Minggu, 06 Oktober 2013

0 Memahami Diri: Mengapa Hati harus Marah dan Kecewa?

Mengapakah hati harus Marah?
Kadang aku marah, kecewa, karena tak mendapatkan hak atas semestinya. Tapi juga aku merasa sedih, menangis, karena mengapa aku harus merasa marah atau kecewa. Apa yang tidak kita dapatkan tidak menjadi keharusan untuk merasa dimiliki. Barangkali ada sisa-sisa usaha yang kurang optimal dilakukan hingga penghargaan itu tidak layak mampir menjadi miliki kita. Mengapa harus marah/kecewa?
Kadang juga aku merasa sedih, menangis, bahkan hampir limbung menerima ketidakadilan yang hinggap padaku. Seolah-olah aku adalah pidana yang dihukum tanpa melalui proses hukum. Tidak jelas apakah aku bersalah atau aku hanya kambing hitam perkara. Tak masalah bila aku begitu. Tapi yang menjadi siksa adalah ketika batin ini memaksa jawaban "mengapa?" Alasan-alasan apa aku menerima semua itu? Mengapa? Aku merasa dihukum rajam oleh pertanyaan mengapa aku itu begitu bodoh!
Marah atau kecewa, sedih atau menangis, bukan satu-satunya alasan untuk menjelaskan kebodohanku. Penjelasannya mungkin menuju ke arah bijak hati. Menerima lapang dada, sabar pada yang belum didapat, namun tidak menganggap semua yang kita miliki adalah hal mutlak milik kita. Kesadaran akan itu, muncul ketika ada perkara yang merugikanku. Perkara yang datang kemudian meminjamkan perasaan untuk mengoreksi keberadaan kebeneran hati. Mengapa aku harus kecewa lalu marah? Mengapa aku bersedih dengan semua ini? Sebelumnya, bagaimanakah aku sebelum sampai pada perkara yang merugikan ini?
Alasan bijak mungkin berpangkal pada hukum sebab dan akibat. Boleh jadi apa yang tidak menjadi hakku sekarang adalah akibat dari sebab dulu aku bermalas-malas ria, asyik menyenggamai ketidakseriusan, bahkan asyik acuh pada hal yang penting dan tidak boleh terlewatkan. Maka, alasan bijak menerima semua itu seakan dalam keterpaksaan sabar. Menerimanya dengan meninggalkan amarah dan kekecewaan. Mengapa sampai begitu? Itu adalah pertanyaan untuk perasaan ketika menghadapi perkara yang seteru.
Predikat bodoh tidak layak aku rawat. Mestinya aku ajar biar jiwa ini memang penyabar. Tidak menggesek rasa sabar itu dengan perkara sebab atau akibat yang membodohkan. Aku boleh saja tersiksa asal tidak karena perkara salahku yang memang nyata telah menjatuhkan perkara. Azab, mungkin itu sebutannya. Sementara aku menganggap semua itu ujian yang mempelajarkan diri. Sebab ada hal yang mendidik diri menjadi lebih baik dari yang telah terjadi. Tapi, silakan saja ketidakadilan itu jatuh padaku asal yakin di hati bahwa apa yang tidak diperoleh saat ini akan diganti dengan sesautu yang lebih baik lagi. Tidak akan menjadi bodoh bila aku tuluskan keikhlasan melakukan sebab yang menjadikan Rabb-ku jatuh menyayangiku dengan cara-Nya.

0 Comments

Bagaimana Pendapat Anda ?