Minggu, 29 Juni 2014

0 PERMAINAN TEMPO DULU YANG HAMPIR PUNAH

Banyak sekali permainan tradisional yang mungkin selama ini udah kamu lupakan. Tapi mudah-mudahan dengan hadirnya artikel ini kamu bisa mengenang dan mengingat masa kecilmu dulu. hehe...

1. Main Kelereng

Kelereng (atau dalam bahasa Jawa disebut nèkeran) adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Kelereng adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam, umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung.

Orang Betawi menyebut kelereng dengan nama gundu. Orang Jawa, neker. Di Sunda, kaleci. Palembang, ekar, di Banjar, kleker dan di bagian Riau Pesisir disebut permain Guli. 
2. Main Karet

Karet gelang juga bisa dijadikan mainan yang asyik, antara lain jepret-jepretan dengan karet gelang. Kulit manusia yang terkena jepretan karet gelang biasanya tidak apa-apa, tapi bila dijepretkan ke binatang, muka orang atau terkena mata bisa berbahaya.

Karet gelang juga bisa dilontarkan dengan pistol-pistolan buatan sendiri dari kayu bekas yang ringan atau sumpit sekali pakai. Di Jepang bahkan ada kejuaraan nasional menembak karet gelang.
Selain itu, “LOMPAT TALI” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali(atau dalam bahasa jawa disebut SEMPRENG) ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sekarang, “main karet” mulai dilirik kembali antara lain karena ada sekolah dasar menugaskan murid-muridnya membuat roncean tali dari karet gelang untuk dijadikan sarana bermain dan berolahraga. 



3. Enggrang

Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama berbeda-beda seperti : sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau.

Egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20cm. Cara memainkannya adalah dengan berlomba berjalan menggunakan egrang tersebut dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya. Orang yang paling cepat dan tidak terjatuh dialah pemenangnya.

main enggrang
4. Main Engklek atau Engkek-Engkek

Permainan dengan cara membuat kotak-kotak di jalan atau lantai kemudian melewati kotak dengan cara melompat dengan kaki sebelah, sambil mengambil gacuk.

Itulah jenis permainan yang dapa menyatukan kebersamaan sebelum adanya Playstation, Game Online dan lain-lain hanya ada Gameboot Tetris waktu itu, itupun tak semua memilikinya karena tak terjangkau harganya. 


5. Galah Panjang

Galah panjang adalah sebuah permainan meloloskan diri dari para penjagaan untuk permainan ini biasadilakukan bulan ramadhan selepas solat subuh berjamaah, permainan ini menggunakan garis di jalanberaspal (kalau subuh jarang sekali jalan digunakan) jadi menggaris aspal biasa digunakan denganmenaburkan pasir atau menggaris menggunakanbatu kapur.
 











6. Meriam atau Legum

       Legum (orang jawa, khususnya jawa timur biasa menyebutnya dengan sebutan "bumbung") adalah permainan musiman yang terbuat dari Bambu yang panjangnya kira-kira 2 meter atau 1 meter setengah yang dibolongin ruasnya dari mulai ruas pertama, kedua dan seterusnya namun untuk ruas yang terakhir tidak dibolongkan, bahan bakarnya bisa minyak tanah, dan juga bisa menggunakan karbit dengan air,

Legum dimainkan saat bulan ramadhan dan berakhir saat lebaran tiba, untuk bambu yang digunakan tidaklah bambu sembarangan melainkan tebalnya kurang lebih 1 cm dan untuk mendapatkan suara yang khas dicari bambu yang sedikit melengkung. 



6. Gasing

    Permainan gasing (atau oarang jawa biasa menyebutnya kekean). permainan ini sangat mengasyikkan tpi juga harus berhati-hati. kekean ini terbuat dari kayu yang kuat dan lunak, seperti kayu pohon pete. cara bermain menggunakan tali rafia yang dikepang terlebih dahulu.
Gasing


7. Benteng-Bentengan

      Permainan bentengan adalah salah satu dari permainan tradisional. Di daerah Jawa Barat permainan ini lebih dikenal dengan nama rerebonan, sedangkan di daerah lain permainan ini lebih dikenal dengan nama prisprisan, omer, dan jek-jekan. Dalam permainan bentengan sekelompok anak-anak membagi diri menjadi dua kelompok yang akan saling berlawanan. Setelah terbentuk dua kelompok yang saling berhadapan, mereka mencari posisi masing-masing sebagai basis mereka atau yang di sebut dengan benteng. Biasanya sebuah tiang atau pilar. Permainan ini tidak menggunakan alat apa pun. Masing-masing benteng kedua belah pihak harus terletak agak berjauhan dan dapat dilihat oleh satu sama lain.

