin beriman silakan beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir juga silakan. Tidak
ada diantara manusia ini , siapapun dia yang mendapat mandat dari Allah Ta�ala untuk menghakimi keyakinan dan kepercayaan orang
lain.

1 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah di Sumatera Barat


Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah di Sumatera Barat - Legenda ikan sakti sungai janiah satu cerita berasal dari masa kanak-kanak saya. Cerita legenda ini dulu didongengkan nenek namun tempatnya masih ada sampai sekarang. Saya pikir cuma sedikit tempat terjadinya cerita legenda yang masih bisa dikunjungi. Beruntung saya karena sungai janiah dekat dari rumah, kampung halaman kedua orang tua di Bukittinggi – Sumbar sana.

Tempat yang bernama Sungai Janiah itu adalah sebuah kolam. Merangkap nama sebuah jorong (kampung) dalam Kanagarian Tabek Panjang – Kecamatan Baso, Bukittinggi. Di kolam itu hidup ratusan ikan warna merah dan abu-abu. Sampai sekarang tidak jelas jenis mereka.Penduduk cuma menamainya sebagai Ikan sakti. Disinilah awal cerita legenda ikan sakti sungai janiah yang terkenal itu bermula.

Asal Muasal Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah

Bukan karena bisa hidup di darat mengapa ikan tersebut dinamai demikian. Ikan-ikan yang panjangnya sekitar 50 CM itu dipercaya berasal dari manusia dan Jin. Karena itu hingga sekarang tak seorangpun berani mencoba memakannya.Kalaupun nekat memakan legenda ikan sakti sungai janiah ini siap-siap saja kutukan yang menanti: Akan sakit sampai dijemput maut.

Kisahnya :

Kisahnya berawal dari perseteruan antara jin dan manusia. Suatu masa ketika rakyat Minangkabau kian berkembang biak, gunung Marapi sebagai tempat asal nenek moyang sudah tidak memadai lagi untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka membutuhkan wilayah baru. Maka suatu hari berangkatlah 22 rombongan menuruni Marapi, menyisir lembah, menginap dalam gua sempit sampai akhirnya bertemu daerah yang cocok dibuka sebagai kampung baru. Daerah itu tak jauh dari Bukit Batanjua. Sayangnya wilayah tersebut sudah ditempati jin. Maga agar bisa hidup berdampingan dengan damai mereka membuat kesepakatan.

Isi kesepakatan Manusia dan Jin:

Jika manusia membutuhkan kayu untuk membangun rumah, serpihan pertama dari tebangan kayu harus dilemparkan kemana kayu akan direbahkan. Itu sebagai isyarat bagi bangsa jin agar menghindar dari tempat tersebut. Namun manusia ada yang gegabah. Suatu hari saat menebang mereka melupakan kesepatakan yang telah dibuat. Akibatnya beberapa anak jin celaka karena tertimpa kayu.

Tentu saja perbuatan melanggar sumpah ini membuat marah ninik mamak para jin. Sejak itu mereka memusuhi manusia.

Kemudian terkisah sepasang suami istri yang suatu hari pergi ke ladang dengan meninggalkan anak balita mereka di rumah. Saat kembali mereka terkejut karena sudah tak mendapat sang buah hati. Walau sudah dicari kemana-mana, anak tersebut tak kunjung bersua. Pada malam ke-3, ibunda si bayi bernama yang bernama Banun bermimpi bahwa anaknya berada di bawah urat kayu yang tumbuh dalam genangan air yang cukup besar. Untuk menemukan anak tersebut dia harus membawa beras sangrai dan nasi kuning.

Besoknya dengan membawa syarat yang ditentukan Bu Banun mencari kolam jernih yang mengalir ke sungai yang persis terdapat dalam mimpinya. Tempat itu ternyata di Sungai Janiah (sungai jernih) sekarang. Namun malangnya yang ditemui ditempat itu hanyalah dua ekor anak ikan. Yang seekor jelas ujudnya kerena penjelmaan dari anak Bu Banun. Yang seekor lagi bayangannya samar karena jelmaan anak jin.

Setelah membaca kisah diatas dalam buku foto kopian yang ditulis oleh H.A. Yang Basa, saya jadi bertanya sendiri? Mengapa anak jin ikut menjelma jadi ikan? Kalaulah jin yang merubah ujud anak Bu Banun jadi ikan, mengapa mereka juga merubah ujud anaknya sendiri? Bukankankah yang melanggar sumpah adalah manusia? Atau mungkinkah anak jin yang celaka karena himpitan kayu itu berubah jadi ikan, terus anak Bu Banun dijadikan ikan pula untuk menemaninya?

Karakter dari Ikan Sakti:

1. Kalau dipegang baunya amis seperti bangkai
2. Makanannya adalah apa saja yang dimakan manusia
3. Kalau sakit akan diobati nasi kuning yang sudah dibacakan mantera
4. Kalau mati akan dikuburkan
5. Siapa saja yang memakannya akan menderita seumur hidup

Mata Air di Bukit Batanjua:

Air kolam tempat tinggal ikan sakti berasal dari mata air yang datang dari Bukit Batanjua. Ditempatnya yang asli, diatas bukit, mata air ini dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit. Selain itu sering juga digunakan untuk mendapat keturunan. Kalau saat mengambilnya terlihat gelang itu pertanda akan mendapat anak perempuan. Tapi kalau keris yang terlihat akan mendapat anak lelaki.