Biasanya permainan ini dimulai dengan majunya salah satu pemain daribentengan-1 salah satu benteng untuk menantang para pemain dari benteng lawannya. Pemain dari benteng lawannya akan maju untuk mengejar. Jika pemain dari benteng penantang ini dapat terkejar dan dapat disentuh oleh pemain lawan, maka pemain penantang dijadikan sebagai tawanan. Biasanya pemain penantang akan berlari menghindar atau kembali ke bentengnya sendiri. Teman-teman dari benteng penantang ini, akan mengejar pemain dari benteng lawan yang memburu tadi. Demikian seterusnya sehingga terjadi saling kejar mengejar antara pemain dari kedua benteng. Sering kali terjadi adalah salah satu benteng kehabisan pemain karena ditawan dan bentengnya dikepung oleh lawannya. Para pengepung ini, dapat membebaskan teman-temannya yang menjadi tawanan. Setelah dibebaskan, para mantan tawanan ini dapat turut mengepung benteng lawannya. Sisa pemain dari benteng yang terkepung, dapat mengejar para pengepung untuk mempertahankan bentengnya, atau balik mengirimkan penyerang ke benteng pengepung jika benteng para pengepung tidak ada penjaganya.



8. Petak Umpet

    Petak umpet atau dalam bahasa Inggris Hide and Seek adalah salah satu permainan tradisional anak-anak yang sudah sangat terkenal, dalam bahasa jawa disebut "singidanan". Selain di Indonesia permainan ini juga sangat digemari oleh anak-anak diluar negeri. Untuk memainkan permainan ini, kita membutuhkan banyak orang minimal 4 atau 5 orang. Permainan ini sangat populer dibanding permainan tradisional yang lain karena permainan ini sangat mengasikan dan juga banyak manfaatnya.

Sekedar pemberitahuan kalau permainan ini ditempat saya (Bagansiapiapi) namanya Ondok-Ondok hehe.
Petak Umpet



9. Ketapel

  ketapel, dalam bahasa jawa disebut "setiep"
Sebenarnya ketapel ini bukan permainan, tetapi anak-anak sewaktu saya kecil seringkali memiliki ketapel untuk bermain dan berburu burung. Permainan dengan ketapel ini adalah dengan lomba menembak sasaran seperti kaleng bekas atau buah.

Ketapel terbuat dari cabang pohon dan dipotong membentuk huruf “Y”, peluru ketapel dapat dengan menggunakan batu kerikil atau buah jambu yang masih kecil. Untuk pelontarnya digunakan karet getah yang di kepang dan diikat di masing2 cabang ketapel, batu yang menjadi peluru ditahan di sebuah lembaran karet atau bahan kulit.

Lain daerah lain pula nama istilahnya, tapi disini saya cuma tau nama dari kampung saya yaitu Main Cupang.
cupang
10. Patuk Lele

  patuk lele, atau biasa disebut"jentiek"
Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu/ranting kayu kecil yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30-40 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh diantara lubang yang telah di buat ditanah (bisa juga pakai ganjalan batu) lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir.

Ini salah satu permainan favourite saya waktu kecil, tapi untuk aturan permainannya saya sendiri sudah lupa. Maklumlah udah ada sekitar 15 tahun yang lalu mainnya hehe. sekarang kan dah tuir(tua) haha
patuk lele
patuk lele2
11. Main Pecah Piring

Main pecah piring disini bukan berarti memecahkan piring yang biasa kita gunakan untuk makan tapi piring disini dibuat dari tutup botol yang diratakan dan dilobangi tengahnya pake paku dan ada juga yang menggunakan tempurung kelepa. Dalam permainan dibutuhkan pecah piring(tutup botol yang sudah dilobangi) sebanyak 10 – 20 keping tutup botol, 1 Bola Kasti(ada juga yang pake bola lain), Lidi atau kawat yang ditancapkan ketanah untuk menyusun piringan tutup botol ketika main dan orangnya minimal 6 orang yang akan dibagi menjadi 2 kelompok.

Susun pecah piringnya didekat lidi/kawat, trus 1 orang menjaga pecahan piring untuk menangkap bola ketika regu lawan memecahkan tumpukan piring yang tersusun. Setelah dipecahkan, sipemecah berlari menghindari lemparan bola dari regu yang jaga. ya sampai situ aja saya ingat, dah pada lupa..
pecah piring



12. Tembakan Bambu
orang jawa biasa menyebutya "tulup"
bambu
Permainan yang paling digemari anak kecil terbuat dari bambu dengan peluru tunas jambu atau kertas yang dibasahi. saya lupa dikampung saya ntah apa namanya, kalau ditempat lain ada yang nyebutnya permainan cetoran dan sentokan.
tembak bambu



13. Sambar Elang

  aku biasa menyebutnya "sogo telik"
Permainan ini biasanya dimalam hari terutama pada bulan Puasa setelah selesai Sholat Tarawih berkumpul ramai-ramai untuk bermain, kenapa mereka memilih malam hari?? Karena dulunya anak-anak sekolah pada libur penuh selama bulan Puasa jadi gak perlu tidur cepat-cepat.

Permainan ini terdiri dari 2 tim/kelompok, dimana tim 1 lari dan bersembunyi didalam kegelapan dan tim 2 harus mencari dan menangkap semua anggota tim 1. Jika sudah ada anggota tim 1 yang tertangkap, temannya yg belum tertangkap masih bisa membebaskan teman setimnya ini dengan cara berlari menyambar temannya yang udah tertangkap tadi agar yang tertangkap bisa lari dan sembunyi lagi. ya begitulah seterusnya…

Sekarang mah mana ada yang berani main ngumpet gitu malam hari…

14. Main Simbang atau Bekel

Besimbang atau bermain simbang adalah suatu permainan yang terdapat di Sedanau, Kepulauan Riau. Besimbang mirip dengan bekel, hanya saja, bola “induk” yang digunakan bukanlah bola bekel yang dapat memantul, melainkan terbuat dari kulit-kulit kerang ataupun kulit siput yang bagus dan licin. Permainan ini telah ada sejak zaman kekuasaan Sultan Riau pada abad XVII.

Jumlah pemain besimbang 2–6 orang, dengan usia 6–7 tahun. Permainan ini milik kaum perempuan. Artinya, hanya kaum perempuan sajalah yang memainkannya.

Ada dua cara dalam bermain simbang, yaitu: main nyurang dan main berundung. Main nyurang, artinya bermain seorang-seorang (individual) dengan jumlah pemain 2–4 orang. Sedangkan, main berundung adalah bermain dengan sistem beregu yang terdiri dari dua regu dan jumlah pemainnya 3–6 orang. Aturan mainnya, baik itu main nyurung maupun berundung nyaris sama, yaitu seseorang harus melambungkan “bola induk”, kemudian mengambil buah simbang yang berjumlah 5–6 buah. Sekali melambungkannya pemain diharuskan mengambil buah simbang yang jumlahnya bertambah banyak (lambungan yang pertama sebuah; kedua dua buah; dan seterusnya). Jika seluruh simbang telah terambil, maka yang bersangkutan mendapat angka. Sebaliknya, jika sedang melambungkan “bola induk” tetapi tidak berhasil mengambil simbang yang ditentukan, maka dia dinyatakan des dan digantikan oleh pemain lainnya.
simbang

15. Layang-layang

Ada catatan yang menyebutkan bahwa permainan layang-layang telah ada di Cina sejak tahun 2500 Sebelum Masehi. Konon, layang-layang pertama berasal dari caping petani Cina yang melayang karena diterbangkan angin. Namun baru-baru ini telah ditemukan lukisan orang yang sedang bermain layang-layang pada dinding gua di daerah Sulawesi Tenggara. Gua ini diperkirakan pernah ditinggali manusia suku Muna pada zaman batu.
Layang-layang tradisional suku Muna bernama “Kaghati”. Layang-layang ini masih dibuat hingga sekarang, lo. Kaghati terbuat dari daun ubi hutan yang disebut kolophe dan bambu rami. Benangnya terbuat dari serat nanas. Kaghati sering mengikuti festival layang-layang nasional maupun festival internasional. Kaghati pernah mendapatkan penghargaan dari kalangan pecinta layang-layang sebagai layang-layang paling alami yang masih bertahan hingga saat ini.

Layang-Layang terbuat dari lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara. Lembaran tipis ini terhubungkan dengan tali atau benang sebagai pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pembumbungnya.














     Dijaman sekarang ini semua udah pada berubah, sebagian besar anak-anak sudah canggih lebih memilih main hp, Play Station dan Didepan komputer.

Main HP




Main Play Station
Main PS
  sumber. http://belajarbersamamisbakhul.blogspot.com

0 Comments

Bagaimana Pendapat Anda ?