Karena itu mengambilnya harus bijak, air yang memancar dari sela-sela batu hanya boleh diambil menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa.

Kearifan Lokal:

Cerita ikan sakti dan mata air di Bukit Batanjua, saya pikir, merupakan salah satu usaha dari nenek moyang agar kita arif menghadapi alam. Kalau lah ikan-ikan dalam sungai janiah tak dilindungi cerita mistis, pasti mereka sudah lama punah. Begitu pula mata air yang kalau diambil sembarangan pasti akan keruh yang berdampak terhadap kelangsungan hidup ikan-ikan di bawahnya.

Bagaimana dengan dirimu temans. Punya cerita legendakah di masa lalu yang tempatnya masih bisa dikunjungi hari ini?
sungai janiah3 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
View dari lereng Bukit Batanjua
 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
View dari lereng Bukit Batanjua
 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
Kolam Ikan Sakti
 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
Ikan Sakti
 Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah
Berebut Menyambar Pensi

Rabu, 02 Oktober 2013

0 ASAL USUL DANAU MANINJAU



Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!
Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.
“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”
“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”
“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”
“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.
Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.
“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”
“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”
Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.
Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karenahal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.
Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.
“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.
“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.
“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.
Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.
Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.
“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.
“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.
“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.
“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.
“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.
“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.
Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.
“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.
“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.
“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.
“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.
“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.
“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.
“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.
“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.
“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.
Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.
“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.
“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”
“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.
Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.
“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.
“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.
Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.
“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.
Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.
“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.
“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.
Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.
“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.
Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.
“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.
“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.
“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.
“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.
Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.
Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.
“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.
Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.
“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”
Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.

Selasa, 01 Oktober 2013

0 Tips setelah putus dari mantan kekasih biar tak terlihat GALAU.

Buat kalian kalian semua kanca muda khususnya remaja anak baru gede atau anak baru labil atau apalah anak-anak yang telah mengalami masa pubertasnya diputusin sama orang yang kamu (sayang). Terus kamu bingung mau berbuat apa? Fenomena yang ada sih kadang ada yang depresi, ada juga yang silet” tangannya, ada macem-macem lah pokoknya. Eits tapi jangan deh jangan sakiti dirimu walaupun kamunya masih sayang tapi kamu bingung mau nyembunyiinnya gimana tenang aja berikut ini ada tips-tipsnya biar kamu gak galau risau tersedu-sedu. Apa aja tips-nya? Yuk simak baik-baik yang satu ini.
1. Gak ganti nomer, gak delcont dan gak ngeblock. Kontak mantan tetep ada, tapi tetep gak dihubungin. Meski tangan gatel setengah mati pengen SMS/chat.
2. Tetep update status di socmed yg isinya tentang seneng-seneng mulu. Meski semuanya cuma tipu akting belaka, dan ngetiknya sambil sesenggukan karena berharap dimention. atau sambil nyesek gak karuan.
3. Gak sengaja ketemu mantan? Sapa dia duluan, basa-basi sok asik aja dikit gapapa, tapi abis itu pergi jauh-jauh. Sebelum airmatamu mulai jatuh.
4. Mantan sms/ngechat/mention duluan? Jawab dgn baik dan ramah, tapi jangan tanya balik ke dia. Meski dalem hati pengen tau gimana kabarnya atau pengen kepoin tentang dia.
5. Mantan ngajak balikan? Ingat, balikan adalah resume, bukan restart. Tolak dgn halus,dan selamat, skrg mantanmu yg susah move on dari kamu.(joget harlem shake)
6. Berusahalah mencari kesibukan. Ya walaupun kesibukan move on, tapi kesibukan juga buat mencari penggantinya. Jangan mau terus”an stuck, ingat hidupmu tak boleh terbelenggu dengan satu orang aja.
7. Lampiaskan kegelisahan, kegundahan, kerisauan, kegalauanmu untuk hal-hal yang positif buat dirimu. Bisa dimulai dari hobby atau kesibukan yang amat sangat menyita waktumu. Misal; MAKAN. Ini adalah salah satu cara yang ampuh dan akurat untuk meluapkan isi hatimu, jika perut kenyang hatipun senang. Dan orang yang melihat kamu makin gemuk itu adalah asumsi yang sangat baik sebab dia berfikiran setelah kamu putus dari si dia kamu jadi lebih berisi dan terawat untuk badanmu bukan malah tambah sakit, putus asa, minum baygon dan lain sebagainya. Itu hanya sia-sia karena kamu semakin menyakiti dirimu sendiri tentu kamu juga tak dapat mengembalikan si do’i ke sampingmu lagi karena dia terlanjur ilfeel bila tau mantannya gila.
8. Berdo’a, Ini tips yang terakhir agar kamu senantiasa diberi lindungan oleh Tuhanmu. Berdo’a semoga diberi yg lebih baik dari dia. Dan jangan lupa bersyukur bila kamu tak bersamanya lagi sebab itu artinya Tuhan masih sayang kamu dan nunjukin kalau dia bukan yang terbaik buatmu. Ambil hikmah dari setiap kejadian.
Semoga bermanfaat bagi kamu yang masih sekarang masih terbayang-bayang dengan yang namanya ‘mantan’
http://selvinasnita.blogdetik.com